Shaqiri, Xhaka dan Keragaman Budaya Masyarakat Swiss

0
133
Shaqiri, Xhaka dan Behrami [Foto: Squawka]

Oleh: Tedi Kholiludin

Tak hanya soal jam tangan yang bisa kita sajikan sebagai bahan obrolan tentang Swiss. Juga bukan hanya ihwal kabar jika presiden pertama Indonesia, Soekarno, memiliki dana di Bank Swiss. Pun, bukan soal keindahan Pegunungan Alpen yang layak didedah. Di lapangan hijau, negara yang jumlah penduduknya lebih sedikit satu juta dibawah Jakarta, juga menjadi magnet yang menarik bagi objek percakapan.

Ada banyak bahan tentang mereka selain prestasi dan perkembangan sepakbolanya yang semakin menggeliat. Di level junior, tahun 2009, tim nasional Swiss berhasil menjadi kampiun setelah mengalahkan juara bertahan Nigeria. di penyisihan, Brazil dan Neymarnya digulung Xerdan Shaqiri dan kawan-kawan. Swiss menjadi langganan baru negara Eropa di gelaran Piala Dunia setidaknya di 3 kejuaran terakhir (2010, 2014 dan 2018).

***

Sejarah Swiss modern, laiknya beberapa negara di Eropa, merupakan negara yang menghadapi situasi multikultur. Kehadiran imigran-imigran muslim serta budaya yang menyertainya, menjadikan masyarakat Swiss menghadapi kenyataan kebudayaan baru yang kompleks. Ada komunitas masyarakat muslim yang mendirikan masjid dengan menara yang tinggi, penggunaan pengeras suara, wanita yang memakai burka dan lainnya.

Tahun 2015, Kosovo (2353) dan Syria (1736) adalah dua negara muslim terbesar yang merupakan asal kelahiran para imigran. Di luar dua negara itu, imigran berasal dari Afghanistan, Somalia, Turki, Tunisia dan Maroko. Jika dijumlah, seluruh penduduk Swiss yang merupakan imigran muslim ini sejatinya tidaklah besar, hanya 11,6 %.

Keadaan tersebut, bagi beberapa kalangan politisi konservatif, tetap menjadi bahan perhatian yang cukup serius. Kalangan partai nasionalis serta partai konservatif, kata Jurnalis Daniel Amman, mengkhawatirkan terjadinya, meski agak berlebihan, “Creeping Islamization,” atau Islamisasi Merayap di Swiss. Gelombang pertama imigran muslim baru terjadi pada 1960. Kehadiran mereka awalnya hanya untuk urusan bisnis dan tidak dalam waktu lama. Sampai kemudian berkembang dengan pesat, dan gelombang yang deras mengalir dari pelbagai negara muslim, terutama daerah-daerah yang didera konflik hebat.

Masih kata Amman, ini sebenarnya tantangan bagi masyarakat Eropa, atau dalam konteks yang lebih kecil, Swiss. Negara ini bisa mengawali untuk melakukan manajemen keragaman. Tidak ada negara di wilayah Jerman dan sekitarnya yang semultikultur Swiss. Diluar 11,6 % imigran muslim, jumlah seluruh pendatang adalah 1.7 juta atau 22 persen. Islam (dengan 150 masjid di seluruh negara), merupakan agama terbesar kedua setelah Kristen.

Keputusan untuk melarang pembangunan minaret tahun 2009 memang tidak bisa dijadikan sebagai solusi atas persoalan integrasi umat Islam di Swiss. Tetapi, percakapan di ruang publik tentang bagaimana mengelola keragaman di Swiss sudah dimulai dalam isu yang sangat sentimental laiknya agama. Anggota parlemen Oskar Freysinger, seperti dikutip BBC menolak bahwa yang terjadi adalah sebuah praktik diskriminasi. Ia katakan, menghormati Islam dan Muslim sebagia manusia, tetapi ia punya sejumlah pertanyaan tentang hukum Islam, dan tujuan-tujuan politis dari agama ini.

***

Jika kita cermati komposisi latar belakang kultural di tim nasional Swiss saat ini, maka disanalah situasi multikultur tercermin. Shaqiri, Granit Xhaka dan Valon Behrami lahir dari keluarga Kosovo. Haris Seferovic adalah nama berikutnya. Keluarganya berasal dari Sanski Most, Bosnia-Herzegovina, yang bermigrasi ke Swiss pada akhir 1980-an. Seferovic adalah pahlawan yang mengantarkan La Niti (julukan timnas) meraih gelar kampiun piala dunia U 17 pada 2009. Seperti halnya Shaqiri, Blerim Dzemaili pun adalah keturunan Albania.

Di luar nama-nama diatas, beberapa pemain lain merupakan keturunan Afrika seperti Manuel Akanji (Nigeria), Johan Dojourou (Pantai Gading), Denis Zakaria (Sudan Selatan), Spanyol-Chili (Ricardo Rodrigues) dan lainnya.

Perayaan gol Shaqiri dan Xhaka ke gawang Serbia dengan menyilangkan tangan seperti membentuk kepala burung elang (lambang negara Albania) memang memantik kontroversi. Pendukung Swiss sendiri terbelah, ada yang menyayangkan tapi ada juga yang memakluminya. FIFA urung menghukum keduanya dengan larang bertanding, hanya denda yang jumlahnya mungkin tak terlalu besar.

Selebrasi itu sendiri, dari sudut pandang emik, rasa-rasanya sesuatu yang memang bisa dimengerti. Kerinduan akan kampung halaman, tempat kelahiran, memantik siapapun untuk melakukan apa saja. Ada latar psikis yang sangat spesifik. Shaqiri dan Xhaka punya kesempatan melakukannya di lapangan hijau, tepat di hadapan Alexander Kolarov dan kawan-kawan. Pada Euro 2016, Shaqiri mencetak gol indah ke gawang Polandia untuk memperpanjang nafas, meski kemudian kalah melalui adu penalti. Tapi, Shaqiri tak melakukan selebrasi seperti lawan Serbia. Jadi, selebrasi itu adalah tentang Shaqiri, Albania-Kosovo dan Serbia.

Bagaimana kemudian mereka memaknai eksistensinya sebagai warga negara Swiss?

Shaqiri, Behrami dan Xhaka pernah menandatangani petisi untuk mendukung Kosovo tampil di gelaran Kualifikasi Piala Eropa atau Piala Dunia. Shaqiri tak menampik jika satu waktu tim nasional Kosovo memanggilnya pulang untuk memperkuat negaranya. Di sepatunya, Shaqiri selalu menempel tiga bendera, Swiss, Albania dan Kosovo.

Fenomena pemain-pemain keturunan yang ada di Swiss memunculkan wacana publik tentang bagaimana migrasi, politik, identitas dan juga nasionalisme. Pengertian nasionalisme sebagai paham yang lahir dari latar belakang masyarakat yang memiliki kesamaan sejarah, latar belakang, bahasa dan sebagainya perlu dikaji ulang. Harapan Gellner bahwa sebagai konsep politik, nasionalisme sebagai prinsip dimana unit politik dan kebangsaan yang sebangun, haruslah ditinjau ulang. Agak rumit memang jemalinnya. Terkadang, jika dibandingkan dengan konsep negara, pengertian kebangsaan atau nasionalisme sebenarnya tidak terlalu mementingkan dimensi politiknya. (Oomen, 2009).

Saya teringat komentar Abas Suan, pemain muslim keturunan Arab yang ada di timnas Israel. Dia bilang, selagi saya ber-KTP Israel, maka saya adalah warga negara Israel. Keadaan ini yang barangkali juga perlu diperhatikan oleh mereka yang hidup, bekerja dan mendapatkan perlindungan secara politik di sebuah tempat. Persis seperti pepatah lama, When in Rome, do as the Romans do. Tentu dengan segala negosiasi yang tak mudah.

Namun, di sisi lain, salah satu hasil dari survey Pew Research menunjukkan keadaan masyarakat Swiss yang sebagian besar tidak tahu banyak soal Islam. Dalam survey bertajuk Being Christian in Western Europe 2017, 62% orang Swiss tidak tahu banyak atau tidak tahu sama sekali tentang Islam. Opini masyarakat Swiss terbagi antara memahami bahwa Islam kompatibel dengan nilai dan budaya mereka (48%) dan tidak cocok dengan tradisi Swiss (42%). Bahkan, 21 persen diantaranya percaya kalau dakwah Islam itu mengajarkan kekerasan.

Dialog dan pemahaman terhadap kebudayaan baru, dengan begitu, menjadi sebuah kebutuhan bersama. Tidak hanya dari yang selama ini menjadi “tuan rumah,” tetapi juga dari kelompok yang berpindah.

Perayaan gol Shaqiri dan Xhaka awalnya memang menuai kecaman dari fans Swiss sendiri. Tapi, bukan tidak mungkin, situasi tersebut akan memunculkan rasa ingin tahu yang dalam dari masyarakat Swiss tentang Islam, latar belakang budaya, politik, konflik dan seterusnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here