Soal Intoleran; Lebih Baik Mencegah Daripada Mengobati

0
23
Sambutan: Kepala Badan Kesbangpol Provinsi Jateng, Ahmad Rofa’i (berdiri) menyampaikan sambutan pada kegiatan pemeliharaan kerukunan antar umat beragama dan kepercayaan, Selasa 17 Oktober 2017. Foto: Ceprudin.

Salatiga, elsaonline.com – Dalam dunia kesehatan ada adagium “lebih baik mencegah daripada mengobati”. Adagium ini semacam intruksi pada masyarakat supaya sadar akan arti penting kesehatan. Karena mengobati, sesungguhnya jauh lebih sulit daripada mencegah datangnya penyakit.

Sambutan: Kepala Badan Kesbangpol Provinsi Jateng, Ahmad Rofa’i (berdiri) menyampaikan sambutan pada kegiatan pemeliharaan kerukunan antar umat beragama dan kepercayaan, Selasa 17 Oktober 2017. Foto: Ceprudin.

Namun, tak sedikit masyarakat yang abai dengan pentingnya menjaga kesehatan diri, terlebih lingkungan sekitar. Karena itu, banyak dijumpai daerah-daerah kumuh rawan penyakit yang ditimbulkan karena ulah manusia yang sesungguhnya bisa dicegah. Contoh kecil, buang sampah di sungai.

Adagium mencegah lebih baik daripada mengobati tampaknya berlaku dalam kehidupan sosial masyarakat keagamaan. Soal perilaku intoleran-radikal juga erat dengan mencegah dan mengobati dalam konteks keberagamaan di Indonesia. Sama, berkenaan perilaku intoleran-radikal sangat lebih baik mencegah daripada mengobati.

”Mengapa kegiatan-kegiatan seperti ini (forum seminar, pelatihan, dan konsolidasi antar umat beragama dan kepercayaan) penting? Karena mencegah tindak intoleran lebih baik daripada mengobati,” tutur Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Muda Jateng H. Iman Fadhilah, Selasa 17 Oktober 2017.

Iman, sapaan akrabnya, mengatakan itu pada kegiatan membangun kerukunan umat antar umat beragama dan kepercayaan, yang diselenggarakan Kesbangpol Provinsi Jateng bekerjasama dengan FKUB di Aula RM Wijoyo, Salatiga, kemarin. Hadir sebagai peserta perwakilan dari enam agama dan penganut kepercayaan.

Saling Memahami

Iman, yang juga pengasuh Ponpes Taqwal Lillah, Meteseh, Tembalang, Semarang, berpesan supaya kegiatan yang bersifat prepentif terus dilakukan. Generasi muda, katanya, harus bahu membahu mewujudkan kondisi yang harmonis di masyarakat. Melalui dialog, satu sama lain yang berbeda agama dan keyakinan akan saling memahami.

Senada dengan Iman, Kepala Badan Kesbangpol Provinsi Jateng, Ahmad Rofa’i yang membuka acara pada kegiatan itu menyampaikan pentingnya sikap saling memahami. Sikap saling menghormati dengan yang berlainan keyakinan, katanya, dijamin dalam perundang-undangan di Indonesia.

”Jadi sebenarnya kita di Indonesia itu sangat enak. Silahkan bapak ibu menjalankan ibadahnya sesuai dengan agama dan keyakinan masing-masing. Silahkan meyakini agama masing-masing, tidak bokeh memaksakan keyakinan agama pada orang lain, apalagi dengan memaksa,” pesannya.

Kepala badan menambahkan, dalam semua agama-agama dan kepercayaan sejatinya mempunyai tujuan yang sama. Sama-sama ingin menumbuhkan kehidupan yang lebih baik di masyarakat. Karena itu, ia bersama lembaganya bertekad untuk terus melakukan kegiatan-kegiatan dialog untuk mempererat hubungan antar umat beragama.

”Semua keyakinan agama itu tujuannya sama untuk kebaikan. Nah, kita semua harus mampu mengelola keberagaman yang ada ini. Ini adalah forum kerukunan umat beragama yang sangat strategis untuk terus memupuk keberagaman. Kita akan memperkuat barisan muda dengan forum-forum kecil seperti ini,” tandasnya.

Perlu Diapresiasi

Gagasan dari Kesbangpol Provinsi Jateng seperti ini perlu diapresiasi. Tak banyak dari penyelenggara negara yang peduli dengan upaya untuk terpeliharanya keberagaman di masyarakat.
”Kerja-kerja yang dilakukan Kesbangpol Provinsi Jateng harus kita apresiasi. Di provinsi lain, belum tentu teman-teman penghayat kepercayaan bisa duduk berdampingan dengan umat Islam atau agama lain. Tapi dalam forum ini, bisa,” sambung Direktur Yayasan eLSA, Tedi Kholilludin yang juga menjadi narasumber.

Hemat Tedi, ada banyak isu yang belakangan berkembang dan perlu disikapi dengan jernih. Salah satunya mengenai Perpu No. 2 Tahun 2017 tentang Ormas. Menurut Tedi, adanya kontroversi (menolak dan menerima) dikarenakan perbedaan latar belakang.

”Kelompok yang menolak juga ada dua kelompok. Pertama, kelompok Islam ”kanan” seperti HTI dan seideologinya (meskipun organisasinya berbeda). Kedua, kelompok teman-teman pegiat HAM. Tentu alasannya berbeda, meskipun semangatnya sama, sama-sama menolak perpu,” kata Tedi.

Dalam forum itu, mengenai tindakan intoleran dan sikap ormas terhadap perpu ada beberapa catatan yang penting diperhatikan. Lahirnya perpu ormas, murni karena maraknya gerakan intoleran. Karena itu, perpu yang sedang digodok di DPR itu semangatnya adalah anti radikalisme, anti intoleran, dan anti khilafah islamiyah.

Karena itu, ormas-ormas atau lembaga non-pemerintahan tak perlu takut dengan adanya perpu ormas ini. Jika, ormas, LSM, Yayasan, atau lembaga non-negara lainnya tidak melakukan gerakan anti-Pancasila, tidak radikal, tidak intoleran, tidak menebar kebencian, maka tak perlu takut dibubarkan.

Karenanya, semangat perpu ormas sejatinya adalah mencegah tindakan-tindakan yang mengancam perdamaian dan keutuhan NKRI. Maka, aneh jika ada ormas yang menolak perpu ormas sekaligus menolak PKI. Perpu ormas itu ya salah satunya untuk mengantisipasi munculnya (kembali) komunisme. [Cep/03]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here