Terdiskriminasi, Perempuan Sapto Darmo Terpaksa Berkerudung

5
657
Penghayat Sapto Darma di Sanggar Desa Sigentong Kecamatan Wanasari Kabupaten Brebes

Penghayat Sapto Darma di Sanggar Desa Sigentong Kecamatan Wanasari Kabupaten Brebes
Penghayat Sapto Darma di Sanggar Desa Sigentong Kecamatan Wanasari Kabupaten Brebes
[Brebes –elsaonline.com] Kerudung merupakan salah satu simbol busana yang dipakai perempuan muslimah. Jika ada perempuan mengenakan kerudung maka dapat dipastikan ia memeluk agama Islam. Anggapan demikian tidak semuanya benar, perempuan pemeluk Sapto Darmo di kabupaten Brebes banyak yang mengenakan kerudung.

Kendati agama yang turun di Pare Kota Kediri Jawa Timur ini tidak memiliki aturan yang mewajibkan perempuan mengenakan busana tertentu, namun banyak perempuan pemeluk agama ini yang memakai busana layaknya wanita muslimah demi menjaga diri dari perlakuan diskriminasi yang dilakukan wanita-wanita Muslimah.

“Saya memakai kerudung dalam acara-acara tertentu yang diikuti perempuan-perempuan Islam, karena kalau tidak pakai kerudung saya sering dipermalukan,” ujar Warnipah, pemeluk Sapto Darmo asal desa Kaliwlingi kabupaten Brebes kepada elsaonline.com, Jum’at (05/12).

Lebih jauh, ibu satu anak itu menuturkan, perempuan penghayat Sapto Darmo sering mendapatkan perlakuan tidak baik dari umat Islam, baik dalam pergaulan biasa maupun dalam acara-acara yang diadakan pegawai desa setempat. Tidak jarang dalam pertemuan di balai desa yang diikuti oleh ibu-ibu, Warnipah menjadi sasaran caci maki dan bahan tertawaan. “Warnipah, suami kamu agamanya Sapto Darmo, agama sesat, masa kamu mau ikut suaminya?,” tuturnya menirukan salah satu temannya yang beragama Islam.

Menanggapi hal tersebut Warnipah hanya senyum sembari sesekali menegaskan bahwa dirinya akan tetap memeluk Sapto Darmo. “Dalam arisan, posyandu, dan yang lainnya, saya sering diomongi tidak enak oleh ibu-ibu Islam, bahkan sering diomonginya di depan orang banyak,” sambungnya.

Tak hanya itu, anak Warnipah yang masih duduk di bangku taman kanak-kanak (TK) juga sering dibisiki guru-gurunya supaya tidak meniru kedua orang tuanya yang menganut Sapto Darmo. “Anak saya karena masih kecil jadi belum tahu, tapi omongan seperti itu kan tidak baik, wong ini anak saya, kenapa tidak boleh ikut saya dan bapaknya,” sesalnya sembari membelai rambut anaknya. [elsa-ol/KA-@khoirulanwar_88]

5 COMMENTS

  1. Parah tuh ibu-ibu pengajian. Gak cocok hidup di indonesia, mending pindah ke arab. Jadi onta tunggangan…

  2. Ibu Warnipah,

    Banggalah memeluk agama Sapto Darmo yang luhur. Seharusnya mereka lah yang malu memeluk agama Islam.

    Ujung2nya muslim akan meneladani uswatun hasanahnya yang membunuh, merampok dan memperkosa sehingga menjadi seperti Taliban, Isis, dll.

    http://www.lidwa.com/app/?k=muslim&n=2599
    http://www.lidwa.com/app/?k=ahmad&n=11266

    http://books.google.co.id/books?id=Y2SZ1RukudMC&pg=PA150&lpg=PA150&dq=melakukan+azl&source=bl&ots=svy_AFsG1q&redir_esc=y#v=onepage&q=melakukan%20azl&f=false

  3. @Enka, maaf ya, tidak semua muslim brutal seperti yang anda kira. Saya sendiri muslim, tapi saya punya teman2 katholik dan hindu, lalu keluarga ibu saya saja katholik. Saya tidak pernah mengajak mereka masuk Islam, atau mengatakan kafir. Memang betul, ada orang-orang Islam yang brutal. Tapi hanya karena satu buah mangga di pohonnya asam, tidak berarti semua buahnya asam. Berpikirlah sebelum berbicara. Seandainya begitu, harusnya dari kemarin kan saya bunuh keluarga ibu saya?

  4. yang jelas2 sesat sih ajaran biadab arap, baca aja itu kitab sucinya lebih cocok disebut sebagai panduan teroris

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here