Adopsi dan Adaptasi, Strategi Agama-agama

1
97

[Semarang – elsaonline.com] Minggu, (5/8) Lembaga Studi Sosial dan Agama (eLSA) Semarang menggelar Tadarrus Ramadhan tentang “Konsep kenabian dalam Islam”. Diskusi ini berlangsung di aula kantor eLSA Jalan Sunan Ampel, Perumahan Bukit Walisongo Permai, Semarang. Hadir sebagai narasumber Abraham Silo Wilar, alumnus Hartford Seminary Connecticut dan Direktur Asosiasi Teolog Indonesia yang juga banyak terlibat dalam studi Islam.  Hadir pula dalam diskusi tersebut Pdt. Rony C Kristanto. Silo (sapaan akrab Abraham Susilo Wilar) mengungkapkan bahwa konsep kenabian yang dikenal dalam Islam sangat formalistik.

Abraham Silo Wilar

Silo dalam hal ini  mencoba menggali konsep kenabian yang tidak kaku, tapi justru elastis bisa dipahami oleh semua kalangan. “Sekarang ini ketika ada orang yang menafsirkan beda dengan konsep kenabian yang ada sekarang maka itu salah dan harus dibenarkan. Orang yang demikian lupa kalau dalam konsep kenabian itu ada sisi etika yang logis. Konsep tersebut coba saya gali dan ingin mencari basisnya dalam tradisi barat. Saya menemukannya dalam pemahaman Emanuel Levinas yang tidak mengawang-awang dalam bawah kesadaran,” papar Silo.

Landasan etika dalam konsep kenabian sekarang ini nyaris tidak ada. Kekerasan yang marak terjadi sekarang ini tak lain karena urusan perbedaan penafsiran tentang kenabian. Salah satu contohnya misalkan tragedi yang menimpa Jemaah Ahmadiyah Cikeusik yang mengakibatkan 3 nyawa melayang.

Tragedi ini bukan hanya terjadi karena urusan politik semata dan kesenjangan sosial, tapi memang ada  konsep kenabian yang rigid inilah yang menjadikan celah untuk timbunya ketegangan antar keyakinan. “Etika dalam keadaan seperti ini nyaris tidak ada. Sesama manusia tega saling membunuh. Seakan nyawa tidak berharga lagi, itu karena konsep kenabian yang kaku,” tambah Silo. Silo dalam hal ini ingin membangun konsep kenabian dari perspektif etika seorang Yahudi yaitu Emmanuel Levinas. Jadi etika dalam konsep kenabian sangatlah penting untuk menciptakan iklim kondusif dalam teologi kenabian dalam Islam.

Dalam diskusi tersebut Tedi Kholiludin juga menambahkan, bahwa sejatinya, kalau kita kaji, konsep kenabian dalam Islam itu dirunut dari tradisi agama sebelumnya termasuk Yahudi.”Kalau kita memahami konsep kenabian yang sebenarnya berdasarkan sejarahnya, maka konsep kenabian yang ada sekarang ini ya dari ajaran agama semit sebelum Islam,” Jelas Tedi.

Diskusi terus berlanjut dan semakin menarik ketika Khoirul Anwar salah satu staf redaktur Jurnal Justisia menambahkan tentang sejarah klasik keislaman. Awang (sapaan akrabnya) mengatakan hal yang paling kaku adalah interaksi antara Islam dan Yahudi. Awang menceritakan mengenai hukum Salam terhadap orang Yahudi dan non muslim pada umumnya.

“Pada suatu saat ada segerombolan Yahudi yang datang ke rumah Nabi. Nah para Yahudi menyampaikan Assamu’ Alaikum (Semoga kebinasaan menimpa kalian semua), kepada orang seisi rumah Nabi waktu itu. Kemudian Fatimah menjawab Wa’alaikumussaam wa laknatu Allah ‘alaik (Semoga kebinasaan itu menimpa kamu serta dilaknat oleh Allah),” ungkap Awang. Inilah sejarah yang dijadikan rujukan oleh kebanyakan fuqoha untuk mengharamkan mengucapkan salam kepada non-Muslim. Setelah ditelusuri sejarahnya, ternyata orang Yahudi yang masuk ke rumah Nabi Muhammad tersebut adalah orang Yahudi yang sedang marah kepada Nabi. Sehingga saat ini hukum mengucapkan salam yang artinya mendoakan sejahtera dan keberkatan boleh diucapkan kepada orang Yahudi dan non-Muslim.

Diskusi hangat di malam bulan puasa

Disinilah peringgungan antara Muslim dan Yahudi. Mencoba mengaitkan dengan konsep kenabian berbasis etika dari Yahudi, dalam hal ini bisa saja. Karena ketika kita mencoba menggali konsep-konsep Yahudi tentang etika kemanusiaan sangat tinggi. “Disni agar konsep kenabian tidak menimbulkan kekerasan karena perbedaan penafsiran mungkin juga bisa dibangun atas dasar etika kemanusiaan atau HAM,” tambah Awang.

Memang benar, sejatinya kita semua tidak ada batasan antara Yahudi, Nasrani, Muslim dan lainnya. Tapi kita sebagai manusia adalah satu. Dalam tradisi agama hanya melanjutkan saja dari tradisi sebelumnya. Ketika satu agama turun, maka ia tidak merubah begitu saja yang ada di muka bumi. Ada juga etika-etika yang diadopsi oleh agama yang turun dari ajaran yang sudah berkembang sebelumnya dan kemudian mereka melakukan adaptasi.

“Sejatinya memang kita adalah satu. Kebaikan agama yang satu dengan agama yang lain sejatinya sama. Karena dalam perkembanganya selalu saja terjadi tradisi saling melanjutkan seperti yang terjadi dalam dunia filsafat. Setelah berkembang dari dunia barat kemudian dunia filsafat berkembang di bagian timur dimana mayoritas adalah orang filosof-filosof Muslim. Salah satunya adalah Ibnu Sina dan lainnya” sambung Silo.

Statemen Silo juga dibenarkan oleh Awang. Bahwa tugas seorang Muslim agar ajaranya berkembang memang harus mengakui bahwa dalam agama yang lain juga ada kebaikan. Justru Islam sebagai agama yang turun paling belakangan harus mengakui perkembangan ajaran keagamaan yang lain. “Kalau Islam tidak menyuarakan kebebasan beragama maka Islam tidak akan berkembang. Karena Islam turun paling belakangan di antara agama-agama semit,” sambung lagi awang.

M. Najibur Rohman mantan pemimpin redaksi Jurnal LPM Justisia yang mengangkat tema tentang konsep pewahyuan dalam kenabian menyambung dari diskusi konsep kenabian. Najib mengatakan “Dalam Jurnal Justisia yang mengangkat tema Mitos-Mitos kenabian bahwa nabi Mumammad adalah tetap sebagai seorang Nabi. Namun memang dalam konsep pewahyuan dalam Jurnal itu ada yang dinamakan dengan wahyu verbal dan nonverbal,” sambung Najib.

Wahyu verbal adalah wahyu yang kemudian sekarang terbukukan menjadi al-Qur’an dan wahyu yang non verbal yaitu kebaikan-kebaikan yang datang bukan dari Nabi. Tapi itu juga bisa dijadikan landasan sebagai kebaikan. “Dari sini Nabi Muhammad sebagai khotamul anbiya itu benar. Karena kebaikan-kebaikan yang bersumber bukan dari Nabi itu benar. Namun bukan wahyu yang datang dari Nabi Muhammad” pungkas Najib.

Keterkaitan antara ajaran-ajaran agama itu masing-masing mempunyai kelebihan dan kekuranganya. Kekurangan itu yang sering kali menjadi kelemahan-kelemahan dalam masing-masing agama. Satu agama dengan agama yang lain tak jarang saling menjatuhkan karena kelemahan tersebut. Untuk mendialogkan kekurangan ini harus selalu dilakukan semacam diskusi-diskusi agar tidak saling menjatuhkan dan menjelekan sesama ajaran agama. “Semoga kekurangan dari masing-masing agama tidak menjadikan titk persinggungan yang berpangkal pada kekerasan. Kekurangan dalam suatu ajaran agama pasti iya. Namun kekurangan-kekurangan ini harus kita jadikan kelebihan untuk menjalin kebersamaan dan saling melengkapi,” ungkap Pdt. Rony C Kristanto dalam akhir diskusi. (Ceprudin/elsa-ol)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here