Empat Tipologi Perlawanan Kultural

0
103
Foto: https://www.widewalls.ch/urban-arts-symbols-of-resistance/

Oleh: Tedi Kholiludin

Dalam konteks kajian tentang perlawanan, harus diakui bahwa elaborasi James Scott memberikan kontribusi yang besar. Ia memperluas cakupan perlawanan tidak hanya dalam pengertian resistensi terbuka. Scott menggambarkan perlawanan dalam pelbagai strukturnya. Setiap ada usaha untuk mengurangi kekuatan, disitulah ada perlawanan. Persis seperti teorema Foucault yang menyatakan bahwa perlawanan selalu berhubungan dengan kekuasaan dan juga dominasi. Perlawanan adalah tentang bagaimana membatasi dalam penerimaan terhadap kekuasaan. Kita bisa simak tuturan menarik Scott ini di dua karyanya, Weapons of the Weak: Everyday Forms of Peasant Resistance dan Domination and the Art of Resistance: Hidden Transcripts.

Saya menggunakan cara pandang Scott ini untuk melihat bentuk-bentuk perlawanan yang dilakukan kelompok Sedulur Sikep di Kudus. Elaborasi ini merupakan satu chapter yang ada dalam buku Menjaga Tradisi di Garis Tepi: Identitas, Pertahanan dan Perlawanan Masyarakat Etno-Religius.

Menariknya, gambaran Scott tentang “perlawanan sehari-hari,” tidak secara serta merta terduplikasi dalam masyarakat Sedulur Sikep. Meskipun paralel dari latar belakang masyarakatnya, tetapi strategi perlawanan yang dilakukannya agak sedikit berbeda. Di era kolonial, penganut Agama Adam menunjukkan perlawanan terbuka, terutama yang menyangkut penggunaan hutan bagi para petani yang dibatasi, kepemilikan negara atas hutan serta administrasi pemerintahan yang mengharuskan mereka membayar pajak.

Kekuatan untuk melakukan perlawanan secara terbuka mendapatkan daya dukung secara doktrin. Peneguhan itu muncul dalam formulasi kebudayaan serta identitas keagamaan mereka. Agama adam sendiri adalah resistensi simbolik dalam konteks hak warga Sedulur Sikep sebagai warga negara. Dan itu tidak hanya terjadi pada era kolonial saja. Keterbukaan penganut Sedulur Sikep tentang jatidirinya sebagai penganut Agama Adam adalah sebentuk perlawanan simbolik juga perlawanan kultural terhadap kebijakan negara atas agama-agama.

Dengan mencermati dinamika dan model perlawanan terhadap kekuasaan, dan menjadikan Sedulur Sikep sebagai unit yang dibaca, saya mencermati ada empat tipologi perlawanan kultural yang dilakukan oleh masyarakat

Pertama, perlawanan aktif yang ditunjukkan dengan penolakan membayar pajak. Di era kolonial, sikap ini dengan jelas ditunjukkan seperti yang sudah disinggung sedikit diatas. Protes juga mereka layangkan dalam masalah kepemilikan hutan. Kelestarian lingkungan menjadi salah satu tema besar perjuangan kalangan Sedulur Sikep. Dari sudut pandang isu, lingkungan merupakan tema yang melintasi zaman. Bedanya dalam medium perlawanannya. Di era kolonial lebih bersifat konfrontatif, pada masa sesudahnya agak bergeser lebih mengarah pada sisi yang demonstratif-negosiatif. Selain itu, “public transcript” juga bisa diasosiasikan dengan model pertama ini.

Strategi kedua perlawanan kultural adalah dengan melakukan perlawanan pasif. Cara ini mirip seperti “perlawanan sehari-hari” yang digambarkan oleh Scott. Mereka berbicara diantara sesama penganut Agama Adam tentang ketidaksetujuan atau perilaku diskriminatif lain yang diterimanya. Percakapan tertutup itu tak mengubah situasi. Namun, itu sudah cukup digunakan sebagai “senjata orang yang lemah.” Perlawanan pasif lainnya adalah dengan menjaga apa yang oleh Scott disebut sebagai “hidden transcript.”

Bentuk ketiga perlawanan kultural yang tercermin dalam perjuangan Sedulur Sikep adalah perlawanan simbolik. Ini misalnya terlihat dalam identitas Agama Adam dan Bahasa Ngoko. Selain memang karena Agama Adam merupakan jatidiri mereka, dalam matra kebijakan agama, menunjukkan diri kepada publik sebagai penganut Agama Adam juga sejatinya sedang menghadirkan perlawanan secara simbolik.

Ide tentang perlawanan secara simbolik pada komunitas Sedulur Sikep ini diilhami dari tulisan Joanne Smith Finley. Ia menelaah tentang identitas Uighur di Cina yang dalam banyak kasus digambarkan sebagai simbol perlawanan. Tentang hal ini bisa lebih jauh dibaca dalam The Art of Symbolic Resistance: Uyghur Identities and Uyghur-Han Relations in Contemporary Xianjing.

Kebijakan negara tentang agama yang masih berkelindan dalam “state favoritism,” dijawab oleh Sedulur Sikep dengan menghadirkan Agama Adam sebagai penanda dirinya. Logika yang sama juga berlaku pada penggunaan bahasa ngoko di lingkungan mereka.

Cara keempat dari perlawanan kultural adalah apa yang disebut sebagai perlawanan instrumental. Sedulur Sikep menggunakan medium itu untuk menyampaikan pesan-pesan universal, termasuk alat bagi mereka mengenalkan tentang Agama Adam itu sendiri. Dalam tembang tentang “Agama Adam,” ada semangat deklaratif disana.

Perlawanan kultural yang dilakukan oleh warga Sedulur Sikep kemudian digenapi dengan meleburkan diri dalam pelbagai aktivitas yang dilakukan oleh kelompok di luar dirinya. Pola ini berefek ganda; Sedulur Sikep menjadi magnet dan kelompok ini memiliki kesempatan untuk dikenali oleh publik. Dalam beberapa kasus advokasi hak sipil, strategi ini sangat terasa sekali dampaknya.

Kearifan dan kesederhanaan selalu menyertai segala bentuk perjuangan warga Sedulur Sikep. Rekognisi atau pengakuan atas identitas sebagai penganut Agama Adam yang menjadi ekspektasinya, memang tidak hadir tiba-tiba. Strategi dan taktik harus dibangun. Ada kalanya melakukan perlawanan terbuka, pasif ataupun hanya berupa simbol. Juga transformasi paradigmatik penganut Agama Adam ini terhadap negara. Di suatu masa, mereka begitu sangat kuat melawan negara, tetapi pada momen yang lain, dialog dengan pemerintah menjadi cara yang ditempuh untuk merealisasikan harapan tertingginya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here