Banyumas Waspada Islam Radikal

M. Hidayaturrohman
M. Hidayaturrohman
[Banyumas –elsaonline.com] Di antara sederet nama teroris yang berhasil diungkap pihak kepolisian yaitu Abu Dujana yang tinggal di Desa Kebarongan Kecamatan Kemranjen Kabupaten Banyumas. Abu Dujana tinggal di kompleks pondok pesantren yang berada di Desa tersebut, setiap harinya ia berprofesi sebagai pedagang madu dan minyak wangi. “Teroris kedoknya usaha jualan madu dan herbal,” ungkap M. Hidayaturrohman, Wakil Sekretaris Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Banyumas kepada elsaonline di sela-sela kegiatan LP Ma’arif NU di Madrasah Ibtida’iyah Desa Kebarongan Kecamatan Kemranjen Kabupaten Banyumas April lalu.

Menurut Dayat, demikian beliau akrab disapa, Banyumas merupakan wilayah yang menjadi sasaran utama penyebaran paham salafi, karena selama ini masyarakat Banyumas menjadi basis organisasi masyarakat (Ormas) Muhammadiyah yang konservatif. Penyebaran paham salafi kepada mereka lebih mudah ketimbang ke ormas lain seperti Nahdlatul Ulama (NU).

“Di wilayah-wilayah tertentu yang mereka punya basic itu mereka lebih mudah untuk mendekati misalnya dengan basic Muhammadiyah mereka akan mudah untuk masuk kesana. Makanya sebenarnya Muhammadiyah yang paling merasa kecolongan dengan perkembangan Islam salafi itu,” paparnya.

Di Desa tempat tinggal Abu Dujana terdapat madrasah yang berpaham salafi. Madrasah ini pernah mengharamkan upacara hormat kepada bendera. “Di madrasah itu jarang mengadakan upacara, kalaupun mengadakan hanya sebatas kepura-puraan supaya tidak dianggap sebagai sarang garis keras,” terangnya.

Selain melalui lembaga pendidikan penyebaran kelompok Islam radikal juga memanfaatkan masjid sebagai sarana untuk menyebarkan dakwahnya. Menurut Dayat, ada dua Desa di Kecamatan Kemranjen yang masjidnya sudah dikuasai oleh salah satu kelompok Islam salafi, yaitu di Desa Pageralang dan Desa Alasmalang.

“Masjid-masjid kita (nahdliyyin, red) banyak yang mereka itik-itik, padahal logonya jelas, mereka berani melakukan kegiatan mereka, bahkan door to door dalam menyampaikan misi visinya. Yang muncul di sini salafi wahabinya. Sampai sekarang Desa Kebarongan identik dengan Islam garis keras,” pungkasnya. [elsa-ol/KA-@khoirulanwar_88]

Baca Juga  Indonesia Ibarat Taman
spot_imgspot_img

Subscribe

Artikel Terkait

Hadir Tanpa Menetap: Tentang Absence

Belakangan ini saya sedang tertarik menelaah gagasan filsuf asal...

Dari Administrasi hingga Transformasi Organisasi

Memasuki dasawarsa kedua sejak kelahirannya, Yayasan Pemberdayaan Komunitas (YPK)...

GPIB DAN RELASI GEREJA-NEGARA DI INDONESIA

Kajian mengenai relasi gereja dan negara merupakan tema yang...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini