Data di Pakem: Ada 296 Organisasi Aliran Kepercayaan di Jawa Tengah

[Semarang – elsaonline.com] Senin (24/9) Lembaga Studi Sosial dan Agama (eLSA) Semarang mengadakan diskusi ringan bersama Badan Koordinasi Pengawas Aliran Kepercayaan Masyarakat (Bakorpakem) Jawa Tenagh. Diskusi tersebut berlangsung 1 jam yang bertempat di kantor Bakorpakem Jawa Tengah. Tujuan diadakanya diskusi tertutup tersebut untuk menggali data lebih dalam lagi terkait perkembangan aliran kepercayaan yang ada di Jawa Tengah. Tedi Kholiludin mengatakan, kunjungan eLSA ke Bakorpakem ini untuk menggali data-data perkembangan aliran kepercayaan yang ada di Jawa Tengah. Karena selama ini eLSA mendapatkan data tentang aliran kepercayaan terutama melalui media cetak. Dan itu tidak cukup memadai jika dibanding dengan perkembangan aliran penghayat kepercayaan yang ada di Jawa Tengah yang semakin berkembang.

Perkembangan aliran kepercayaan di Jawa Tengah tergolong banyak. Hingga akhir tahun 2012 ada sekitar 300-an aliran yang tercatat di Bakorpakem. Perkembngan aliran penghayat kepercayaan akhir-akhir ini banyak tumbuh dan berkembang di Jawa Tengah. Jumlahnya hingga berkisar 296 aliran. Data ini  hanya yang tercatat di Bakorpakem dan alirannya masih hidup (aktif).

Selain jumlah 296 aliran yang masih aktif, ada juga aliran yang tidak aktif. Ada sekitar 43 aliran kepercayaan yang sudah tidak aktif lagi melakukan kegiatan. Dalam menyikapi aliran kepercayaan yang semakin berkembang pihak Bakorpakem hanya bisa sebatas melakukan pengawasan. Tidak lebih dari itu. Namun Bakorpakem juga berhak melakukan upaya-upaya pencegahan ketika muncul suatu aliran dan terjadi perbedaan dengan agama. Upaya itu dilakukan agar dimasyarakat tidak terjadi ketegangan dan  saling menyinggung keyakinan yang satu dan lainya.

Dari kiri ke kanan: Tedi Kholiludin dan Yayan M. Royani (eLSA), Budi Santoso dan Maskad (sedulur Sikep Kudus) saat beraudiensi dengan Kepala Diknas Kabupaten Kudus.

Bakorpakem bertugas sebatas pengawasan dan jika ada ketegangan karena adanya perbedaan dalam suatu aliran kepercayaan Bakorpakem juga hanya bisa sebatas mencegah terjadinya konflik karena munculnya perbedaan paham baik antar pengikut aliran penghayat kepercayaan dan masyarakat.

Baca Juga  Ini Cerita Alumni Rohis yang Pernah Ikut Pengajian Khilafah

Pihak Bakorpakem juga mengakui kalau data yang ada sekarang tidak bisa dipastikan valid. Dari itu Bakorpakem berencana akan menggelar rapat koordinasi dengan Bakorpakem daerah. Selama ini di Jawa Tengah beruntung  masih terjaga kondusifitas warganya meskipun banyak munculnya aliran kepercayaan. Peta konflik keagamaan aliran kepercayaan relatif kondusif. Daerah yang paling banyak muncul aliran kepercayaan antara lain, Semarang, Blora dan Cilacap serta Solo. (Ceprudin/elsa-ol)

spot_imgspot_img

Subscribe

Artikel Terkait

Perlindungan Pembela HAM di Era Digital: Catatan untuk Revisi UU HAM

Oleh: Tedi Kholiludin Kementerian Hak Asasi Manusia (Kemenham) telah meluncurkan...

Dekolonisasi HAM: Transformasi Kultural dan Mobilisasi Politik

Salah satu kritik terhadap penegakan hukum Hak Asasi Manusia...

Dinamika Dunia Sastra di Indonesia

Secara umum (terminologi), sastra dapat dimaknai sebagai bentuk karya...

Tidak Ada Ruang Publik Gratis dan Demokratis

Oleh: Alfian Ihsan Dosen Sosiologi Universitas Jenderal Soedirman   Apakah Anda selalu...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini