Sidharta dan Pohon Bo

0
42

Oleh: Sumanto Al Qurtuby

Sebatang pohon bukan saja bisa dijadikan lambang sebuah ormas atau partai politik, tapi juga dapat dijadikan sumber dari segala hal yang kita anggap paling baik; ‘kebijaksanaan’. Konon, dalam keyakinan para pengikut Budha ada sebatang kayu yang dianggap sebagai ‘pohon kebijaksanaan’. Ya, Pohon Bo namanya. Persis di bawah Pohon Bo inilah, di abad ke-6 SM jauh sebelum orang-orang Eropa mengenal dan mengagulkan term pencerahan (aufklarung), seorang pangeran ber-tafakur demikian keras. Sedemikian kerasnya, sehingga ia membiarkan tubuh rupawannya menjadi rudin. Maka, kisah sebatang Pohon Bo adalah juga perkabaran tentang pahit luka penegakan sebuah prinsip: prinsip untuk menyucikan diri dan mejauhi hingar binger dunia yang menyesatkan.

Kala itu, malam merangkak menjelang pagi, Pangeran Sidharta sudah sampai pada keputusan untuk segera meninggalkan istana –pesat segenap kuasa yang sekaligus gairah hidup yang senantiasa bertahan muda. Ia berkemas untuk mengakhiri sebuah riwayat. Ditatapnya Yoshodora –istri terkasih yang tetap lelah sambil mendekap ubun-ubun sang bayi buah cinta mereka- dengan segenap getaran yang penghabisan. Sejarah yang baru terbangun meski segera tumbang. Dibulatkannya tekad dalam hati yang bisa saja masih sangsi dan terus menahan kepergian. Dipanggilnya Chananah abdinya yang paling berbakti dan disuruhnya mengambil kuda kesayangan sang Pangeran.

Di malam yang masih tersisa persis ketika harum keputren menelikung yang gelap dan membangkitkan gairah lelaki, ditemani Chananah, Sidharta melangkah ke dalam hitam rimbun langit kapilawista ke arah Magada, mencari kebijaksanaan hidup, mengorek makna kepaling yang paling ujung. Hampir tidak ada geliat embun pagi yang terjaga oleh bunyi langkah-langkah kecil kuda tunggang sang Pangeran. Ia meninggalkan sejarahnya, memang, tanpa orasi selamat tinggal. Inilah kelam yang kelak oleh para pengikut Budha biasa disebut sebagai ‘malam pengingkaran mulia’. “Jangan lagi panggil aku Pangeran, wahai Chananah…,” ujar Sidharta, di suatu tempat sambil melepas abdinya itu kembali ke istana. Ia lantas melanjutkan perjalanan, sendiri.

Kita tahu, Sidharta Gautama –demikian nama lengkap Pangeran itu- telah melakukan ‘pengingkaran diri’ secara asketis setahun sebelum usianya mencapai tiga puluh. Total ia mencoba mengeringkan hati dari keinginan, memilih bulan yang sepi tanpa bara api yang menyengsarakan diri untuk membangun jiwa yang kukuh. Tiba-tiba terdengarlah suara ghaib: “Dari kebaikan akan lahir kebaikan. Dan, dari kejahatan akan datang kejahatan”. Mendengar suara itu, sontak satu malam Sidharta terlonjak. Di bawah Pohon Bo, ia mulai sadar bahwa kebijaksanaan nyatanya bukanlah suatu yang jauh tersembunyi di ujung pelangi atau di dalam samudera. Tapi, kebijaksanaan itu, sesuatu yang bersemayam di lekuk hati sendiri. Ketika itulah ia merasakan sebuah relasi baru akan terbentuk antara jata dan realita.

Dan, pagi pun segera datang dengan terang emas di wajah Sidharta. Ia telah menjadi orang ‘yang tercerahkan’, menjadi sang Budha yang kemilau justru karena kebersahajaannya. Jauh mendahului hiruk pikuk semangat aufklarung di akhir abad ke-18, para pengikut Budha telah mengenal konsep tersebut hampir tanpa sorak sorai. Budha –seperti dituturkan Fritjop Capra, seorang fisikawan Barat yang demikian terobsesi oleh Timur dalam The Tao of Physics- tidaklah tertarik untuk memuaskan keingintahuan manusia tentang asal muasal dunia, sifat-sifat Tuhan dan pertanyaan sejenis itu.

Secacara eksklusif, ia justru memprihatinkan nasib manusia: penderitaan dan frustasi kita di dunia. Ia telah memberikan tafsiran psikologis yang lebih segar dan humanis pada konsep-konsep tradisional India tentang maya, karma dan nirwana dalam menjelaskan cikal bakal penderitaan manusia sekaligus jalan untuk menyeberanginya. Maka, demikian Capra, doktrin Budhisme tidaklah bersifat metafisis, melainkan psikoterapis. Kisah asketisme Sidharta tentu saja tidak bisa disejajarkan begitu saja dengan lakon Arjunawiwaha dalam wayang Jawa. Sebab, pada Sidharta tidak ada imbalan senjata dan wanita di akhir cerita.

Lakon Arjunawiwaha barangkali justru jauh lebih memperlihatkan rasio instrumentalis, bahwa setiap pengorbanan diri yang memilukan seperti bertapa itu pasti aka nada imbalannya: senjata sakti dan wanita cantik yang merupakan lambang ‘kedunguan palugosentrisme’. Semakin keras orang menyengsarakan diri, semakin besar ganjaran yang akan diperoleh. Semakin besar biaya, semakin besar keuntungan. Pada Sidharta, yang ada hanya gairah untuk terus menerus mengoreksi diri. “Ia tidak terobsesi oleh hasrat untuk menjadi pemberantas kebatilan dengan kecakapan adimanusiawi,” terang Hikmat Budiman seperti dalam Matra, edisi Maret 1997. Ia justru berangkat dari keinsafan akan banyaknya carut marut pada nasib manusia.

Sidharta hidup pada pertengahan abad ke-6 SM. Ia persis besar dalam salah satu kurun sejarah yang memukau hingga kini, yakni sebuah masa yang dengan penuh bangga mengatakan kepada kita bahwa dalam buaiannya telah lahir sekian banyak orang suci: Confusius dari Tiongkok, Zarathustra di Persia atau Pythagoras dan Heraclitus di Yunani –orang-orang yang dengan penuh tenaga mengayunkan ‘tombak logos’ untuk mencoba mengusir ‘mitos’ dan lantas mendirikan mitos kembali- suatu zaman ketika bumi masih terlimpahruahi pesona dan rahasia. Sekarang, kita hidup dalam sebuah dunia yang seperti terkesan sangat disesali oleh Weber telah kehilangan sebagian atau bahkan semua pesona masa silam.

Akibatnya, serbuan gencar proyek modernisasi –terjemahan teknis dan sangat simplistis dari konsep pencerahan itu- agama, mistisisme, mitos, takhayul dan lain-lain menjadi sesuatu yang mesti kita cari. Sebab, memang sulit dibayangkan kita bisa hidup tanpa mitos (apalagi agama). Dalam banyak hal, mistisisme bahkan bisa menjadi sumber kepercayaan diri sekaligus harapan yang tak kunjung berkesudahan. Apa jadinya jika sejarah dihidupi oleh orang-orang tanpa harapan? Bisakah pula kita membayangkan ada sebuah peradaban yang dibangun tanpa mitos? Karena mistisisme telah raib dari hati sebagian cukup besar dari kita ia mejadi sesuatu yang langka. Dan karena ia langka, orang yang berhasil merampingkan jumlah dewa dan setan sehingga mistisisme kini menjadi ‘kampung sepi yang berangkat mati’.

Tapi, tidaklah dengan begitu berarti ia menjadi sesuatu yang dirindukan kembali: menyeramkan sekaligus mengundang? Yang terlihat paling jelas adalah gambaran tentang dongkel-mendongkel antarparadigma. Semakin gencar kita diharubirukan oleh rasionalisasi semakin kuat ajakan untuk kembali menengok wilayah non-rasional yang sempat kita tinggalkan meski belum jauh benar. Sebab, di bawah bentuk logika yang kita benarkan nisacaya tertinggal, seperti tesis Pareto, pelbagai residu sentiment irasional dan emosi yang kian menebal. Boleh jadi lantaran itu pula hingga hari ini kita cenderung semakin sering melihat orang yang terpikat pada ajaran-ajaran lama.

Layaknya Pangeran Sidharta, Richard Gere konon juga rela meninggalkan istri jelitanya, Cindy Crawford dan sebuah terjemahan materialis dari konsep surge, Hollywood untuk pergi ke puncak Tibet mencari kebijaksanaan dari patra Budhis, mencari cahaya yang bisa mencerahkan batin. Tapi, ia jauh lebih mirip Arjuna ketimbang Sidharta. Dan karena itu pula sangat boleh jadi ia cukup tahu diri bahwa di zaman ini toh tidak ada peluang untuk menjadi suci sepenuhnya. Sejarah dan hidup berjalan nyatanya tidak pernah sepenuhnya tunduk pada kesucian orang-orang bijaksana macam Sidharta. Sedangkan Budha sendiri mengajarkan bahwa tugas seorang bijak bukan sekadar mencari pencerahan bagi dirinya sendiri melainkan bagi yang lain. Budha tidak pernah berhenti setelah masuk Nirwana, tapi kembali ke bumi untuk menunjukkan langkah pembebasan bagi umatnya.

Perjumpaan Gere dan Budhaisme barangkali hampir sama dengan keterpesonaan Capra pada khazanah alam pikiran Timur, lebih merupakan satu proses dalam apa sang ego bersedia menerima ‘kelainan’ seperti ‘sisi lain’ dan bukan semata-mata hasil dari suatu politik representasi. Bahwa di samping Hollywood yang Barat dan Kristen masih sangat mungkin juga ada Barat yang Budha –yang oleh Barat terkadang begitu saja dikategorikan sebagai mistisisme- tanpa harus bersitegang. Pada dasarnya baik saintisme maupun mistisisme adalah metode kita membaca realitas. Keduanya memiliki hak yang sama untuk hidup, berkembang dan dianut dengan setia. Dengan ilmu pengetahuan, dunia boleh jadi menjadi lebih terjelaskan secara terang. Tapi dengan mistisisme, duni hadir di hadapan kita dengan segenap potensi dan vitalitas urbawinya yang mencengangkan.

Sementara ilmu pengetahuan menjadikan dunia lebih transparan dengan maksud agar sampai pada kita adalah dunia sebagai obyek yang harus ditaklukkan, mistisisme mengantarkan sebuah dunia yang tidak bisa ditaklukkan tapi hanya bisa diajak berdamai. Saintisme menjelaskan dunia, sedangkan mistisisme memamerkan segenap gairahnya. Keterpesonaan semacam yang tampak dari Gere atau Capra kepada Timur tentu saja tidak dengan sendirinya berarti bahwa Timur lebih benar. Sebab, pencarian atas pesona-pesona masa silam seperti itu juga merupakan bagian dari keseharian kita di sini, hari ini. Kita adalah bagian dari gerombolan yang senantiasa berpotensi untuk merasa rindu pada kampung sendiri yang disepikan oleh rasionalisasi seperti halnya setiap orang dari kita adalah bagian dari masa yang dengan antusias melahap siaran TV dan informasi sejagat yang membludak.

Maka, mungkin benar apa yang ditulis Capra. Katanya, “Ilmu pengetahuan sama sekali tidak membutuhkan mistisisme. Begitu pula, mistisisme tidaklah membutuhkan ilmu pengetahuan. Tapi kita membutuhkan keduanya.” Lantas, Sidharta bertafakur, merenung meditasi di bawah Pohon Bo tidak lain adalah untuk mendapatkan ilmu pengetahuan dan mistisisme, rasionalitas dan spiritualitas, akal dan budi dan seterusnya. Kita tak tahu persis seperti apa gerangan ‘pohon kebijaksanaan itu’. Segala ciptaan Tuhan pasti ada hikmahnya termasuk sebatang pohon. Sayang, jika sebatang pohon hanya dijadikan sebagai lambing ormas atau parpol apalagi sumber takhayul kebudayaan. [justisia edisi 18 tahun VIII/2000]
?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here