Beda itu Indah

Prof Mudjahirin Thohir. [Foto: Parkee]
Prof Mudjahirin Thohir. [Foto: Parkee]
[Semarang –elsaonline.com] Masih banyak suatu komunitas penganut aliran keagamaan yang megklaim diri sebagai ajaran yang benar dan yang berbeda salah. Bahkan masih banyak pula orang-orang yang mempolitisasi agama untuk kepentingan kekuasaan. Karena itu, betapa masih banyak ‘pekerjaan rumah’ untuk mengidealkan bagaimana agama berfungsi sebagai sumber peradaban, bukan sebagai instrument politik maupun alat pemilahan sosial.

Demikian pendapat Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Jawa Tengah, Prof Mudjahirin Thohir, sewaktu mengakhiri presentasi makalah dalam acara ‘Sarasehan Tokoh Agama dan Penghayat se-Karesidenan Pekalongan’ di Hotel Regina No 10 Pemalang, Jumat 12/3) pekan lalu. Acara tersebut, diikuti sebanyak 30 tokoh penghayat dan 40 tokoh agama serta pemuda lintas agama.

Guru Besar Ilmu Antropologi Undip, menjelaskan, pada dimensi teologis, setiap agama diberi ruang yang sah untuk mendefinisikan kebenaran mutlak atas agama yang dipeluk umatnya. Sehingga, lanjut dia, umat tidak ragu-ragu atas pilihannya. “Jika tidak bercorak sakral, nasib agama seperti partai politik. Masing-masing bermain ‘kutu-loncat’. Jadi, kebenaran mutlak hanya untuk pemeluknya, bukan yang berada di luar,” tuturnya.

Selain itu, pria kelahiran Kendal, menyebutkan, ketika hidup dalam masyarakat plural, pemeluk masing-masing agama atau aliran keagamaan juga harus meyakini bahwa keragaman agama dan budaya adalah mutlak adanya. Menurutnya, di sinilah dimensi sosiologis dari agama harus diejawantahkan dalam pikiran, sikap dan tindakan. “Inilah pesan agama, memperadabkan manusia. Sehingga dalam perbedaan itu selalu ada keindahan,” terangnya.

Kendati demikian, pihaknya menilai, mengindahkan kehidupan tidak berarti menghindar atau menafikan persaingan. Menurutnya, persaingan justru hadir sebagai anak kandung adanya keragaman dan perbedaan. Lebih jauh, dia menegaskan bahwa agama itu sesungguhnya menganjurkan bersaing dalam kerangka mencapai kemaslahatan umat manusia. “Ya, karena dalam persaingan, mendorong kita untuk meningkatkan kualitas kehidupan,” pungkasnya.[elsa-ol/Munif-@MunifBams/001]

Baca Juga  Nasib Gereja Dermolo Kembali Menggantung
spot_imgspot_img

Subscribe

Artikel Terkait

Perlindungan Pembela HAM di Era Digital: Catatan untuk Revisi UU HAM

Oleh: Tedi Kholiludin Kementerian Hak Asasi Manusia (Kemenham) telah meluncurkan...

Dekolonisasi HAM: Transformasi Kultural dan Mobilisasi Politik

Salah satu kritik terhadap penegakan hukum Hak Asasi Manusia...

Dinamika Dunia Sastra di Indonesia

Secara umum (terminologi), sastra dapat dimaknai sebagai bentuk karya...

Tidak Ada Ruang Publik Gratis dan Demokratis

Oleh: Alfian Ihsan Dosen Sosiologi Universitas Jenderal Soedirman   Apakah Anda selalu...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini