Tak Diketahui Ayahnya, Empat Penganut Kepercayaan Diislamkan

0
188
Kartu Keluarga: Kartu Keluarga (KK) Carlim yang diterbitkan Dukcapil Kab. Brebes tanggal 22 Agustus 2017 atau 10 hari setelah proses pengislaman anak-anak penganut kepercayaan. Foto: Ceprudin

Brebes, elsaonline.com – Empat anak penganut Kepercayaan Sapta Darma di Kabupaten Brebes diislamkan tanpa sepengetahuan ayahnya. Empat anak bersaudara yang belum genap 17 tahun itu yakni BP (13), HP (13), NC (11), dan NS (10). Mereka diislamkan Pengurus Mushola Darussalam, Kecamatan Kersana, Kabupaten Brebes.

“Saya kaget, anak saya empat tiba-tiba, katanya habis diislamkan di mushola. Itu empat anak belum genap 17 tahun. Jadi masih dalam tanggungan saya, sebagai bapaknya. Jadi harusnya ada restu dari saya,” keluh bapak keempat anak tersebut, Carlim, saat dijumpai di kediamannya, Selasa 3 Oktober 2017.

Carlim bercerita, kasus itu bermula dari anak ketiganya Wiji Prawita Sari (18). Wiji yang sudah menginjak usia 18 tahun bermaksud untuk menganut agama Islam. Carlim sebagai orang tuanya tidak mempersoalkan niatan Wiji masuk Islam karena sudah cukup umur.

Sebagaimana peraturan perundang-undangan, jika anak sudah cukup umur maka diberikan kemerdekaan untuk memilih keyakinannya. Karena itu, meskipun Wiji sejak kecil menganut Kepercayaan Sapta Darma, Carlim tidak melarang Wiji masuk Islam. Artinya, ditambah Wiji, anak Carlim yang diislamkan sejumlah lima anak.

“Nah, itu kan waktu Wiji memeluk Islam diadakan acara ramai-ramai di mushola. Awalnya hanya Wiji yang mau masuk Islam dan sudah saya restui. Tapi adik-adiknya yang sedang bermain, kemudian diapnggil ke mushola untuk diislamkan. Ketika saya Tanya ke anak-anak, ya mereka ndak tahu apa-apa,” terangnya.

Tak Menyaksikan

Carlim bercerita, saat itu ia sedang bekerja sebagai buruh sehingga tidak sempat menyaksikan prosesi anaknya masuk Islam. “Pas waktu itu saya tidak bisa datang karena ada pekerjaan. Namanya buruh ya mau tidak mau harus berangkat kerja. Sepulang kerja, malah katanya adik-adiknya Wiji ikut diislamkan semua, saya merasa sangat tidak dihargai,” tuturnya.

Proses mengislamkan lima anak Carlim pun sudah tercantum dalam Kartu Keluarga (KK). Berdasarkan berita acara yang ditandatangani Ketua Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Kersana Abdul Chalim, proses pengislaman itu terjadi pada 11 Agustus 2017. Dalam surat berita acara itu tertera nama pengurus mushola H Kusno sebagai ketua dan ustadz tafsir sebagai sekretaris.

Namun, dalam surat berita acara pernyataan masuk Islam, ketua dan sekretaris mushola belum membubuhkan tanda tangan. Meskipun belum ada tanda tangan dari pengurus mushola namun sudah terdapat stempel lengkap dengan tandatangan kepala KUA.

Selain dibuatkan berita acara, anak-anak Carlim yang masuk Islam juga dibuatkan surat pernyataan memeluk agama Islam. Sama dengan surat berita acara, dalam surat pernyataan memeluk agama Islam pun belum ada tanda tangan dari pengurus mushola sebagai saksi, dari penuntun ustadz Aby Darim, serta dari yang menyatakan memeluk agama Islam.

Terbit KK Baru

Anehnya, meskipun belum ada tanda tangan dari yang menyatakan masuk Islam, saksi dan penuntun, tapi Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Kabupaten Brebes sudah menerbitkan Kartu Keluarga (KK) baru. Dalam KK yang baru itu, Carlim, istrinya, serta anak pertamanya masih tertera menganut kepercayaan.

“Tapi anak-anak saya lima orang, dari mulai yang Wiji dan adik-adiknya semua dimasukan Islam dalam KK. Apa dasar Capil (Disdukcapil) menerbitkan KK baru itu apa? Padahal anak-anak yang menyatakan masuk Islam, saksi dan penuntun belum tandatangan. Ini menjadi sangat aneh,” tambah Carlim.

Sebagai informasi, Carlim dan istrinya Wasiyah mempunyai anak tujuh. Anak pertamanya telah pisah KK karena memang sudah menikah. Kini, enam anak yang masuk dalam KK baru itu, satu memeluk Kepercayaan Sapta Darma, lima anak memeluk Islam.

Berkaitan dengan penganut Kepercayaan Sapta Darma di Kabupaten Brebes, pernah terjadi beberapa kejadian. Pada penghujung 2014, salah satu jenazah penganut Sapta Darma di Brebes ditolak di pemakaman umum. Beberapa tahun lalu, juga sempat terjadi penolakan pembangunan sanggar. [Ceprudin/04/elsaonline]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here