Yayasan

Company Profile

Yayasan Pemberdayaan Komunitas ELSA [Lembaga Studi Sosial dan Agama]
The Institute for Social and Religious Studies

Alamat

Perum Bukit Walisongo Permai (Perum Depag) Jalan Sunan Ampel Blok V Nomor 11 Tambakaji Ngaliyan Semarang 50185. Contact: Telp/Fax (024) 7627587. Contact Person: Ubed (085640394914) Anwar (085736812223)

Perumahan Bukit Mandiri Beringin Blok T 06 Kelurahan Bringin Ngaliyan Semarang 50189
e-mail: elsa_smg@yahoo.co.id. twitter: @elsa_smg/Sosial dan Agama.
Website: www.elsaonline.com

Latar Belakang
Lembaga Studi Sosial dan Agama atau eLSA secara resmi mendapatkan pengesahan akta notaris pada 16 Agustus 2005 dan bertransformasi menjadi Yayasan Pemberdayaan Komunitas ELSA pada tahun 2016. Sejarah eLSA sendiri sebenarnya tidak bisa dilepaskan dari komunitas Justisia, sebuah lembaga penerbitan mahasiswa (LPM) di Fakultas Syari’ah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Walisongo Semarang. Justisia sendiri terbit kali pertama pada tahun 1993.

Sebagai LPM yang berkarya di lingkungan kampus keagamaan, maka produksi gagasan Justisia tentu berputar pada isu-isu keagamaan kritis. Satu hal yang membuat Justisia menjadi agak dekat dengan nuansa kebebasan berpikir adalah karena kebebasan yang diberikan oleh pengelola kepada redaksi jurnal untuk menyuguhkan tema yang tidak terbatas pada wilayah kesyari’ahan. Bisa dikatakan bahwa tema yang ada dalam jurnal, memfasilitasi semua bentuk pemikiran dari berbagai arah.

Justisia juga menjadi perbincangan di kampus IAIN karena selalu menyuguhkan tema-tema yang kontroversial dalam aspek politik. Justisia sudah mulai menunjukan prilaku yang nyleneh pada tahun 1996 ketika keredaksian dipandegani Sumanto Al-Qurtuby. Karena, dianggap telah membocorkan dosa-dosa Orde Baru melalui tema “Prahara Orde Baru”, Justisia diusulkan untuk dibredel oleh pemerintahan orde baru. Para periset pada tema itu terpaksa harus bersembunyi karena dikejar-kejar pihak keamanan.

Tetapi, ada juga pihak-pihak yang menghargai kebebasan berpikir para penulis muda ini dan menganggap apa yang mereka introdusir sebagai bagian dari proses menuju kematangan. Respon yang sama ditunjukan oleh khalayak pembaca saat merespon tema “Gelombang Neo Wahabisme: Arus Deras Gerakan Islam Puritan” pada edisi 28. Tema-tema yang cukup menggelitik itulah yang kemudian menjadikan beberapa kalangan sering menyebut Justisia sebagai antek-antek Barat, Tangan Panjang Penguasa, Jamaah Orientalis, Dangkal Iman dan sebagainya.

Itu adalah pergulatan Justisia, komunitas yang kemudian menghasilkan eLSA sebagai lembaga. Meskipun begitu, pada perkembangan awal, eLA berusaha untuk membuka diri bagi semua individu yang ingin bergiat di eLSA. Saya mencoba mencoba merunut sejarah kemunculan eLSA, mulai dari pilihan nama, latar belakang kebutuhan akan lembaga, visi dan misi eLSA serta pilihan-pilihan instrumen yang digunakan untuk menjabarkan visi eLSA.

Inisiatif utama pendirian eLSA (Lembaga Studi Sosial dan Agama) lebih banyak didasari atas keinginan untuk mencari ruang untuk bertukar gagasan dalam ruang publik yang terbuka. Ruang demikian hanya mungkin didapatkan melalui satu lembaga independen. Pengembangan diskursus pluralisme, demokratisasi, pembelaan hak-hak kelompok minoritas akan menemukan relevansinya dalam keterbukaan ruang tersebut.

Dasar lain yang menjadi pertimbangan hadirnya eLSA adalah lesunya gairah kajian-kajian ilmiah, khususnya di lingkaran IAIN (sekarang, UIN) Semarang (tempat dimana sebagian besar anggota eLSA menimba ilmu) dan di Kota Semarang umumnya. Bersama dengan komunitas lain, eLSA berkeinginan untuk membangun iklim keilmuan yang kondusif. Dengan membubuhkan kata “Studi”, maka mandat awal lembaga ini adalah kelompok kajian.

Dengan latar belakang di atas, tahun 2005 berdirilah eLSA. Hampir semua yang terlibat dalam pendirian eLSA saat itu adalah mahasiswa aktif di IAIN. Namun begitu, dukungan terhadap pendirian lembaga ini datang dari pelbagai kalangan, terutama yang sudah sejak lama memimpikan hadirnya komunitas kajian keagamaan kritis di Semarang. Meski tentu saja tak sedikit yang meragukan eksistensi lembaga ini ke depan, mengingat personel yang duduk di kepengurusan hampir-hampir tak punya pengalaman dalam dunia organisasi masyarakat sipil.

Pengalaman yang dimiliki oleh eLSA hanyalah mengelola diskusi. Itulah yang dimiliki sejak mereka mengelola Lembaga Penerbitan Mahasiswa (LPM) Justisia di Fakultas Syariah IAIN Walisongo Semarang. Dengan bekal itulah mereka menghidupi eLSA. Kajian-kajian keislaman yang terbuka dan kritis terus dikembangkan. Hubungan dengan kelompok lintas agama terus dibina. Tak hanya itu, eLSA mulai menyuarakan ide keislaman yang toleran itu melalui media cetak sembari mengkampanyekannya melalui seminar dan diskusi terbatas.

Tahun 2009, eLSA mulai melakukan regenerasi. Darah-darah baru mulai disuntikan. Ekspektasi untuk mengepakan sayap, mulai direalisasikan. eLSA tidak hanya menjadi komunitas kajian, tetapi juga menjadi lembaga penerbitan. Karya-karya dari para pendiri maupun peneliti di eLSA dipublikasikan dan mulai dinikmati khalayak. Seperti biasa, ada pro dan kontra.

Tahun 2009 pula eLSA melihat ada peluang untuk menjadikan lembaga ini sebagai bank data untuk kasus-kasus keberagamaan di Jawa Tengah. Dengan dukungan dari banyak pihak, baik individu maupun jejaring lembaga, eLSA turut berpartisipasi dalam melakukan pemantauan (monitoring) terhadap kehidupan keberagamaan. Menyadari betapa luasnya spektrum kehidupan keagamaan, eLSA kemudian memfokuskan diri pada kebebasan beragama dan berkeyakinan (KBB) sebagai objek monitoring meski tidak meninggalkan pengamatan terhadap situasi keagamaan secara umum. Situs www.elsaonline.com mulai didesain sebagai alat kampanye eLSA melalui jargon voice of the voiceless.

Sebagai lembaga nirlaba, eLSA sedari awal memang bekerja untuk mendiseminasikan gagasan keberagamaan yang inklusif dan toleran, demokrasi, hak sipil, hak kelompok minoritas dan tentu saja penegakan hak asasi manusia. Awalnya lembaga ini menjadikan campaign sebagai medianya. Namun, pada perkembangannya, eLSA juga menjalankan proses investigasi serta monitoring. Data-data yang didapat saat melakukan monitoring itulah yang gilirannya menjadi basis untuk menjalankan proses-proses advokasi. Dengan mengusung jargon “Liberating the Oppressed” eLSA berupaya untuk menjaga ruang publik agar tetap kritis, demokratis dan nirkekerasan. Mempromosikan pemahaman keagamaan yang terbuka, toleran dan moderat adalah usaha yang terus menerus digalakan. Memperjuangkan hak-hak kelompok minoritas baik minoritas agama, etnis maupun gender adalah asa yang akan selalu menggarami lembaga ini.

Visi
eLSA mempunyai visi menegakkan demokrasi di atas basis pluralitas agama, etnis, ras, dan gender.

Misi
Menebarkan perdamaian universal yang dilandasi nilai-nilai kemanusiaan tanpa dibatasi oleh sekat-sekat primordial agama, etnisitas, ras, dan gender; menciptakan keadilan sosial di masyarakat; menumbuhkan kesadaran berdemokrasi; menanamkan pentingnya independensi dan civil society.

Dewan Pendiri Yayasan Pemberdayaan Komunitas ELSA

Abu Hapsin lahir di Kuningan, 5 Juni 1959. Pendiri Lembaga Studi Sosial dan Agama (eLSA) ini pernah mengenyam pendidikan non formal di Cipasung-Tasikmalaya, Ciwaringin-Cirebon dan Lirboyo-Kediri. Merampungkan strata Satu di Fakultas Syariah IAIN Walisongo Semarang. Gelar masternya ia peroleh dari Departemen Islamic Studies di University of California Los Angeles. Sementara program doktoralnya diselesaikan di Mahidol University Thailand dengan menulis disertasi berjudul “The Applicability of Islamic Law to the Indonesian Criminal Law: A Study of the Community of Central Java’s Perspective Concerning Sexual Misconduct.” Melakukan beberapa riset antara lain “Fiqh, Antara Pendekatan Formalistik dan Etik: Studi tentang Pandangan Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulum al-Din,” “Radikalisme Religio-Politik di Jawa Tengah,” “Kontribusi Hukum Pidana Islam terhadap Pengembangan Konsep Keadilan Hukum Pidana Positif” dan lain-lain. Menjabat sebagai Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Tengah (2013-2018) dan Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Jawa Tengah (2009-2014). Konsentrasi studinya adalah Ushul Fiqh, Filsafat Hukum Islam dan Metodologi Studi Islam.

Sumanto Al Qurtuby adalah dewan pendiri dan wakil ketua Nahdlatul Ulama cabang Amerika dan Kanada serta professor tamu di University of Notre Dame di Indiana, Amerika Serikat, dimana dia mengajar mata kuliah “Religion, Modernity, and Secularism” untuk mahasiswa master dan doktoral. Sebelumnya ia mengajar di Boston University, tempat ia memperoleh gelar PhD (Doctor of Philosophy) di bidang Antropologi Politik dan Agama di bawah bimbingan Profesor Robert W. Hefner. Selain mengajar, ia ikut mengembangkan proyek riset ambisius jangka panjang berjudul “Contending Modernities: Catholic, Muslim, Secular” yang dipimpin oleh sejarawan dan Direktur Notre Dame’s Kroc Institute for International Peace Studies, Profesor Scott Appleby. Riset ini melibatkan ilmuwan sosial dan agama dari berbagai negara. Aktivitas lain yang ia lakukan di Notre Dame adalah mengembangkan disertasi menjadi sebuah buku yang akan terbit dalam “Oxford Studies in Strategic Peacebuilding” series yang merupakan hasil kerja sama dari Kroc Institute dan Oxford University Press. Selain di Kroc Institute, tempat ia bekerja sejak 2012, ia juga menjadi “Faculty Fellow” di Notre Dame’s Liu Institute for Asia and Asian Studies. Di Liu Institute, tugas utamanya adalah memberi masukan dan nasehat kepada Direktur Liu Institute berkaitan dengan isu-isu agama dan politik di Asia Tenggara.

Sewaktu menempuh program doktoral di Boston University, ia pernah menjadi Research Scholar (Harry B. Earhart Fellow) selama satu tahun di Institute on Culture, Religion, and World Affairs (CURA) yang didirikan oleh sosiolog Peter L. Berger. Selama di CURA, ia mengikuti berbagai aktivitas diskusi dan konferensi yang dipimpin oleh Professor Berger. Selain itu, ia juga pernah menjadi Fellow di Institute for the Studies of Muslim Societies and Civilizations, sebuah lembaga riset yang didirikan oleh Profesor Herbert Mason, ahli sejarah Islam dan tasawuf serta murid Louis Masignon. Profesor Mason inilah yang menerjemahkan karya-karya Masignon tentang sufisme dan Al-Hallaj ke dalam Bahasa Inggris sehingga dikenal luas di dunia akademik Barat.

Selain memperoleh gelar doktor di bidang Antropologi Politik dan Agama dari Boston University, ia juga memperoleh gelar MA di bidang Conflict and Peace Studies dari Eastern Mennonite University di Virginia, Amerika Serikat, serta M.Si. di bidang Sosiologi Agama dari Universitas Kristen Satya Wacana di Salatiga. Sementara gelar “Sarjana Agama” ia peroleh dari Fakultas Syariah IAIN Walisongo Semarang.

Selama tinggal di Amerika, ia telah menjadi pembicara seminar dan nara sumber konferensi internasional di berbagai negara dan universitas. Ia telah menulis sejumlah buku, artikel jurnal, dan esai baik dalam Bahasa Inggris maupun Bahasa Indonesia. Beberapa tulisannya terbit di berbagai jurnal internasional, antara lain, Islam and Christian-Muslim Relation; International Journal of World Peace; Pacific Affairs; Journal of Religion, Conflict, and Peacebuilding; Islamic Studies, dan sebagainya. Beberapa buku yang pernah ia tulis antara lain Era Baru Fiqih Indonesia (1999), Arus Cina-Islam-Jawa (2003), Lubang Hitam Agama (2004), Among the Believers (2010), Semar Dadi Ratu (2011), Islam Postliberal (2012), dan Berguru Ke Kiai Bule (2013).

Sekarang, Sumanto menjadi pengajar di King Fahd University of Mineral and Petroleum, Saudi Arabia. Ia bisa dihubungi di squrtuby@gmail.com.

Sahidin lahir lahir di Banyumas pada 21 Maret 1968. Ayah dari Ahmad Naufal Farras dan Widad Nabila Az Zahra sekarang tinggal bersama istrinya, Nur Hidayati Setyani di Ngaliyan Semarang. Gelar Strata.1 diselesaikan di Fakultas Syari’ah IAIN Walisongo Semarang mengambil jurusan Peradilan Agama lulus pada tahun 1992. Kemudian berselang beberapa tahun, ia melanjutkan pendidikannya dan masuk di Program Pascasarjana di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Pada program magisternya, ia mengambil jurusan Sosiologi lulus pada tahun 2002. Sekarang sedang menyelesaikan program doktoralnya di Universitas Diponegoro (UNDIP) Semarang bidang studi Ilmu Hukum.

Ayah dari Naufal ini, aktivitas sehari-harinya selain mengajar di perguruan tinggi, ia juga aktif di berbagai lembaga, antara lain; pernah menjabat sebagai sekretaris di Lembaga Pendidikan Maarif NU Jawa Tengah, sejak tahun 2003 hingga sekarang ini dipercaya untuk menjadi bendahara di Koperasi (Baitul Mal wa Tanwil) Dana Mardlhotillah, Badan Akreditasi Propinsi Sekolah/Madrasah menjadi Asesor SMK sejak 2009. Sekretaris di Majelis Pertimbangan Pemberdayaan Pendidikan Agama Keagamaan (MP3A) Kemenag Prop Jateng sejak 2011, Koordinator Implementasi di SNIP LP Maarif NU Jateng Program AEPI mulai 2012 hingga sekarang.

Selain aktif di beberapa organisasi, dosen yang sekarang masih aktif mengajar di Fakultas Syari’ah IAIN Walisongo ini juga aktif untuk menulis, baik artikel maupun buku. Artikel yang pernah dipublikasikan antara lain, Illat dan Hikmah Tasyri’ Dalam Pandangan Fazlur Rahman, di Jurnal Al-Ahkam 2002, Kekerasan Politik Perspektif Sosiologis (Studi Kasus Kekerasan Politik di Dongos Jepara), di Jurnal Justisia 2008, Pluralisme Agama dan Pemberdayaan Civil Society di Jurnal Al-Ahkam 2004, Gerakan Sempalan Keagamaan Di Indonesia, di Jurnal Al-Ahkam 2004, Agama dalam Dinamika Politik Bangsa, di Jurnal Al-Ahkam 2005, Pergulatan Politik dan Hukum dalam Amandemen UU No. 7 tahun 1989 tentang Peradilan Agama, di Jurnal Justisia 2008.

Sedangkan buku yang pernah diterbitkan meliputi Konflik Politik, Upaya Resolusi dan Rekonsiliasi Damai (Walisongo Press, 2003), Kala Demokrasi Melahirkan Anarki (Logung Pustaka Yogyakarta, 2004) dan Politik Hukum Kebebasan Beragama di Indonesia (eLSA, 2013). Untuk lebih lanjut bisa hubungi di Telp. 024-76633646 atau 081325537480 dan email di sahidin.pandana@gmail.com.

Badan Pelaksana Yayasan Pemberdayaan Komunitas ELSA

Tedi Kholiludin (Ketua), peminat kajian Agama, Pluralisme dan Hak Asasi Manusia. Bekerja sebagai direktur Lembaga Studi Sosial dan Agama (eLSA) sejak 2007. Menulis Disertasi berjudul “Pancasila dan Transformasi Religiositas Sipil di Indonesia” sebagai tugas akhir di Program Doktoral Sosiologi Agama Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga. Spesifikasi keilmuannya adalah kajian “Civil Religion,” yang terhitung masih belum banyak dikaji di Indonesia. Ia menamatkan studi sarjana di Fakultas Syariah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Walisongo Semarang dan melanjutkan studi di Program Magister Sosiologi Agama UKSW Salatiga. Tesisnya kemudian dipermak menjadi buku yang berjudul “Kuasa Negara atas Agama: Politik Pengakuan, Diskursus “Agama Resmi,” dan Diskriminasi Hak Sipil (2009). Tedi mengajar Pendekatan Studi Agama di Universitas Wahid Hasyim Semarang.

Melakukan monitoring terhadap Kebebasan Beragama di Jawa Tengah sejak 2009-sekarang. Beberapa kali melakukan riset tentang konflik dan perdamaian yang kemudian dibukukan dalam Agama dan Pergeseran Representasi, Mengelola Toleransi dan Kebebasan Beragama, Melampaui Sekat, Pembaharuan Pemikiran Islam di Indonesia, Menjaga Tradisi di Garis Tepi, Pecinan di Pecinan dan lain-lain. Pikiran-pikiran sederhananya bisa disimak di web pribadinya www.tedikholiludin.net. Bisa dihubungi via tedi_kh@yahoo.com.

Iman Fadhilah (Wakil Ketua), menyelesaikan sarjana di Fakultas Syari’ah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Walisongo Semarang dan masternya di perguruan tinggi yang sama dengan mengambil Konsentrasi Hukum Islam. Saat ini menjabat sebagai Ketua Jurusan Hukum Ekonomi Syari’ah di Universitas Wahid Hasyim Semarang. Ia juga aktif di Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah sebagai Wakil Sekretaris. Sejak S1, ia banyak menulis tentang Epistemologi Hukum Islam dan kesyari’ahan. Menulis Problem dan Aplikasi Epistemologi Hukum Islam Muhammad Abed al Jabiri (2006) sebagai tugas akhir kesarjanaannya dan menulis tesis Studi Kritik Otoritarianisme Fiqh Khaled Abou el Fadl (2008). Iman sekarang bekerja sebagai staf pengajar di Universitas Wahid Hasyim Semarang.

Beberapa Tulisan yang sudah dipublikasikan seperti Meneguhkan Budaya sebagai Konsep Fiqh, Fiqh Tanpa Madzhab; Kritik Atas Kodifikasi Madzhab Fiqh, Aplikasi Epistemologi Baru dalam Hukum Islam, Menafsir Posisi Turats dalam Fiqh. Menjabat sebagai Sekretaris eLSA dan Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Generasi Muda Provinsi Jawa Tengah. Beberapa Penelitian yang dilakukan; Narasi Politik Radikalisme Islam di Jawa Tengah dan Peran Perempuan dalam Anti Konflik di Jawa Tengah. Berminat di kajian Fiqih dan Ushul Fiqih. Bisa dihubungi via email: iman_fadhilah@yahoo.co.id.

Siti Rofiah (Bendahara), Perempuan asal Salatiga yang sudah menetap di Semarang ini kesibukan sehari-harinya selain aktif di eLSA, ibu rumah tangga dengan 2 anak dan menjadi Dosen tetap di Fakultas Syariah dan Hukum UIN Walisongo Semarang.

Pendidikan non formal ditempuh di beberapa pesantren seperti PP. Masyithoh Tingkir Salatiga, PP. Al-Mubarokah (Banat NU) Kudus, PP. Al-Muayyad Mangkuyudan Surakarta.

Adapun pendidikan formal di tahun 2004 masuk Fakultas Syariah IAIN Walisongo Semarang dan lulus 2009. Tahun 2010 mendapat Beasiswa Unggulan dari Dikti untuk mengambil Studi Magister Ilmu Hukum di Universitas Diponegoro, lulus 2012. Pada tahun yang sama, kembali mendapat beasiswa YKHD untuk program Magister Studi Perdamaian dan Transformasi Konflik di Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta. Saat ini masih menulis tesis dengan tema “kekerasan terhadap perempuan penghayat kepercayaan”.

Sejak awal bergabung di eLSA, perempuan yang biasa disapa Rofi ini tertarik dengan kajian hukum, gender dan studi perdamaian. Untuk menghubunginya bisa melalui email: siti_rofiah012@yahoo.com atau 08 222 556 778 1.

Ubbadul Adzkiya (Sekretaris), lahir di Desa Boja Kec. Tersono Kab. Batang, tercatat pada tanggal 24 Februai 1988. Memulai studi formalnya di SD “kampung dan tertinggal’’ dan lulus pada tahun 2000, kemudian melanjutkan ke MTs NU Nurussalam Tersono Batang, lulus pada tahun 2003. Tahun 2003 ia mulai merantau ke luar kota dengan melanjutkan studinya di Kota Kretek (Kudus), “nyantri” dan mengambil program khusus keagamaan di MA NU TBS Kudus, lulus tahun 2006.

Dari Kudus ia mulai hijrah ke Kota semarang untuk melanjutkan ke perguruan tinggi, kuliah di IAIN Walisogo semarang Fakultas Syariah, Jurusan Ekonomi Islam (2006-2012). Semasa S1 tercatat pernah aktif organisasi intra maupun ektra kampus, salah satunya pernah lama belajar bersama teman-teman di LPM Justisia.

Alumnus Program Magister Manajemen Pendidikan Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga dan mahasiswa Ekonomi Islam Pasca Sarjana Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Sekarang, Ubed adalah Dosen di Universitas Wahid Hasyim Semarang. Ia bisa dihubungi di email: adzkiya24@gmail.com.