Tertutup Akan Kebenaran

0
73

Oleh: Ceprudin

“Katakanlah padaku suatu kebenaran, wahai sufi”, demikian pinta Sang Sultan kepada  seorang Darwis.

“Mampukah telingamu mendengarkan kebenaran? Suara kebenaran itu melebihi suara petir di siang hari, selaput telingamu bisa terkoyak.,” jawab sang Darwis.

“Apa gunanya sepasang telinga yang tidak mampu mendengarkan kebenaran? Biarlah selaput telingaku robek, aku tetap ingin mendengarkan suatu kebenaran,” begitulah jawab Sultan.

“Baiklah, suatu saat nanti aku akan datang keistanamu untuk menyampaikan suatu kebenaran.” Jawab sang Darwis lagi

Akhirnya beberapa tahun kemudian datanglah lagi sang Darwis keistana Sultan. Begitu diberi tahu tentang kedatangan sang Darwis, Sultan pun bergegas ke gerbang istana untuk menjemputnya. Turut bersama Sultan saat itu sang putra mahkota, putra tunggal Sultan.

Kemudian menyalami sang Darwis. “ selamat datang, silahkan masuk Darwis.”

“Tunggu dulu, birkan aku memberkati putramu dulu, “kata sanga Darwis”.

Lalu ia menepuk-nepuk kepala Putra Mahkota sambil berkata, “kamu akan mati.”

Sultan seperti tidak mempercayai telinganya sendiri.

“Apa yang kau katakan Darwis” untuk inilah kau datang? Untuk mengutuk anaku? Untuk menyumpahinya?”, sang Sultan marah betul, bahkan diantara para menteri sudah ada yang mengeluarkan pedang dari sarungnya.

“Apa yang  kau katakan Sultan? Kau keliru menafsirkan kata-kataku Sultan. Untuk apa aku harus mengutuk anakamu? Untuk apa aku harus menyumpahinya? Aku hanya memberikan sebuah pernyataan,’ kau akan mati’, Dan pernyataan itu berlaku bagi setiap insan, bagi setiap mahluk hidup. Yang lahir pasti akan mati. Aku hanya menyampaikan kebenaran sultan. Bukankah kau pernah menanyakan, dan aku datang untuk menyampaikannya.  Sultan kau belum bisa mendengarkan kebenaran, begitu ungkap Darwis.

Cerita di atas dinukil dari Anand Krishna yang berjudul, Kematian, (Jakarta: Gramedia, 2002 hlm. 9)

Kisah ini begitu popular dikalangan intelektual hingga banyak dikutif untuk ditelaah. Amin Abdullah, salah satu guru besar UIN Jogjakarta dalam pengantar buku Hermeuneutik al-Qur’an karangan Fahruddin Faiz, (hlm. xvi) juga menggunakan kutipan kisah ini untuk menggambarkan terjadinya salah tafsir terhadap suatu symbol komunikasi, bahasa. Kisah negri sufi ini kiranya sangat menarik untuk kita simak bersama. Dari dialog antara sang Darwis dan Sultan nampaknya banyak menyingkap makna yang amat dalam.

Jika kita telaah lebih dalam, kisah ini merupakan sindiran bagi kita semua umat beragama. Siapkah kita semua mendengarkan suatu kebenaran itu? Setiap individu tentu saja ketika mendengar pertanyaan ini akan menjawab dengan tegas, “siap”. Karena secara naluriah semua manusia —meskipun ia berperilaku jahat— pasti ingin dikatakan baik. Namun benarkah realitanya semua individu bisa menerima dengan lapang dada ketika kebenaran itu bertentangan dengan hati nuraninya?

Dalam kehidupan sosial masyarakat banyak sekali terjadi perdebatan bahkan percekcokan karena perbedaan keyakinan. Baik karena ideologi-pemikiran, kepercayaan, bahkan yang kerap kita jumpai perdebatan karena berbeda agama.

Sudah siapkah anda menerima dengan lapang dada ketika ada pernyataan diri anda, organisasi anda, agama anda, pada hakikatnya adalah makhluk biasa yang tidak luput dari kesalahan dan kesilapan? Sudah bisa menerimkah jika kebenaran yang anda yakini selama ini sebenarnya “mungkin juga keliru”.

Sudah bisa menerimakah jika pemahaman yang berseberangan dengan diri anda terdapat juga kebenarannya? Siapkah anda menerima kenyataan-kenyataan yang apabila bisa “membuat selaput telinga terkoyak” seperti sang Sultan. Kesemua pertanyaan dan pernyataan di atas memang kiranya susah untuk diakui secara fair.

Yang menjadi persoalan terkadang, kita sadar ketika membaca atau mendengar pernyataan. Tapi tatkala dalam kehidupan realita yang nyata, kita akan berlaku beda, tak sejalan dengan teori yang ada. Benar jika Darwis mengatakan kebenaran itu lebih keras dari suara petir yang membuat selaput telinga robek. Tidak jarang orang yang sudah matang secara teori-ilmu pengetahuan, tapi ketika berhadapan dengan kebenaran itu sendiri tercengang dan marah seperti kebakaran jenggot.

Berawal dari hal yang demikianlah kemudian timbul debatebble (percekcokan) dari mulai ide hingga praktsis. Antara ide dan realitas (prilaku keseharian).

Itulah sekelumit gambaran ketidak harmonisan komunikasi yang dikarenakan oleh perbedaan pandangan. Kelompok satu dengan kelompok kepercayaan, agama, aliran kepercayaan terjadi ketegangan karena kesemuanya enggan saling memahami “kode” bahasa diluar dirinya. Ketegangan yang kerap hadir di hadapan anda tidak hanya antar agama semata. Melainkan juga dalam satu agama itu sendiri.

Hal demikian juga menimpa kelompok-kelompok kecil yang berpahamkan pembebasan dinilai kalangan publik kalau itu sesat. Penilaian yang subjektif dan terlalu dini memang kerap menjadi sebuah permasalahan. Sejatinya, sebelum menilai itu benar atau salah harus ditelaah terlebih dulu secara mendalam. Sehingga tidak terjadi seperti yang di alami oleh sang Sultan, dimana seketika marah karena tak mau mendengarkan kebenaran yang sesungguhnya.

Dalam kondisi demikian tampaknya wawasan akan keberagaman sangat diperlukan. Penulis yakin, dalam setiap sumber ajaran agama (kitab suci) mana pun tidak ada yang mengajarkan permusuhan.

(Tulisan ini dimuat di Jateng Post, Rabu, 24/10/12)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here