Tentang Kebenaran

0
26

Oleh: Tedi Kholiludin

Ada banyak cara untuk menjelaskan tentang apa dan bagaimana kebenaran. Jika disederhanakan, hasil saya mengaji pada Prof Mudjahirin Thohir, maka kebenaran bisa kita jelaskan melalui teori konstitutif, kognitif, evaluatif dan ekspresif.

Kebenaran yang bersifat konstitutif berasal dari sebuah keyakinan. Keyakinan itu sendiri berasal, baik dari agama ataupun mitos. Kebenaran konstitutif tercermin dalam ungkapan, “saya yakin menolong orang lain itu benar, karena ajaran agama saya mengatakan demikian.” Ajaran agama itu benar menurut pemeluknya, karena ia meyakini itu. Kebenaran datang dari apa yang diyakini, baik sumbernya agama ataupun yang lain.

Secara kognitif, kebenaran bisa bersifat empiris (pengalaman) ataupun pengetahuan (logis). Artinya, kebenaran bisa disebut kebenaran ketika bisa dijelaskan dan diterima secara rasional. Pun bisa disebut kebenaran ketika seseorang sudah atau pernah “mengalami.” Ilmu pengetahuan, teori, dan lain sebagainya lahir dari kebenaran dalam ranah ini.

Yang berikutnya, kebenaran evaluatif. Penjelasannya kira-kira begini; ia disebut sebagai kebenaran sejauh berkaitan dengan sebuah komitmen sosial, memproduksi kearifan lokal dan adat istiadat. Dan yang terakhir, kebenaran ekspresif berhubungan dengan masalah estetika, keindahan atau bolehlah kita sebut sebagai cita rasa.

Saya ingin membahas yang pertama, karena keyakinan akan kebenaran itulah yang sering menimbulkan persoalan.

Secara filosofis, kebenaran konstitutif hendak menegaskan; apa yang diklaim sebagai sebuah kebenaran, itu hadir karena ia diyakini sebagai sesuatu yang benar. Disini, saya tidak membedakan secara ketat tentang “kebenaran” dan “yang benar” seperti Ali Harb. Karena seseorang yakin terhadap sesuatu, maka ia menganggap sesuatu itu sebagai kebenaran. Dari mana keyakinan itu berasal? Kembali pada penjelasan diatas; bisa agama, mitos atau yang lainnya.

Jika ada dalam ranah individual, saya kira tidak ada persoalan tentang apa dan bagaimana sebuah keyakinan dianggap sebagai sesuatu yang benar. Kita geser ke level sosial. Bagaimana jika ada orang yang berselisih paham atau berkonflik dengan sama-sama mengatasnamakan kebenaran keyakinan keagamaan yang mereka imani? Misalnya ada orang yang mengatakan “sesuai perintah Tuhan dalam Kitab Suci saya, orang-orang seperti anda itu kafir, dan layak tidak boleh mendapatkan tempat di tanah ini?” Bagaimana status kebenaran konstitutif pernyataan ini? Apakah ia tetaplah sebuah kebenaran?

Beragama, pada hakikatnya adalah proses untuk mengikhtiarkan kebenaran. Agama adalah jalan, sementara Tuhan yang menjadi tujuannya. Kebenaran atas dasar keyakinan sebuah agama, bisa menjadi relatif ketika bersanding dengan kebenaran keyakinan agama yang lain. Hanya saja perlu diingat, kebenaran sebuah keyakinan bukanlah untuk disandingkan, apalagi dibandingkan. Sehingga, apa yang benar menurut saya secara konstitutif, tidak menjadi standar untuk yang lain.

Konflik kerapkali hadir karena masing-masing berpijak apa yang benar sesuai dengan yang diyakininya. Padahal, dalam beragama, ada kaidah-kaidah yang mengharuskan seseorang memiliki kemampuan untuk melakukan pembacaan yang komprehensif terhadap apa yang diyakininya tersebut. Siapakah orang kafir itu? Mereka yang berbeda agama atau orang yang melakukan kejahatan sosial? Pembacaan komprehensif terhadap tema-tema seperti ini yang akan banyak menolong seseorang untuk hadir ke dalam pergumulan sosial berbekal kebenaran konstitutif itu. Ini cara pertama untuk menghadirkan sebuah kedewasaan beragama.

Cara kedua adalah dengan melihat bahwa empat sumber kebenaran itu terkait satu dengan lainnya. Bahasa teoritiknya, ini semacam pendekatan interdisipliner. Sementara pada ranah praksisnya, beragama dengan mempertimbangkan secara komprehensif pelbagai sumber kebenaran, maka refleksi keberagamaannya cenderung lebih bijak.

Seseorang bisa berjalan dengan kebenaran konstitutifnya. Tapi berpijak pada kebenaran konstitutif saja, potensial membuat seseorang jatuh pada truth claim. Maka, mereka perlu membumbui yang konstitutif itu dengan kebenaran evaluatif, kognitif dan ekspresifnya. Sehingga, orang tidak akan jatuh pada pembenaran dari sudut pandangnya sendiri.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here