Teologi Pembebasan Amerika Latin: Sebuah Survei Singkat

0
31

Pada akhir 1960-an, sebuah gerakan sosial dan intelektual baru muncul di Amerika Latin.  Berakar dalam Iman Kristen dan Alkitab, gerakan tersebut mengupayakan suprasuktur ideologisnya berdasarkan refleksi-religius yang terkait-erat dengan organisasi Gereja.

Para anggota dari tarekat-tarekat (ordo-ordo) berkomitmen pada ikrar kemiskinan. Mereka tidak mempunyai harta-milik secara individual. Meski demikian, mereka menikmati standart-dan-jaminan-hidup yang memisahkan mereka dari pergulatan sehari-hari kaum miskin. Pada waktu itu muncullah pertanyaan: Kemiskinan macam mana yang seharusnya dihidupi para anggota tarekat manakala sebagian besar orang (umat) hidup dalam kemiskinan yang sangat parah, yang merendahkan harkat-martabat kemanusiaannya? Apa yang harus dilakukan oleh Gereja dan orang-orang Kristen?

Teologi Pembebasan muncul sebagai hasil dari refleksi yang kritis-sistematis atas Iman Kristen, implikasi-implikasi, dan praksisnya. Teolog-teolog yang merumuskannya adalah sekelompok kecil rohaniwan Katolik dan Protestan. Mereka melayani sebagai penasihat-penasihat para romo, suster, dan pendeta. Karena itu mereka bersentuhan langsung dengan kelompok-kelompok akar-rumput, bahkan menyediakan waktu untuk bekerja bersama-sama dengan kaum-miskin. Kontak langsung itu memunculkan berbagai pertanyaan yang pada gilirannya menjadi pergumulan teologis.

Para teolog Pembebasan memaknai Alkitab dan ajaran-ajaran kunci Kekristenan melalui pengalaman-pengalaman kaum miskin. Mereka membantu kaum-miskin untuk memaknai iman mereka sendiri dalam suatu cara yang baru. Dalam konteks itu, Kehidupan dan Pesan Yesus Kristus mendapat perhatian yang serius. Di sisi lain kini Kaum-miskin belajar membaca Alkitab dalam suatu cara yang mengukuhkan harkat-dan-martabat mereka, serta hak mereka untuk berjuang bahu-membahu demi kehidupan yang lebih layak.

Menurut Teologi Pembebasan, kemiskinan yang sangat parah, yang melanda sebagian besar rakyat (umat), adalah produk dari tatanan-masyarakat. Menyikapinya, di satu sisi Teologi Pembebasan tampil sebagai Kritik: Kritik terhadap struktur-struktur sosio-ekonomiko-politik dan ideologi-ideologi yang menopangnya; juga Kritik terhadap praksis Gereja dan orang Kristen. Di sisi lain, Teologi Pembebasan tampil sebagai pemaknaan-baru terhadap Iman Kristen berdasarkan penderitaan, perjuangan, dan pengharapan kaum-miskin.

 

Selengkapnya donwload e-Journal ELSA: Nomor 7 Volume 7 Januari 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here