Tentang Jurnalisme Keberagamaan

0
49
Foto: peacejournalismcourse.blogspot.com

Oleh: Munif Ibnu FS

Manakala peristiwa kekerasan yang mulai kerap terjadi akibat sikap intoleransi umat beragama dan konflik antar etnis, maka kelangsungan hidup Indonesia sebagai bangsa mulai disangsikan. Tetapi, bagaimana bila yang Anda temukan adalah upaya-upaya membangun komunikasi antar umat, perjuangan-perjuangan untuk membangun rekonsiliasi, juga aktivitas-aktivitas sosial dan kemanusiaan yang tak memandang perbedaan etnis, agama dan golongan? Apa yang Anda rasakan? Apakah perdamaian membawa kesejukan bagi anda?

Foto: peacejournalismcourse.blogspot.com
Foto: peacejournalismcourse.blogspot.com

Sejenak mari kita belajar bersama. Saya kira, lemahnya sikap negara serta menguatnya identitas kelompok, intoleransi dan radikalisme memang menjadi tantangan tersendiri bagi dunia jurnalisme juga. Karena itu, menghadirkan jurnalisme keberagaman sejak di bangku-bangku sekolah tentunya mampu berkontribusi dalam mengawasi kesigapan negara menjalankan peran-perannya. Terutama, ketika menyelesaikan atau setidaknya mengurangi radikalisme dan intoleransi. Pasalnya, keberagaman yang terdapat di Indonesia ini menjadi hal yang harus diperhatikan bersama. Ya, Indonesia sebagai negara yang pluralis telah diciptakan dengan memiliki beragam suku, budaya, ras dan agama. Maka, pemahaman tentang akan keberagaman itu harus diketahui sejak dini pula. Dan, melalui media massa sekolah yang bernama majalah dinding atau mading tersebut tampaknya cukup berperan dalam memperkenalkan dan menanamkan keberagaman tersebut.

Pertanyaan yang diajukan, kenapa harus begitu? Harus diakui bersama bahwa pers di negeri Indonesia ini sepertinya tidak peduli dengan fakta semakin hancurnya semangat kebersamaan yang seharusnya dipelihara dan ditegakkan di negeri ini. Faktanya, sejak era reformasi bergulir, pers justru semakin melembagakan prasangka dan diskriminasi di tengah suasana yang semakin tindak kondusif karena pemerintahan kerap membiarkan aksi radikalisme dan intoleransi oleh kelompok kecil mayoritas (Islam mainstream) berlangsung.

Lewat jurnalisme keberagaman pula siswa siswi yang membuat mading sekolah tentunya diharapkan akan dapat menghargai perbedaan suku, agama, ras, gender dan syukur-syukur orientasi seksual. Di satu sisi, termasuk juga menolak diskriminasi, tidak menghakimi serta melawan radikalisme, intoleransi dan eksklusivisme. Jurnalis yang masih berstatus sekolah tidak akan memberi banyak ruang terhadap permusuhan, sebaliknya mereka lebih sering memberitakan persaudaraan dan keharmonisan.

Sudah barang tentu masyarakat kita makin terbuka dan karenanya juga makin majemuk. Dalam masyarakat semacam itu, komunikasi antar sesama termasuk pertemuan perempuan dan laki-laki sudah tidak mungkin lagi dibatasi oleh sekat-sekat komunitas eksklusif dan pergaulan para warganya tidak mungkin lagi dibatasi.

Adalah kenyataan sehari-hari bahwa warga masyarakat kita sudah terbiasa bergaul dalam suasana lintas etnis, lintas ras, lintas agama, lintas asal-usul dan sebagainya yang justru terjadi sejak masa kanak-kanak, entah di sekolah atau di lingkungan tempat tinggal. Karena itu, saling kenal mengenal sebagai sesama anak manusia yang berbeda asal-usul, berbeda agama dan kepercayaannya menjadi hal yang wajar. Sehingga, bukan lagi sesuatu yang aneh serta mengherankan.

Jika merujuk ke beberapa buku disebutkan, bangsa Indonesia memiliki keragaman dalam banyak hal, seperti suku dan agama. Sebagai sebuah bangsa, Indonesia memiliki 656 suku bangsa yang menyebar dari wilayah Sabang sampai Merauke. Berbagai suku mendiami pulau-pulau, yang satu sama lain dipisahkan lautan. Itu baru dari segi etnik, belum lagi dari segi agama.

Hal lain yang perlu diperhatikan bersama dalam memperkenalkan jurnalisme keberagaman adalah adanya model-model mono, multi dan interreligious bukanlah kategori tingkatan di mana yang satu dengan sendirinya lebih unggul ketimbang yang lain. Apalagi masing-masing bisa menjadi model yang efektif menurut konteks yang berbeda. Model monoreligius, misalnya, adalah metode yang efektif untuk tujuan internalisasi dalam rangka meningkatkan kualitas iman, seperti yang dilakukan di pesantren atau seminari, di mana peserta didik memang mempunyai latar belakang agama yang seragam.

Sementara untuk menghindari kekhawatiran yang berlebihan, model monoreligius ini masih bisa diterapkan untuk sekolah umum, tetapi hanya di tingkat sekolah dasar. Untuk sekolah menengah, model multireligius sepertinya yang semestinya digunakan. Melalui model ini, siswa berkesempatan mendapatkan pemahaman yang informative-deskriptif tentang beberapa agama di sekitarnya. Dengan demikian, sejak dini siswa dapat belajar mengapresiasi dan bersikap toleran terhadap para penganut dan warisan tradisi berbagai agama meski norma bersama dan sikap positif terhadap pluralitas hanya bisa dibentuk melalui proses yang panjang antara lain melalui model pengajaran semacam ini.

Adapun pada tahap di perguruan tinggi umum model yang paling efektif adalah interreligious. Jika model multireligius menekankan pengajaran agama-agama yang bersifat deskriptif, informatif dan objektif tentang doktrin, ritual, dan sejarah agama tertentu, model interreligious dapat bergerak lebih jauh dengan menekankan aspek dialog. Dengan melakukan studi inter religius -lintas iman, sebenarnya seseorang sedang melakukan refleksi dan memperkaya nilai-nilai agama dirinya sendiri, sehingga semakin dalam penghayatan terhadap nilai yang diyakininya, bukan mengajak untuk menjadi Universalis. Pastinya, tahapan surat terbuka ini tidak perlu harapkan hasil secara instan, namun perjumpaan ini adalah investasi jangka panjang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here