Ulil: Kefaqihan Kiai Sahal Belum Tergantikan

0
61
Ulil Abshar-Abdalla (kanan) bersama Tedi Kholiludin dalam Diskusi Ringan yang diselenggarakan oleh eLSA
Ulil Abshar-Abdalla (kanan) bersama Tedi Kholiludin dalam Diskusi Ringan yang diselenggarakan oleh eLSA
Ulil Abshar-Abdalla (kanan) bersama Tedi Kholiludin dalam Diskusi Ringan yang diselenggarakan oleh eLSA

[Semarang – elsaonline.com] Sepeninggal Almarhum Kiai Muhammad Ahmad Sahal Mahfudz, (meninggal 24 Januari lalu) belum ada yang bisa menggantikan kefaqihannya. Kiai kharismatik yang akrab disapa Mbah Sahal ini tak ada yang meragukan dalam kealilamannya dalam bidang ilmu fiqh.

Di atas, merupakan ungkapan tulus dari seorang intelektual muda Nahdlatul Ulama (NU) Ulil Abshar-Abdalla. Ia mengutarakan itu pada kesempatan ngobrol santai bareng Lembaga Studi Sosial dan Agama (eLSA) di Bona Kafe, Ngaliyan Semarang, Rabu (26/7) malam.

“Selepas Kiai Sahal bagi saya belum ada yang bisa menggantikannya dalam hal keilmuan fiqh. Fiqh sosial utamanya. Beliau bukan hanya alim, tapi juga sangat ahli dalam artikulasinya (bicaranya),” tutur pria alumnus LIPIA, Jakarta ini.

Ulil yang malam itu mengenakan baju kotak-kotak merah itu memberikan gambaran tentang kealiman kiai-kiai pasca Kiai Sahal. Baginya, meskipun belum ada yang bisa menggantikan, namun ada beberapa kiai yang keilmuannya mendekati Kiai Sahal.

“Beliau itu kan ushul fiqhnya yang paling menonjol. Sebenarnya ada yang mendekati keilmuan beliau, yakni Kiai Husein Muhammad (dari Arjawinangun-Cirebon). Namun ada tahapan kealiman yang memang berbeda. Mungkin tirakatnya yang membedakan dua kiai ini ya,” seloroh dia sembari menyeruput kopi di gelas lenggik itu.

Meskipun demikian, Ulil mencoba membaca kelebihan-kelebihan dari Kiai Husein. Baginya, ada kelebihan dari Dewan Kebijakan Fahmina Institute.

“Kalau saya lihat, malah Kiai Husein malah lebih kaya (keilmuannya). Namun ada kekurangan yakni dalam merumuskan gagasan tak sejernih dan meyakinkan Kiai Sahal. Kekuatan Kiai Sahal ada dalam formulasinya, sehingga lebih dipercaya dan ototritatif. Itu yang kurang di Kiai Husein dan ada di Kiai Sahal,” tutur alumnus Boston University ini.

Tedi Kholiludin Direktur eLSA Semarang, menyambung pembicaraan itu. Dalam obrolan ringan itu Tedi bercerita tentang Sumanto al-Qurtubi (Pendiri eLSA) saat wawancara dengan Kiai Sahal masalah pembuatan skripsinya di IAIN Walisongo.

Kata Tedi, mungkin satu-satunya orang yang bisa membuat Kiai Sahal tertawa dan berani menatap wajah Kiai Sahal saat bertamu, ya Sumanto. “Mungkin orang yang membuat tertawa Kiai Sahal dalam berbincang itu hanya Sumanto. Kita bayangkan, semua orang ketika bertamu itu tak ada yang berani menatap wajahnya. Semua merunduk,” terang tedi, sembari berangan-angan kala itu.

Mendengar cerita itu, Ulil seketika menyambung pembicaraan Tedi. Ulil juga membayangkan bagaimana lugunya Sumanto saat masih kuliah sarjana S1 di IAIN Walisongo. “Iya betul. Saya membayangkan ndesonya Sumano kala itu. Itu kan wawancara ketika ia masih menjadi mahasiswa IAIN kan?” seloroh Ulil dengan gaya bahasanya yang khas.

Meskipun demikian, baginya Sumanto adalah orang yang hebat. Dia mengagumi dari sisi sintetis penulisan Sumanto yang mengalir dengan banyak sumber referensi. Baginya, tak banyak orang yang bisa meracik bacaan dengan baik sehingga bisa dituangkan dalam sebuah tulisan.

“Sumanto itu hebatnya melakukan sintetis gerakan bacaannya. Belum tentu orang membaca buku banyak kemudian bisa bisa meraciknya dalam tulisan. Itulah ciri khas dia, kalau menulis banyak bukunya. Namun banyaknya referensi itu tak terkesan dipaksakan. Kan ada tulisan yang referensinya banyak namun seakan dipaksakan,” imbuhnya. [elsa-ol/Ceprudin]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here