Sufisme dan Jalan Baru Reformasi Islam

0
110

Oleh: Abu Hapsin


Perubahan sosial baik direncanakan atau yang berjalan alami, merupakan keniscayaan hidup. Hal ini tentunya membawa konsekuensi bagi kaum beriman bahwa agama harus mampu menjadi partner sekaligus pengayom dari perubahan sosial yang terjadi jika tidak ingin ditinggal para pemeluknya.  Maka upaya-upaya dalam melakukan reorientasi dan reevaluasi terhadap sistem nilai serta transformasi kritis terhadap ajaran agama  mutlak diperlukan guna menghadapi perubahan yang ada.   Sebagai contoh, perubahan arah dan kebijakan pembangunan di negara-negara berkembang, termasuk di Indonesia, sudah mulai ditekankan pada sektor industri. Dengan perubahan ini jelas umat beragama akan dihadapkan pada suatu sistem kehidupan kompleks akibat dari  pola kehidupan yang lebih diwarnai oleh aspek bisnis, science dan teknologi. Ketiga aspek inilah yang sangat mewarnai kehidupan industrial, yang pada gilirannya pasti akan membawa ke arah perubahan sosial. Semua ini sedang giat-giatnya dilakukan oleh semua bangsa dan negara demi gengsi modernitas.

Modernitas memang merupakan peradaban terbesar umat manusia sepanjang sejarah yang telah menyebabkan persoalan hidup dan kehidupan menjadi semakin kompleks. Prestasi umat manusia di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi memberikan dampak begitu kuat terhadap nilai-nilai yang sudah mapan. Scienstisme dan rasionalisme yang semula dianggap sebagai  pahlawan pembebas dari kesulitan-kesulitan hidup ternyata telah menyebabkan manusia masuk dalam lobang krisis kemanusiaan. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi ternyata tidak menjadikan umat manusia semakin bijaksana dalam menjalani kehidupan ini. Teori-teori ilmiah yang dirumuskan para ahli dari berbagai bidang keilmuan, baik ilmu kealaman maupun sosial  juga tidak mampu menyelesaikan kompleksitas permasalahan kemanusiaan. Bahkan banyak manusia yang kemudian terperangkap dalam jebakan rasionalisme, materialisme, konsumerisme sehingga tidak lagi menyadari bahwa dirinya sebagai makhluk Tuhan. Sementara bagi yang bertuhan pun,  banyak yang telah mereduksi eksistensi dirinya sebagai makhluk yang diciptakan dari ruh atau, meminjam istilah Bibble, citra Tuhan.

Atas dasar kenyataan di atas, tulisan berikut ini akan mencoba menghadirkan gagasan betapa pentingnya pendalaman spiritualisme guna menghadapi krisis  kemanusiaan yang diderita manusia modern, kemudian dilanjutkan dengan deskripsi hakikat “diri” dalam pandangan al-Qur’an. Spiritualisme dalam Islam yang berupa sufisme beserta gambaran deviatifnya juga akan dibahas,  kemudian diakhiri dengan pertanyaan mengapa sufisme menjadi penting untuk dikedepankan sebagai ikon keagaman Islam bagi manusia modern.

Krisis Manusia Modern

Untuk mengetahui gambaran hidup manusia modern sebenarnya dapat kita baca dengan mudah dari berbagai aktivitasnya. Kekuasaan diburu meski harus mengkhianatai temannya sendiri, alam dieksploitasi secara besar-besaran meski dampak lingkungannya sangat membahayakan bagi masa depan Bumi, pertumbuhan dikejar meski harus mengorbankan pemerataan distribusi ekonomi, raga diolah meski harus menghabiskan biaya yang cukup tingi dan sebagainya. Semuanya tentu saja dilakukan demi pemenuhan kebutuhan lahiriah manusia. Persaingan antara individu hingga antar bangsa telah berjalan begitu ketat sehinga manusia sering lupa akan eksistensi dirinya. Keadaan ini telah menjadi penyebab krisis manusia modern yang  dicirikan dengan  kekosongan spiritual dan pada gilirannya akan melahirkan manusia-manusia yang terasingkan dari dirinya sendiri. Penulis setuju dengan ungkapan Abdul Hadi W.M. saat menyampaikan orasi ilmiah pada Lustrum I dan Wisuda Universitas Paramadina (1 April 2003) bahwa  “Prilaku manusia modern telah melahirkan suatu krisis yang berakar dalam watak kebudayaan modern sendiri yang mencampakkan spiritulitas dan tidak memberi tempat pada metafisika serta etika yang didasarkan atas spiritualitas”.

Kalau demkian adanya, maka kesalahan manusia modern terletak pada kemalasan atau keengganannya untuk menguak tabir dirinya sendiri. Banyak misteri jagat raya (makro kosmos) telah berhasil diungkap, akan tetapi semakin sedikit orang yang berupaya menyingkap misteri jagat kecil (mikro kosmos). Dari lautan dalam hingga angkasa luar telah dijelajahi manusia, tetapi misteri yang ada dalam dirinya justru semakin terabaikan.  Intelektual  manusia semakin cerdas tetapi spiritualnya semakin tumpul. Modernitas, karenanya, menyimpan kelemahan yang potensial menjadi alat penghancur bagi dirinya sendiri. Meski dengan modernitas manusia bisa menjadi narsis tetapi saat yang sama manusia bisa kehilangan maknanya dalam menjalani kehidupan ini.  Karena itu, ketidak-seimbangan manusia dalam keseluruhan upayanya menyingkap misteri kosmik harus diimbangi dengan  upaya pendalaman spiritual. Atas dasar itulah spiritualisme dalam kehidupan menjadi sangat penting.

Di Barat, tempat dimana scientisme dan isme-isme sekular lainnya  muncul, justru sekarang ini sedang menunjukkan kegandrungannya untuk kembali pada spirutualisme, suatu gerakan kontra rasionalisme dan sains.  Kehausan batiniyah yang telah menjdi kebutuhan alami manusia nampaknya tidak mereka dapatkan melalui teori-teori ilmiah modern yang mendasarkan pada rasionalisme murni. Pada saat yang sama,  kecenderungan model-model pencarian kebenaran yang bersifat esoterik semakin  menguat. Menurut laporan utama Majalah Tempo (32/XXXVII 29 September 2008) gejala ini mulai nampak sejak tahun 1960-an atau, menurut Ali Kose (1996: 144)   pada tahun 1970-an. Yvone Yazbek Haddad, seperti dikutip Majalah Mata Air (Vol. 23,April 2009), memberitahukan banyak generasi muda di Amerika Serikat yang pada tahun 1960-an mengalami goncangan spiritual hebat kini masuk kelompok Islam Shufi.

Pada saat DR. Anne-Marie Schimmel, professor dalam Oriental Studies dan Sufism dari Harvard University, memberikan ceramah tentang Sufism and Its Influence on Europe di Stanford University pada bulan Mei 1997 sambutan dari audience sunguh luar biasa. Belum pernah sebelumnya MCA (Muslim Community Association) melaksanakan kegiatan keislaman yang begitu banyak dihadiri oleh non Muslim. Menurut Schimmel, di Jerman dan juga di Amerika banyak yang mulai tertarik dengan sufism karena keindahan ber-Islam itu menurut mereka terletak pada ajaran sufisme. Itulah karenanya  ordo Naqsabandy yang dipimpin oleh Mursyid Syaikh Hisyam Kabani begitu menarik banyak kalangan.

Di Inggris gerakan sufisme ini juga mendapatkan banyak simpati dan pengikut dari kalangan kulit putih. Penelitian yang dilakukan Kose (1996: 142) menunjukkan bahwa kedepan sufisme akan menjadi alternatif gerakan dawah Islam di negara-negara Barat. Sejumlah 33 % dari 70 orang yang diwawancarai oleh Kose menjawab bahwa mereka masuk Islam karena tertarik dengan ajaran sufisme. Bahkan sampai sekarang pun mereka aktif dalam kegiatan-kegiatan sufisme yang banyak dijumpai di Inggeris, misalnya “The Maulana Center dan the Society for Sufi Studies” di London dan “Muhyiddin Ibnul Arabi” di Oxford.

Apa yang digambarkan di atas menjadi bukti bahwa gerakan spiritualisme telah menjadi obat penawar bagi krisis spiritual yang dialami manusia modern. Seperti digambarkan oleh Majalah Tempo dalam Laporan utamanya bahwa “Kemakmuran, kemajuan teknologi, kemudahan dalam penyelenggaraan kehidupan sehari-hari, tapi juga kompetisi makin ketat yang melahirkan pressure yang terkadang tidak terta­hankan, gaya hidup instant dan serba cepat—termasuk hal konsumsi makanan—yang tidak sehat dan menimbulkan stres, kekurangan waktu untuk memelihara kebersamaan dalam keluarga dan bersosialisasi, kerusakan ekologis, dan sebagainya.  Pada gilirannya, semua ekses itu menggoyahkan sendi-sendi kehidupan keluarga dan masyarakat.” Inilah yang juga sekarang terjadi di Indonesia khususnya di daerah Perkotaan. Modernisasi, selain telah memanjakan manusia pada sisi lain telah menimbulkan penyakit kejiwaan  seperti kecemasan, depresi, dan penyakit-penyakit mental -psikologis lainnya. Langkah-langkah preventif maupun kuratif atas segala penyakit mental-psikologis ini semua tentu saja ada dalam spiritualisme. Mengapa Spiritualisme?  Penjelasan mengenai eksistensi manusia  dari sudut pandang al-Qur’an di bawah ini mungkin bisa menjadi jawaban atas pertanyaan tersebut.

Eksistensi Manusia dalam Pandangan al-Qur’an

Kalau kita bertanya pada diri kita masing-masing, siapa sebenarnya diri kita ini dan apakah keberadaan “diri” ini dapat didefinisikan dengan tampilan lahiriyah? Dalam kehidupan keseharian serta penglihatan mata telanjang, diri seseorang didefinisikan berdasarkan tampilan-tampilan lahiriah. Itulah karenanya banyak orang berusaha untuk mempercantik diri agar indah dipandang oleh mata lahir, bukan mata batin. Pada hal, keberadaan diri seseorang yang sejati jelas tidak bisa didefinisikan berdasarkan pada batasan-batasan dan tampilan lahiriyah.

Secara fisik, manusia diciptakan Tuhan dari Bumi. Keberadaan manusia secra fisik ini nilainya sama dengan benda-benda lainnya yang juga diciptakan dari Bumi. Maka manusia yang hanya mengenal dirinya dan memperkenalkan dirinya kepada orang lain melalui tampilan fisik ini sesungunya telah menipu dirinya dan juga orang lain. Mengapa? Karena  fisik bukan representasi dari “diri”yang hakiki. Wajah, misalnya bisa saja dipermak menjadi cantik atau mungkin di faceof.  Meski demikian hakikat atau jati “diri” kita sebagai manusia tetap saja tidak berubah. Oleh karena itu unsur penentu hakikat Si  “D” adalah “D” bukan karena tampilan fisiknya tetapi karena jiwanya.

Inilah yang diisyaratkan oleh al-Qur’an (XV, al-Hijr: 29). Saat Adam telah mencapai kesempurnaan fisik kemudian Allah meniupkan ruh (ciptaan)-Nya. Jadi di sinilah letak pengertian manusia secara hakiki. Dalam surat (VII, al-A’raf: 172) bahkan  digambarkan bahwa sebelum “ruh” (spirit)  ini dimasukan ke dalam diri manusia terlebih dahulu dipersaksikan kepadanya tentang keberadaan Allah sebagai robbnya. Dan ruh itu pun mengiakan apa yang dipersaksikan Allah kepadanya. Jadi menurut al-Qur’an dalam diri manusia itu terdapat unsur ketuhanan yang berfungsi sebagai “agen” Tuhan. Tanpa ruh ini maka “diri” manusia pun tidak ada. Jadi yang menentukan “diri” itu bukanlah fisik dan tampilan lahiriah lainnya tetapi ruh.  Pertanyaan dimanakah letak spirit (ruh) ini dalam “diri” manusia, nampaknya tidak penting. Bahkan dunia kedokteran pun belum bisa menjawabnya. Yang penting dalam kaitannya dengan pemeliharaan  “diri” bahwa ruh itu harus tetap dijaga dan dibersihkan agar selalu menyinari fakultas kejiwaan lainnya seperti fikiran perasaan dan lainnya.  Dalam bahasa yang umum difahami “ruh” ini biasa disebut “hati nurani”. Ia  menempati ranah terdalam dari keseluruhan fakultas kejiwaan manusia yang berfungsi sebagai pemberi cahaya.

Ruh ini bisa saja kehilangan fungsinya sebagai penerang manakala tertutup oleh kotoran. Al-Ghazali mengambarkan kotoran-kotoran yang dapat menutupi “ruh” ini dalam Ihya Ulum al-Din sebagai sifat-sifat yang dapat membawa pada kehancuran diri  (muhlikat). Kotoran-kotoran ini dalam kehidupan keseharian direpresentasikan dalam sifat-sifat tercela seperti;  takabbur (sombong), riya’ (ingin dipuji),  hasad (dengki) ‘ujub (narsistik) dsb. Agar “ruh” ini tetap berfungsi sebagaimana mestinya maka di perlukan riyadlah al-nafs (olah batin). Orang yang terlatih melakukan olah batin ini akan semakin tenang, tentram dan damai dalam menjalani kehidupannya. Penyakit kejiwaan  seperti kecemasan, depresi, dan penyakit-penyakit mental-psikologis lainnya tidak mungkin menjangkiti orang yang ikhlas dalam beramal, orang yang rendah hati, orang yang tidak iri terhadap orang lain, orang yang tidak ambisius dan sebagainya.

Dengan gambaran di atas, penulis hanya ingin mengungkapkan bahwa dalam pandangan al-Qur’an manusia adalah makkhluk bukan hanya dalam pengertian fisik tetapi juga dalam pengertian spiritual. Bahkan  spiritualitas inilah yang akan menentukan jati diri seseorang. Semakin dibiarkan terlantar “ruh” (spirit) seseorang maka semakin jauh dari spirit yang ada dalam dirinya dan semakin asing dengan dirinya sendiri. Inilah yang nampaknya banyak dirasakan oleh manusia modern akibat scientism yang tidak memberi ruang terhadap aktivitas spiritual. Oleh karenanya, spiritualisme yang sejak tahun 1970an marak mewarnai kehidupan masyarakat Barat merupakan respon yang natural dan sekaligus positif atas keterasingan diri yang mereka derita.

Sufisme sebagai  Spiritualisme Islam

Kebangkitan gerakan spiritualisme memang tidak hanya terjadi di Islam. Agama Buddha yang ajarannya sangat sarat dengan spiritualisme juga telah menarik banyak kalangan yang ingin mencari kedamaian. Di beberapa Vihara Buddha di Chicago pada tahun 1998, penulis menyaksikan sendiri ada beberapa orang yang berasal dari kelompok agama Yahudi  sedang melaksanakan meditasi. Mereka menamakan dirinya sebagai kelompok JewBu, singkatan dari Jewish dan Buddhis. Karena spiritualisme semuanya berakar dari agama, logikanya seorang spiritualis identik dengan seorang agamis. Namun kenyataannya tidak demikian, pendalaman spiritualisme terkadang bergerak bebas dari satu ke lain agama yang berakhir dengan sinkretisme. Tentu saja ketika yang dijadikan ukuran adalah agama dalam bentuk formalnya, maka seorang sinkretis tidak bisa dikatakan agamis.

Gerakan spiritualisme independen ini banyak bermunculan di Barat. Di Ingeris misalnya, ada kelompok spiritualis yang sangat dipengaruhi oleh sufisme, yakni kelompok Ruhaniat yang setiap musim panas mengadakan pelatihan spiritual. Untuk kegiatan musim panas tahun 2009 ini mereka akan mengkaji ajaran spritualisme Hazrat Inayat Khan (1882-1927), Hazrat Samuel L. Lewis, penerus Hazrat Inayat (1896-1971) dan Hazrat Moineddin Jabloski sebagai penerus Hazrat Samuel (1942-2001). Satu hal yang barangkali aneh bagi pengikut tariqah di sini adalah bahwa para mursyid tersebut bukan hanya terlatih dalam spiritualisme Islam tetapi juga spiritulalisme yang berasal dari agama-gama lain. Samuel L. Lewis adalah seorang mursyid yang banyak mempelajari spiritualisme Zen, salah satu sekte dalam agama Buddha. Inayat Khan sendiri sebagai pendiri Ruhaniyat adalah seorang mursyid yang mencoba meuniversalkan ajaran sufisme. Itulah karenanya simbol-simbol keagamaan tertentu tidak pernah nampak dalam kegiatan Summer School yang dilalksanakan setiap tahun. Pesertanya pun terdiri dari berbagai kelompok dengan keyakinan keagamaan berbeda. Yoga model Hindu, meditasi model Buddha  dan dzikr model Islam diaduk menjadi satu model pendalaman spiritualisme modern (www.ruhaniateurope.org). Satu hal menarik seperti kata-kata Irina Tweedie, seorang guru spiritualisme  kelahiran Soviet yang sekarang menetap di Inggeris, bahwa dia megaku  seorang sufi tetapi bukan seorang Muslim (Kose, 1996:143).

Selain yang secara terang-terangan memeluk Islam banyak diantara Ilmuwan Barat yang juga bersimpati kepada dan menjalankan ajaran sufism diantaranya; seorang filosof Prancis, Rene Guenon, di Inggeris ada seorang mistikus terkenal Martin Lings, di Swiss ada Frithjof Schuon dan Titus Burckhardt di USA. Mereka adalah orang-orang yang mencoba memahami bagian terdalam dari ajaran Islam, kemudian mempraktekan-nya tanpa ada kejelasan apakah mereka mengikatkan diri pada Islam sebagai organized religion atau tidak. Orang sejenis mereka ini, menurut catatan Martin Lings jumlahnya ratusan. Meski mempraktekkan ajaran sufism, mereka tetap menyatakan independensinya terhadap agama tertentu (Kose, 1996: 143).

Fenomena maraknya spiritualisme otonom seperti inilah yang ditangkap oleh John Naisibitt dan isterinya Patricia Aburdene Di Barat. Dalam bukunya Mega Trend 2000 (1990: 275),   Naisibit menggambarkan bahwa kecenderungan ke depan agama formal akan semakin kehilangan daya tariknya. Meski demikian spiritualisme tetap akan banyak diminati masyarakat. Secara eksplisit dia mengatakan bahwa “Spirituality Yes, Organized Religion No!”.

Di dunia Barat ungkapan ini mencerminkan keadaan yang sebenarnya tetapi  di dunia Islam  tidak demikian. Di Indonesia misalnya, peningkatan tingkat kesejahteraan hasil capaian pemerintah Orde Baru telah mendorong kaum Muslim perkotaan untuk mengikuti pengajian-pengajian sufisme.  Kemunculan buku-buku terjemahan tasawuf karya para ulama terdahulu maupun kontemporer semakin melicinkan jalannya pengajian-pengajian spiritualisme (sufisme) kelas menengah perkotaan. Namun,  maraknya majlis-majlis pengajian spiritualisme ini sama sekali tidak tercerabut dari akar organized religionnya, Islam. Fenomena ini nampaknya lebih tepat dikatakan sebagai bangkitnya sufisme modern yang lebih menekankan pada aspek pendalaman tauhid serta membersihkannya dari aspek-aspek syirk dan pengamalan virtue ethics yang bersumber dari al-Qur’an maupun Sunnah Nabi. Ini yang nampak terbaca dari gagasan Prof Hamka dengan tasawuf modernnya.  Jadi,  meskipun penyebabnya sama seperti yang terjadi di Barat, respon yang muncul adalah  sufisme perkotaan yang masih lekat dengan induk agamanya.

Geliat bangkitnya kesadaran untuk ber-sufi di kalangan Muslim perkotaan ini tidak selamanya melahirkan  sufisme model baru. Maraknya majlis-majlis dzikir yang diprakarsai oleh kelompok tariqah juga ikut serta mewarnai perkembangan spiritualisme Muslim perkotaan. Majlis dzikr yang diorganisir oleh Alkhidmah misalnya, pengikutnya banyak dari kalangan Muslim perkotaan dengan profesi yang beragam, dari mulai artis, pengusaha hingga para birokrat. Dibawah bimbingan Mursyid KH. Asrori al-Ishaqi dari Kedinding Surabaya, tariqah Qadiriyah ini begitu pesat berkembang di kalangan masyarakat Perkotaan.

Apa yang digambarkan di atas mengindikasikan bahwa dari sisi ajarannya sufisme merupakan ajaran spirituailsme yang tidak monoton. Ajaran sufisme sangat fleksibe, bisa dilembagakan dalam bentuk tariqah dan di luar bentuk tariqah. Sedangkan jika dilihat  dari orientasi duniawinya,  Sufisme bisa dikelompokkan kedalam tiga tipe (Ali Kose, 1996 : 145-147), yakni sufisme yang menolak kehidupan duniawi (world rejecting), sufisme yang menerima kehidupan duniawi (world affirming) dan sufisme yang mampu   mengakomodasi kehidupan duniawi (world accommodating). Dari ketiga tipe ini sufisme bisa masuk ke mana-mana. Sufisme dalam Islammemiliki fleksibilitas tingi. Oleh karena itu sufisme bisa dijadikan alat penyeimbang kehidupan budaya.  Misalnya, bagi masyarakat miskin, sufisme harus difungsikan sebagai motivator untuk memunculkan semangat kerja. Sebaliknya bagi masyarakat yang sudah maju tingkat ekonominya, sufisme bisa dijadikan alat pengendalian diri agar tidak terjebak dalam pola-pola kehidupan konsumerisme dan materialistik.  Dengan demkian sufisme merupakan bentuk pendalaman spiritual dalam Islam yang sangat strategis. Strategi ini sangat cocok untuk difungsikan, meminjam kalimat Syafiq Mughni,  sebagai “pendulum. Ketika pendulum itu bergerak ke ujung kiri, kita harus menariknya ke kanan. Demikian juga, ketika ia bergerak ke ujung kanan, kita harus segera menariknya ke kiri. Dengan cara ini, maka akan terbangun kehidupan yang seimbang antara lahir dan batin, duniawi dan ukhrawi, serta individu dan masyarakat”.

Sufisme sebagai Ruh Islam

Sufisme dengan berbagai coraknya (independen dan yang dipenden) seperti dijelaskan di atas, mendapatkan pengakuan yang sangat luas dari kalangan masyarakat modern baik di Barat maupun di Dunia Islam sendiri.  Begitu pentingnya sufisme dalam Islam hinga Buckhardt (1990: 16) membuat analogi bahwa  sufisme bagi Islam ibarat spirit  atau hati bagi tubuh manusia. Islam tanpa sufisme karenanya akan menjadi mati atau paling tidak akan terasa sangat gersang. Oleh karena itu Islam tidak seharusnya dimunculkan dalam bentuk ajaran-ajaran eksoteriknya saja melainkan esoteriknya juga. Penulis yakin apa yang digagas oleh Prof. Zakiah Darajat (1982), bahwa agama dapat memberikan terapi mental bagi manusia dalam menghadapi kesukaran-kesukaran dalam hidup, adalah agama yang dapat  menampilkan diri dalam porsi yang seimbang antara wajah esoterik dan eksoterik.

Namun kenyataannya agama termasuk Islam, sering hanya dimunculkan sisi eksoteriknya sehingga yang terlihat di permukaan bukan prilaku umat bergama cerminan esensi ajaran agama tetapi prilaku-prilaku simbolik keagamaan. Dalam kasus Islam pemahaman sisi eksoterik ini diperkuat oleh para penafsir agama itu sendiri melalui pagar-pagar pembatas boleh atau tidaknya mengakses. Tafsir isyari misalnya, yang banyak dikebangkan kaum sufi, justru ditolak oleh mainstream mufassir. Hal ini dapat dimaklumi karena model tafsir isyari sangat memungkinkan penafsir keluar dari pendapat mainstream dalam hal-hal yang telah menjadi kesepakatan (ijma) para ulama. Jadi jelas kesepakatan itu sendiri penting dalam dunia Islam. Kesalehan yang lahir dari diri seseorang tetapi berada di luar kesepakatan bahkan dinamakan zindiq, sebuah istilah yang berbau pejoratif. Inilah yang kemudian memberikan kesan terdalam bahwa wajah Islam adalah wajah eksoterik, serta umatnya pun adalah umat yang sangat legalistik. Apapun perbuatan seseorang sering hanya dilihat dari sisi hukumnya.

Al-Ghazali melakukakan kritik pedas terhadap Fiqh yang tujuan utamanya hanya untuk mencari kemaslahatan duniawi. Ia mengatakan bahwa memperoleh keuntungan di dunia ini bukan tujuan final dari kehidupan ini. Kehidupan di dunia hendaknya dilihat sebagai sarana atau medium untuk mendapatkan kebahagiaan hakiki di akhirat kelak. Akan tetapi kenyataannya manusia sering bertindak tidak adil dan serakah dalam memperoleh sarana tersebut yang berakibat pada timbulnya pertengkaran diantara sesama manusia. Karena pertengkaran muncul, maka Fuqaha dibutuhkan untuk membuat aturan-aturan untuk mengatur mereka. Dengan demikian, fungsi dari para ulama Fiqh ialah untuk mengatur dan menangani persoalan-persoalan hidup di Dunia, dan karenanya mereka tergolong ulama duniawi (al-Ghazali, tt: 18).

Kritik al-Ghazali terhadap Fiqh sebagai ilmu duniawi memang dapat difahami mengingat watak formalistik Fiqh. Objek Fiqh memang hanya sebatas perbuatan lahir manusia, tidak menjangkau perbuatan-perbuatan batiniyah. Meskipun al-Ghazali mengakui bahwa ada beberapa pokok bahasan Fiqh yang terkait dengan persoalan hidup di akhirat seperti salat, zakat dan sejenisnya, cara pandang yang dilakukan Fuqaha terhadap persoalan-persoalan tersebut berbeda dengan yang dilakukan kelompok Sufi. Salat, misalnya, seorang ahli Fiqh hanya akan memandang sah manakala persyaratan formal telah dipenuhi. Persoalan apakah salat itu dilakukan dengan khusyu’ atau tidak terlepas dari pandangan Fiqh, padahal salat yang dilakukan tanpa disertai kekhusyu’an tidaklah bermanfaat bagi pelakunya baik di dunia maupun kelak di akhirat. Sayangnya para Fuqaha lebih memberikan bobot penilaian terhadap persyaratan-persyaratan formal daripada membahas bagaimana agar ajaran essensial salat itu bisa diperoleh. Inilah wajah eksoterik Islam yang selama ini kita rasakan.

Penutup

Dari paparan di atas penulis ingin menegaskan kembali betapa pentingnya pendalaman spiritualisme guna menghadapi krisis  kemanusiaan yang diderita manusia modern. Kembali kepada spiritualisme merupakan reaksi positif terhadap modernitas dengan segala karakternya.  Bahkan dilihat dari sudut pandang al-Qur’an, pendalaman spiritualisme dalam bentuk apapun bukan hanya positif tetapi juga merupakan respon natural  atas penyakit alienasi (keterasingan) diri dari dirinya sendiri yang banyak mengidap manusia modern. Oleh karena itu Islam mengajarkan agar manusia selalu melakukan perenungan diri melalui pendalaman spiritualisme, karena dengan cara inilah manusia akan mengenal dengan baik sang Penciptanya.

Spiritualisme dalam Islam mengambil bentuk sufisme. Namun demikian karena wataknya yang inklusif dan universal, sufism kini bukan hanya menjadi anak kandung Islam. Meskipun demikian,  kebanyakan ajaran sufisme masih menjadi bagian yang menyatu dengan induk atau wadahnya, Islam. Bagi kalangan tertentu,  sufisme merupakan ajaran tentang hakikat diri manusia yang bisa saja dilepaskan dari agama (Islam) yang mewadahinya. Bagi kita yang masih lekat dengan wadah Islam sebagai organized religion, ajaran sufisme yang dipraktekkan tanpa wadah Islam hendaknya diangap sebagai sumbangan besar dalam upaya mengobati krisis kemanusiaan.

Manusia modern memang telah memasuki peradaban scientifik begitu mengagumkan. Namun sayang, peradaban yang berhasil dibangun ini telah  kehilangan alat kendali karena memang sengaja dijauhkan. Oleh karena itu bagi kaum agamawan tantangan ke depan adalah bagaimana agama bisa ditampilkan dalam bentuknya yang utuh sehingga  spiritualisme mendapatkan tanah yang subur untuk bersemi.  Dengan demikian harapan ke depan akan lahir peradaban manusia yang religious.

Apakah kemudian peradaban religius ini mampu menjadikan manusia merasa nyaman hidup sebagai manusia? Belum tentu, tergantung bagaimana menterjemahkan agama dalam kehidupan sehari-hari. Jika agama hanya ditampilkan aspek eksoteriknya, kosong dari aspek spiritualisme maka agama pun akan kering. Agama tanpa spiritualisme  hanya akan melahirkan para pengikut yang rigid dan eksklusif dan pada gilirannya akan melahirkan manusia-manusia yang terjangkit split personality. Namun agama yang hanya menampilkan aspek esoteriknya juga akan kehilangan makna komunalitasnya karena agama akan terreduksi menjadi keyakinan individual. Oleh karenanya benar kata pepatah yang sering disandarkan kepada al-Ghazali bahwa man tafaqqaha wa lam tasawwafa fa qad tafasaqa, wa man tsawwafa wa lam tafaqqaha fa qad tazandaqa, sebuah pepatah yang mengisyaratkan tentang pentingnya membangun keseimbangan antara aspek eksoterik dan esoterik agama (Islam).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here