Tradisi Bercadar ada Sejak Zaman Persia Kuno

0
298
Ketua PB Lakpesdam NU Rumadi Ahmad, memberikan pengantar pada “bahtsul masail dan halaqoh perempuan untuk perdamaian” di Hotel JS Luwana, Jakarta, Selasa, 30 Januari 2018. Foto: Ceprudin

Jakarta, elsaonline.com – Menggunakan cadar atau niqob merupakan tradisi yang ada sejak lama. Bahkan, cadar sudah ada dalam tradisi masyarakat Persia Kuno (Zardash) yang menyembah api.

“Fenomena cadar itu bukanlah bersifat teologis ajaran Islam, namun merupakan budaya pada masyarakat kultural,” papar salah satu peserta “bahtsul masail dan halaqoh perempuan untuk perdamaian” Mayadina RM, di Hotel JS Luwana, Jakarta, Selasa, 30 Januari 2018.

Halaqoh ulama perempuan untuk perdamaian ini diselenggarakan Wahid Foundation bekerjasama dengan PP Muslimat NU dan UN Woman. Acara ini diikuti 30 an peserta dari seluruh Indonesia. Selama bahtsul matsail berlangsung, peserta didampingi Ketua PB Lakpesdam NU Rumadi Ahmad dan Anggota MUI Abdul Moqsith Ghazali.

Mayadina menegaskan, bahwa cadar ada hampir di semua tradisi agama. “Cadar ada dalam budaya Yahudi, Nasrani, Islam, bahkan orang Zoroaster,” tegasnya.

Kiai Imam Nakhei yang juga bertugas membahas hukum cadar menegaskan, melarang atau tidak mewajibkan menggunakan cadar, tidak bertentangan dengan hukum Islam.

Perbuatan Bid’ah

Sebaliknya mewajibkan bercadar juga tidak melanggar hukum Islam. Dengan catatan sepanjang tidak menimbulkan fitnah.

“Tapi ada juga pendapat yang menyatakan niqob atau cadar itu bid’ah, kecuali sudah menjadi tradisi. Ini pendapat ulama Malikiyah,” papar anggota Komnas HAM RI ini.

Sementara ulama-ulama Syafi’iyah lebih beragam dalam memberikan pendapat tentang hukum bercadar. “Ulama madzhab Syafi’iyah memang ada yang mewajibkan cadar. Tapi ada juga versi kedua yang tidak mewajibkan. Sementara versi ketiganya, cadar masuk pada persoalan khilaful aula,” tambahnya.

Saat ini ada tren baru di masyarakat tentang cadar. Bahkan di kalangan mahasiswa sangat populer. “Ini menjadi pertanyaan, apakah betul-betul bercadar karena teologis, karena modis, karena populis atau bahkan ada motif industri kapitalis,” sambungnya.

Sebagai informasi, pada saat berita ini diluncurkan, bahtsul masail masih berlangsung. Inilah pendapat yang muncul selama diskusi berlangsung. Hasil bahtsul akan dirilis resmi, Rabu 31 Januari 2018. [Cep/003]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here