Dongeng Menjadi Instrumen Menyampaikan Nilai Universal

0
84

[Semarang -elsaonline.com] Lebih dari sekadar cerita yang mengayun anak-anak hingga tertidur lelap, dongeng yang dituturkan memiliki muatan nilai yang luhur. Kebutuhan akan dongeng, dalam pengertian nilai yang terkandung didalamnya, justru adalah kebutuhan orang dewasa. Karenanya, mengkaji dan menilik nilai dalam dongeng anak-anak juga cara orang dewasa menyerap moral cerita.

Percakapan tersebut mengemuka dalam Diskusi Seri Dongeng Anak yang dihelat Yayasan Lembaga Studi Sosial dan Agama (ELSA), Selasa (18/6) lalu. Diskusi yang dihadiri oleh belasan staf ELSA itu dihelat di rumah Ketua Yayasan ELSA, Tedi Kholiludin. Sang tuan rumah didaulat menjadi pemantik diskusi dengan membaca sebuah seri cerita anak tentang hikayat si kelinci, “The Rabbit Tale”. Dongeng anak singkat itu bercerita tentang keluhan sang kelinci yang mengeluh karena rumahnya teramat sempit.

“Ia kemudian mendatangi si Burung Hantu yang sedang menikmati angin sepoi-sepoi di pohon” Tedi membacakan cerita. Singkat cerita, kancil mengajak teman-teman dan saudaranya untuk tinggal bersama dia hingga sore hari. Bukannya menjadi solusi, ia justru semakin tersiksa karena dirinya nyaris tak bisa bergerak.

Seperti biasa, ia kemudian kembali mendatangi burung hantu untuk mengadu. “Sekarang, suruh mereka pulang,” Burung Hantu memberi saran. Karena percaya dengan segala titah Burung Hantu, kancil kemudian menyuruh semua yang ada di rumahnya untuk pulang. “Hore, sekarang rumahku menjadi luas,” teriaknya girang.

Tedi kemudian membedah nilai yang terkandung dalam cerita tersebut. “Nilai universal yang tersirat bisa kita ambil dari nilai tersebut adalah tentang penerimaan terhadap apa yang dimiliki, tidak berlebihan dan seterusnya. Saya kira ini moral story-nya. Tidak sulit menangkapnya, tapi, kalau mau kita transformasikan menjadi sebuah sikap hidup, tentu saja ini praktek yang sangat susah,” kata Tedi.

Tedi menambahkan, banyak sekali dongeng-dongeng anak yang menampikan binatang sebagai tokohnya. Dan biasanya, dalam karakter yang dimainkan, ada sifat-sifat manusia yang terepresentasi disana.

Ali Masruri, kru Lembaga Penerbitan Mahasiswa Justisia menyampaikan kalau moral cerita dari The Rabbit Tale itu ia jumpai dalam narasi yang berbeda. “Saya baca kisah Abu Nawas yang isinya kurang lebih sama dengan cerita tadi. Bahkan alurnya juga sama. jadi mungkin dalam tradisi masyarakat tertentu ada nilai yang kemudian disisipkan,” terang Ruri, panggilan akrabnya.

Dalam kesempatan yang sama, peserta lainnya, Fakhriza membacakan dongeng anak dengan spirit universal. Dongeng yang dibacakannya berjudul “The Greedy Dog.” Kisahnya adalah tentang anjing yang rakus. Ia sudah menggigit tulang. Tatkala melewati sungai ia melihat tulang di sungai yang sesungguhnya bayangannya. Tulang bayangan itu lebih besar ukurannya. Entah agar tulangnya menjadi dua atau karena dia ingin yang lebih besar, anjing itu pun mencaplok tulang bayangan. Naas, bukannya mendapatkan dua, tulang yang sedang digigitnya pun akhirnya terjatuh dan tenggelam hingga ke dasar sungai.

Iwan Madari, fotografer lepas yang biasa hadir mendokumentasikan kegiatan ELSA juga turut terlibat dalam percakapan tentang dongeng anak itu. Ia berargumen tentang banyaknya karakter-karakter binatang sering digunakan dalam dongeng.

“Menurut saya, karakter binatang biasanya mewakili sifat suatu tokoh, misalnya dalam dongeng yang telah disebutkan diatas tokohnya adalah kelinci & burung hantu. Kelinci dijadikan tokoh dalam dalam dongeng itu karena kelinci simbol karakter lincah dan gesit. Sementara burung hantu dianggap simbol kebijaksanaan. Tentu saja simbolisasi ini tergantung budaya suatu bangsa,” terangnya.

Dalam kultur eropa, Iwan menambahkan, kucing hitam dianggap sebagai simbol kesialan seperti yang terlihat dalam cerita pendek yang ditulis Edgar Allan Poe. Cerita pendek tersebut berkisah tentang orang yang memelihara kucing hitam bernama Pluto. Pluto sendiri adalah dewa kematian bangsa Romawi. Orang itu selalu tertimpa sial.

Sementara di Jepang, kucing dianggap pembawa keberuntungan. Mereka banyak muncul di berbagai bentuk kebudayaan jepang dari tradisional maupun pop. “Misalnya dalam anime Inuyasha muncul karakter kucing siluman yang bernama Kirara, dalam Sailormoon ada karakter kucing bernama Luna, ada juga Doraemon, hello kitty juga dalam novel ‘I am the cat’ dan Maneki Neko, boneka kucing berwarna putih yang salah satu tangannya selalu mengayun,” alumnus Sastra Inggris ini menjelaskan panjang lebar.

Masih kata Iwan, simbolisasi ini tak cuma terbatas dalam binatang-binatang dalam bentuk nyata tapi juga binatang-binatang mitologi. “Naga yang merupakan simbolisasi dari kekuatan, sering digunakan dalam simbol & bendera suatu negara, seperti Bhutan dan Wales. Ada juga yang diinspirasi dari suatu peristiwa seperti Godzilla yang inspirasinya muncul dari bom atom Hiroshima dan Nagasaki serta insiden kapal ‘Lucky Dragon 5’ sebagai simbol kekuatan yang tak bisa dikendalikan manusia,” imbuh Iwan.

Kegunaan simbolisasi menggunakan hewan-hewan ini adalah sarana untuk memudahkan mengidentifikasi sifat suatu karakter dan umumnya muncul dalam cerita fabel walaupun ada kasus tertentu hanya berperan sebagai elemen budaya suatu bangsa, seperti karakter kucing di Jepang dan Eropa .

Di kesempatan lain, Alhilyatuz Zakiyyah menyoroti dimensi rasionalitas dalam dongeng. “Pada apa yang kita kerap kenal sebagai sesuatu yang irasional, sesungguhnya ada yang rasional disana. Begitu juga sebaliknya. Pada apa yang rasional juga sering kita temukan irasionalitas,” terang Hilya.

Cahyono, peneliti ELSA menambahkan, ketika bicara dongeng, kita teringat dengan pengalaman waktu masih kecil. “Orang tua menyuguhkan beragam cerita atau dongeng dengan karakter dan metode yang sama, di sana saya melihat begitu kental tradisi lisan yang dimiliki masyarakat Indonesia,” tukas Cahyo.

Dongeng menjadi instrumen yang menarik ketika disampaikan melalui tulisan atau dalam hal ini buku dan visual. “Mungkin teori storytellingnya Hannah Arendt relevan sebagai pendekatan teori analisis dongeng anak ini, di mana visualitas salah satu komponen penting yang memudahkan kita menyampaikan pesan atau substansi sebuah cerita,” tambah Alumnus Sosiologi Agama Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW).

Melihat kenapa binatang yang menjadi tokoh imajinatif dalam dongeng anak, Cahyo beralasan, dongeng menjadi naratif teks yang merupakan instrumen bagus untuk dikemas dengan kreatif. “Barangkali penulis melihat binatang sosok tokoh dongeng yang mudah divisualisasi karakteristiknya. Berbeda dengan manusia yang menjadi tokohnya,” imbuh Cahyo.

Dessy Meigawati, peserta lainnya juga turut memberi perspektif. Sebagai ibu rumah tangga, ia kerap disodori banyak cara pandang tentang substansi dongeng anak yang baik. Secara umum, katanya, ada dua model cerita kepada anak. “Saya membaca pikiran Charlotte Mason. Disana disebutkan ada dua jenis buku. Pertama, pustaka hidup, atau living books. Kedua, twaddle,” kata Meiga membuka paparannya.

Pustaka hidup atau living books biasanya berkisah secara naratif dan membantu menginspirasi anak. Sementara twaddle adalah sebaliknya. Seolah-olah enak tapi tidak bergizi. [elsa-ol/TKh]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here