elsaonline.com

Voice of the voiceless

Asyuro adalah Madrasah Besar

2 min read

Ustadz Thoha Musawa menyampaikan khutbah pada peringatan Hari Asyuro [Foto: Jaedin]

[Semarang -elsaonline.com] Kegiatan Peringatan Hari Asyuro yang dilaksanakan kelompok Syiah di Semarang berlangsung aman meski pada sempat ada seruan mengumpulkan masa untuk menolak acara tersebut melalui media sosial. Masa yang menolak sendiri, sempat datang ke tempat kegiatan meski kemudian berhasil dibubarkan aparat keamanan, Sabtu (29/8) kemarin.

Acara tersebut telah dikawal dari berbagai unsur. Kurang lebih ada 50 personil kepolisian diturunkan untuk mengamankan acara yang berlangsung sejak pukul 12.00. Hari Asyuro sendiri dilaksanakan di rumah Syekh Baghir yang juga Ketua Yayasan Nuruts Tsaqolain, Semarang. Ketika kegiatan berlangsung, dan di depan rumah hingga jalanan situasi sempat mencekam beberapa saat meski pengawalan ketat dari kepolisian juga ada.

Turut hadir dalam acara tersebut Ketua Forum Komunikasi Umat Beragama Jawa Tengah, Persaudaraan Lintas Agama (Pelita), Pegiat Yayasan Lembaga Studi Sosial dan Agama (ELSA) dan kelompok lintas iman.

Taslim Sahlan selaku ketua FKUB Jateng memberikan sambutan bahwa maksud dan tujuan hadir dalam acara tersebut melainkan untuk membangun kerukunan antar umat beragama.

“Minggu lalu kami habis sowan ke Ahlul Bait di Jepara. Dan kami komplit, ada dari Kristen, Hindu, Budha, Penghayat, dan juga dari kelompok keagamaan lainnya,” jelas Taslim .

Taslim menegaskan bahwa paling tidak dalam acara Asyuro kita bisa meneladani perjuangan Sayyidina Husein yang paling utama, kasih sayang sesama manusia.

“Kami mengapresiasi kegiatan yang baik. Kegiatan yang baik tentu harus diapresiasi oleh semua orang. Bukan hanya umat Islam tapi, umat manusia. Boleh dalam sejarah Karbala ada sisi kepiluan, tapi mari kita bangkit untuk memanusiakan sesama umat manusia. Dan kami terus bersilaturahmi ke Kristen, Budha, Hindu, Penghayat Kepercayaan, demi kemanusiaan. Sowan ini kami bermaksud untuk perekat, bukan untuk penyekat,” tandas Taslim.

Baca Juga  Tercatat ada 10 Kasus Sara pada Pemilu Serentak di Jateng

Ia menambahkan bahwa Innamal muminuna ikhwah, sesungguhnya sesama umat beriman itu saudara. Begitupun sesama manusia, bersaudara juga, ukhuwwah basyariah.

Syekh Thoha Musawa, dalam khutbahnya menyampaikan bahwa manusia harus belajar dari Asyuro tentang nilai-nilai luhur kemanusiaan. Bagaimana belajar agama dengan sebaik-baiknya. Semangat Asyuro ditujukan bagi setiap insan, bukan monopoli kelompok tertentu. Asyuro merupakan sebuah madrasah besar. Asyuro dapat diartikan bahwa kita harus bersahabat memperhatikan hak dan kewajibaan manusia. Ada sekelompok manusia yang memaksakan haknya dan hal yang paling parah, itu dilakukan atas nama agama. Padahal apa yang ditampilkan sungguh jauh dari nilai-nilai agama.

“Pelajaran yang ditampilkan di Karbala, memanfaatkan orang-orang bodoh untuk membungkam lisannya. Mari kita lihat gerakan Husain Bin Abi Tholib, gerakan Husain sesungguhnya sedang menyasar dua hal, mengentaskan umat dari kebodohannya dan mengentaskan umat dari kesesatannya.

“Kebodohan apabila tidak diluruskan akan sangat fatal sekali. Gerakan Husain dihentikan dengan paksa. Padahal, ia sebenarnya sedang menegakkan dan mengajarkan apa yang sudah dilakukan kakeknya, ” jelas Ustadz Thoha.

Ia menambahkan bahwa agama yang disampaikan oleh Nabi Muhammad adalah ajaran yang tidak pernah menabrak portal-portal kemanusiaan. Nabi Muhammad hingga wafatnya, tidak pernah menyakiti orang lain, dan ini diikuti oleh Husain. Ajaran yang begitu kuat menancap di hati sanubari Husain untuk melanjutkan visi suci kakeknya. [Jaedin]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *