Siswa Penganut Sapta Darma di Pati, Jateng Ikuti Ujian Pendidikan Kepercayaan

0
720

Pati, elsaonline.com – Tiga siswa Sekolah Dasar (SD) penganut Kepercayaan Sapta Darma di Kabupaten Pati, Jawa Tengah dapat mengikuti ujian praktik pelajaran pendidikan kepercayaan.

“Iya, (sudah dapat menyelenggarakan ujian praktik pelajaran pendidikan kepercayaan) mulai tahun ini,” jelas Ketua Persatuan Sapta Darma (Persada) Kota Semarang Yudi Subiyantoro, saat dikonfirmasi perihal siswa penganut Sapta Darma dalam mengikuti ujian nasional, Selasa, 24 April 2018.

Sebagai informasi, ujian praktik pelajaran pendidikan kepercayaan, merupakan pengganti pelajaran pendidikan agama. Mulai tahun ini, siswa penganut kepercayaan dapat melaksanakan ujian pelajaran kepercayaan.

Yudi sebagai Ketua Persada Kota Semarang merasa amat lega karena putra putri penganut kepercayaan dapat mengikuti ujian kepercayaan. Artinya, siswa penganut kepercayaan tidak lagi terpaksa mengikuti ujian salah satu pelajaran dari enam agama negara.

Penyerahan Soal

Dalam beberapa kesempatan, Yudi selalu memberikan informasi kepada elsaonline terkait aktifitas siswa penganut kepercayaan dengan mengirim beberapa foto. “(Kalau yang ujian anak SD ini) di Kabupaten Pati, Om. (Kalau yang ini waktu) penyerahan soal ujian penghayat kepercayaan di SMP 3 Ulujami, Pemalang,” terang Yudi.

Berdasarkan pantauan elsaonline, siswa penganut kepercayaan yang dapat mengikuti ujian nasional di Jateng tak hanya di Kabupaten Pati. Beberapa bulan lalu di Kabupaten Cilacap ada siswa penganut kepercayaan yang dapat mengikuti praktik pelajaran pendidikan kepercayaan.

Dikutip dari Gatra.com, sebanyak enam siswa penghayat kepercayaan di Kabupaten Cilacap, Jateng melakukan ujian praktek pendidikan Kepercayaan terhadap Tuhan yang Maha Esa. Ujian ini sebagai bagian dari rangkaian Ujian akhir Sekolah (UAS) dan Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN).

Humas Majelis Luhur Kepercayaan Indonesia (MLKI) Cilacap, Kuswanto Hariyanto mengatakan, enam siswa tersebut tersebar di empat sekolah, yakni di SMAN 01 Cilacap satu siswa, SMP Negeri Jeruklegi satu siswa, SMP N 2 Adipala dua siswa, dan SMP N 3 Gandrungmangu dua siswa.

“Dari empat sekolah ada enam siswa ya. Materi yang diberikan (diujikan) itu yang pertama praktek sungkem, terus kedua itu praktek mengenal simbol-simbol spiritual, yang ketiga praktek mengheningkan cipta,” katanya, Jumat 30 Maret 2018.

Penyuluh Pendidikan Kepercayaan

Dia menjelaskan, jadwal ujian praktek Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa untuk masing-masing sekolah berbeda. Hal itu dilakukan lantaran mempertimbangkan jumlah pengampu atau penyuluh pendidikan MLKI yang terbatas. Pekan ini, ujian praktek selesai dilakukan.

“Minggu ini sudah selesai semuanya. Jadwalnya memang berbeda-beda ujian prakteknya,” jelasnya.

Menurutnya, di Cilacap ada 13 sekolah yang mengadakan pelayanan pendidikan Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Hal ini sesuai dengan Permendikbud No.27 Tahun 2016 tentang Layanan Pendidikan Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

“Responnya positif, semuanya mendukung dan melayani hal-haknya seperti putra-putri agama lainnya. Baik dari Dinas Pendidikan maupun sekolah. Mulai dari kapan ujian praktek, kapan USBN,” ujarnya.

Digelarnya ujian praktik pendidikan kepercayaan tak lepas dari perjuangan para penganut kepercayaan. Bak gayung bersambut, perjuangan panjang para pewaris ajaran leluhur ini direspon baik oleh pemerintah. Mulai dari membuat aturan sebagai paying hukumnya hingga membuat pelatihan dan bimbingan teknis.

Peningkatan Kompetensi

Dikutip dari Metro Times, Kemendikbud terus melakukan peningkatan kompetensi penyuluh kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa (YME) tingkat terampil.

Direktur Kepercayaan Terhadap Tuhan YME dan Tradisi Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kemendikbud , Nono Adya Supriyatno menyatakan, sesuai amanah UU No. 13 Tahun 2013 tentang Pendidikan Nasional dan PP 48 Tahun 2004 tentang Pendidikan tidak boleh diskriminatif.

Berdasarkan pedoman itu lahirlah Permendikbud No. 27 tahun 2016. Selanjutnya, Kemendibud dan MLKI membangun sinergi kepercayaan terhadap Tuhan YME supaya siswa penganut kepercayaan bisa seperti siswa yang menganut agama lainnya.

“Ini salah satu upaya dari sekian banyak usaha untuk menyusun buku pedoman guru dan siswa penghayat kepercayaan,” ucapnya.
Penyuluh atau guru penghayat kepercayaan dituntut punya kompetensi sesuai UU Ketenagakerajaan dan harus memenuhi persyaratan tertentu dan akan diberikan sertifikat.

12 Juta Jiwa

“Mereka itu bukan guru abal-abal. Penganut penghayat kepercayaan di Indonesia mencapai 12 juta-an di Indonesia. Sedangkan siswa yang menganut kepercayaan sekitar 50.000 anak,” lanjut Nono.

Menurutnya, Kemendikbud akan berusaha mendapatkan data yang lebih valid lagi tentang total penganut penghayat kepercayaan di Indonesia. Namun demikian, pemerintah akan melakukan layanan sesuai track-nya.

“UNBK untuk kepercayaan terhadap Tuhan YME sudah kami lakukan. Kedepan, sesuai amanah UU jelas bahwa semua warga negara Indonesia dapat pelayanan yang sama , tidak ada perbedaan ras, suku dan agama,” ucapnya.

Begitu pula dengan penerimaan pegawai negeri tidak lagi terjadi diskriminatif. Kepercayaan pada Tuhan YME itu ajaran, sebelum agama Samawi masuk ke Indonesia. Ajaran kebaikan sebagai bagian untuk menjalani kehidupan.

Untuk menambah tenaga penyuluh atau guru kepercayaan terhadap Tuhan YME, pada tahun 2017, penyuluh di Solo sebanyak 44 org. Dan bimbingan teknis (bimtek) uji kompetensi di Medan 50 orang, bimtek ahli di Yogya sebnayak 150 org.

“Total penyuluh sebanyak 129 orang dan penyuluh ahli 50 orang. Harapannya, 1 penyuluh bisa melayani 18 siswa (1:18),” tambah Nono.

Materi Pendidikan Kepercayaan

Sementara itu, Kasubdit Direktorat Kepercayaan Terhadap Tuhan YME dan Tradisi, Kemendikbud, Syamsul Hadi mengatakan, materi penyuluh kepercayaan terhadap Tuhan YME meliputi hubungan manusia dengan lingkungan, manusia dengan manusia, manusia dengan kemasyarakatan dan kebangsaan.

Selain itu, sejarah perkembangan kepercayaan Tuhan YME dan pesebarannya. Ditambah materi kebudayaan, martabat, seni karya dan kidung spiritual. Pusat kurikulum pendidikan dan kebudayaan pedagogi profesional dan sosial.

“Total yang mengikuti penyuluh kepercayaan terhadap Tuhan YME kali ini sebanyak 50 orang. Meliputi dari Jateng, Jatim, Sulbar, Sulut, Kalimantan dan lainnya. Narasumber adalah tokoh penghayat, akademisi dan lainnya,” tukasnya.

Adanya kebijakan menteri yang mengatur layanan pendidikan kepercayaan dapat memutus mata rantai diskriminasi selama puluhan tahun. Sejak sekian lama siswa penganut kepercayaan di Indonesia didiskriminasi dalam pendidikan agama di sekolah.

Sebelum ada aturan ini, tak jarang siswa penganut kepercayaan “kepaksa” mengikuti pelajaran salah satu agama resmi negara. Bagi yang melawan sekolah dengan tidak mau mengikuti pelajaran enam agama negama, ancamannya adalah tak dapat naik kelas.

Semoga dengan adanya kebijakan ini, tak ada lagi kasus diskriminasi terhadap siswa penganut kepercayaan. [Cep/002]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here