Sinar Damai di Sudut Kebon Dalem

0
119
Romo Budi P memberi sambutan dalam Halal Bi Halal Kebangsaan

Romo Budi P memberi sambutan dalam Halal Bi Halal Kebangsaan
Romo Budi P memberi sambutan dalam Halal Bi Halal Kebangsaan
Oleh: Munif Ibnu
Duduk lesehan di atas karpet warna cokelat, Selasa (12/8) malam, Aula Pastoran Santa Fransiscus Xaverius Kebon Dalem, Jalan Gang Pinggir No 62 Semarang, mendadak riuh oleh suasana gembira. Suara rampak rebana beragam jenis dengan pukulan yang tak sama dan dilengkapi lengkingan saxophone menambah kesejukan sinar harmoni yang makin terasa. Tepuk tangan kesenangan pun menggema.

Puluhan orang yang hadir mengikuti perayaan bersama ‘Halal bi Halal Kebangsaan’ ini pun saya percaya telah memiliki keinginan yang begitu kuat bahwa agama secara bersama-sama menghadirkan damai. Ya, mereka ingin mengaplikasikan nilai-nilai kebaikan agama dalam ruang kehidupan bermasyarakat. Sehingga ia mampu menciptakan harmoni kehidupan antar sesama manusia. Ini sudah barang tentu, mereka telah membuktikan kerukunan umat dari berbagai agama dan aliran kepercayaan benar-benar nyata. Itulah Indonesia, Bung!

Dengan wajah berseri-seri, sebelumnya mereka tumpah ruah menikmat pesta santap malam berupa kupat opor, wedang ronde, lepet, wedang kacang dan disambung kacang rebus, pisang, jeruk, anggur, klengkeng dan masih banyak lagi. Selain umat Katolik dan Kristen, juga datang sebagian umat Budha dan Khonghucu. Tak ketinggalan, umat Islam datang dari berbagai kelompok, kalangan Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, bahkan Ahmadiyah.

Seiring dengan itu, lirih alunan suara adzan berkolaborasi dengan lagu ‘Ave Maria’ dengan syahdu berkumandang menebarkan suara indah ke segenap sudut ruangan. Liriknya pun sederhana. Bening dan melengking. Semua yang hadir pun terdiam. Sungguh, pentas malam tersebut tak pelak mendapatkan respon positif nan mengesankan.

Terus terang, sebuah lagu memang salah satu kunci mujarab pembuka ingatan masa lalu. Dan di malam itu pula, hati saya jadi teringat lagu ‘Ave Maria’ yang berisi berbagai versi. Benar, ada yang instrumental, ada yang hanya dimainkan dengan piano, ada yang hanya dimainkan dengan biola, dan ada juga versi opera. Walaupun demikian, tampaknya saya lebih menyukai ‘Ave Maria’ versi Schubert dibandingkan versi Bach/Gounod.

Adapun Versi Schubert yang paling disukai saya adalah versi yang dinyanyikan Joan Baez, yang membawakannya dengan gaya campuran antara suara sopran dan gaya folk song yang menjadi ciri khas Baez. Komposisi ‘Ave Maria’ tersebut disusun pada 1825 oleh Schubert. Saat itu, ia berusia 28 tahun. Lirik ‘Ave Maria’ yang digunakan dalam komposisi Schubert ini diambil dari salah satu kanto sajak panjang Sir Walter Scott yang berjudul ‘Lady of the Lake’. Dan, Schubert menggunakan terjemahan Jerman dari sajak panjang Scott itu.

Sajak ‘Lady of the Lake’ berlatar cerita pemberontakan yang harus dihadapi Raja James V melawan beberapa klan yang tinggal dipegunungan. Penggalan ‘Lady of the Lake’ di situ adalah Ellen, anak dari James Douglass, salah seorang bangsawan yang terusir. Dalam upayanya menyatukan kerajaan dari konflik yang berlarut-larut, James V beberapa kali bepergian dengan menyamar. Suatu ketika, dia bertemu Ellen dan jatuh cinta kepadanya. Di lain sisi, Ellen sudah jatuh hati kepada Roderick Dhu, pemimpin klan yang menampung Ellen dan ayahnya. Dhu kemudian mengobarkan perlawanan kepada James dengan mengerahkan semua anggota klan. James Douglass sendiri enggan untuk terlibat dalam perseturuan itu dan memutuskan untuk menyerahkan diri kepada James V.

Sementara itu pula, lirik yang digunakan Schubert diambil dari nyanyian yang didendangkan oleh Ellen sebagaimana tercantum dalam kanto ketiga sajak ‘Lady of the Lake’ tersebut. Saat itu, James Douglass dan Ellen pergi mengasingkan diri ke Gua Goblin untuk menghindari tuduhan terlibat dalam pemberontakan, sekaligus sebagai sikap tak ingin merepotkan Dhu, tuan rumah yang menampungnya. Dalam pengasingan inilah, Ellen berdoa dengan menyanyikan lagu yang ditujukan kepada Bunda Maria. Sementara Dhu, di tengah perjalanannya, selalu bisa mendengarkan suara Ellen menyanyi, suara yang dipantulkan oleh dinding-dinding bukit, ngarai dan pepohonan.
Komposisi Schubert ini, kendati liriknya mengambil nyanyian doa Ellen kepada Bunda Maria, akarnya berlatar kisah yang sepenuhnya duniawi: tentang perseteruan kekuasaan, perihal hubungan cinta yang pelik, dan rasa pedih dilamun kesunyian di tengah pengasingan, sembari mengenangkan para kekasih yang pergi untuk berperang menjemput marabahaya.

Ya, ini berbeda dengan komposisi Bach/Gounod yang liriknya menggunakan teks doa dalam bahasa latin. Di bawah ayunan komposisi ‘Ave Maria’ ini pun saya dapat memahami pula bahwa ‘Ave Maria’ versi Schubert tersebut memang kadang dinyanyikan dalam acara perkawinan atau pemakaman. Tapi, lirik lagunya itu bukan berasal dari Perjanjian Baru atau pun Perjanjian Lama.
Seperti Walter Scott yang menuliskan puisi ‘The Lady of the Lake’ sebagai gambaran atas dunia Britania Raya yang dikacaukan oleh intrik, konflik, dan politik, senandung syair ‘Ave Maria’ bagi saya juga tak ada kaitannya dengan gereja, Bunda Maria, atau segala yang terkait dengan agama sebagai institusi. Kendati demikian, syair ‘Ave Maria’ ini memang memiliki arti yang begitu mendalam dan baik. Dan bagi saya, tidak salah untuk sekadar mendengarkan lagu-lagu yang bermakna baik, dari agama apa pun itu.

Dan petang itu pula, jelaslah bahwa Halal bi Halal Kebangsaan ini sungguh spesial jika diukur dari karya dan instrumen yang ditampilkan. Apalagi khalifah terakhir pengganti Nabi Muhammad SAW, Ali bin Abi Tholib pernah menerangkan, “dia yang bukan saudaramu dalam iman adalah saudaramu dalam kemanusiaan’. Oleh sebab itu, saya meyakini bahwa orang yang memiliki pengetahuan keagamaan yang matang, memandang ‘orang lain’ dengan penuh simpati dan tanpa prasangka. Ibaratnya, sejak dari hati, sampai otak dan sampai perbuatan harus selaras dan seirama.

Karenanya saya percaya, damai itu bukan sekadar rahmat yang turun secara tiba-tiba. Damai dan perdamaian itu merupakan sesuatu yang sengaja dibangun dan ingin dihadirkan oleh Romo Budi. Pria kelahiran Wonogiri, 14 Februari 1968, ini pun sungguh meyakini betul bahwa penting bagi semua orang Indonesia untuk memahami bahwa bangsa Indonesia, bangsanya sendiri, terdiri dari begitu banyak keragaman. Tidak hanya berbeda agama, tetapi juga berbeda bahasa, suku, hingga hal kecil seperti cita rasa kuliner yang kita nikmati bersama pada malam 17 Syawal ini. Karena itu, semua perbedaan harus dihargai dan dihormati sehingga semuanya tetap utuh sebagai bangsa Indonesia.

Jika memungkinkan, cobalah Anda sesekali berada di Kota Lama Jerusalem di senja hari. Saat itulah, kita akan dapat merasakan betapa umat tiga agama besar -Islam, Yahudi dan Kristen- bersama-sama di tempat masing-masing meluhurkan bait-bait Allah. Ketika suara adzan Maghrib menyeruak dan menggema di langit, pada saat itu terdengarlah lonceng gereja berdentang mengingatkan umatnya untuk berdoa Malaikat Tuhan, dan di waktu bersamaan, umat Yahudi berdoa di sinagoga-sinagoga serta di depan Tembok Ratapan. Semua damai. Doa bagi perdamaian dipilih karena mereka menyadari bahwa kekuatan nyata untuk menegakkan perdamaian dan keadilan hanya datang dari Allah.

Tak lain dan tak bukan bahwa perdamaian sejati hanya terwujud jika semua bisa mengarahkan diri pada kuasa Ilahi. Lha kok mengapa demikian? Karena doa juga merupakan tindak perdamaian. Bukankah tidak ada doa yang berisi permohonan agar perang segera pecah dan permusuhan semakin tebal? Dengan demikian, perdamaian merupakan sesuatu yang berdimensi spiritual. Perdamaian bukan hanya hasil dari perundingan, kompromi politik atau ekonomi. Perdamaian bukan hanya hasil dari para perunding, melainkan hasil bersama, termasuk berdoa. Karena itu, ia mengandung tanggung jawab universal yang harus ditanggung dan dijaga oleh semua orang.

Belum lagi sejarah telah mencatat bahwa perdamaian dunia tidak akan pernah terwujud apabila tak ada perdamaian antar agama. Perdamaian sejati senantiasa didasarkan pada penghargaan akan hak asasi manusia. Terlebih, hak dasarnya: hak untuk hidup dan menjalin relasi personal dengan Sang Pencipta.

Pungkasnya, dari paragraf di atas, saya meyakini bahwa tiap orang memang menulis kisahnya sendiri-sendiri. Dan, meminjam kata Band Padi, segala kebaikan tak akan terhapus oleh kepahitan. Kulapangkan resah jiwa karena kupercaya kan berujung indah. Itulah sinar langkah doa damai yang terpancar dari sudut Kebon Dalem. Salam takzim. [elsa-ol/@munifibnu]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here