elsaonline.com

Voice of the voiceless

Gubernur Minta Warga Jangan Terprovokasi

4 min read

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo didampingi Forkominda serta Ormas Keagamaan membacakan isi pernyataan bersama peningkatan keamanan dan ketertiban di Jateng. [Foto: Ceprudin]

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo didampingi Forkominda serta Ormas Keagamaan membacakan isi pernyataan bersama peningkatan keamanan dan ketertiban di Jateng. [Foto: Ceprudin]
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo didampingi Forkominda serta Ormas Keagamaan membacakan isi pernyataan bersama peningkatan keamanan dan ketertiban di Jateng. [Foto: Ceprudin]
[Semarang –elsaonline.com] Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo meminta supaya warganya tidak terprovokasi dengan adanya kejadian pembakaran pintu Gereja Kristen Jawa (GKJ) di Desa Tlepok Wetan, Grabag, Kabupaten Purworejo. Ia berharap tidak ada gejolak lanjutan yang mengakibatkan terjadinya konflik di masyarakat.

“Nanti kita akan bareng-bareng, kebetulan pas ada silaturahmi (Forum Komunikasi Pimpinan Daerah) Forkominda. Saya sudah koordinasi dengan Kapolda, Pangdam, dan Kejati juga termasuk kejadian yang di grabag,” katanya usai mengisi acara halal bi halal di Kampus Unversitas Semarang (USM), Rabu (22/7/15).

Mantan anggota DPR RI ini mengaku sudah koordinasi langsung dengan Kapolres Purorejo. Ia bersyukur karena sampai sekarang tidak terjadi gejolak lanjutan. Berkenaan dengan Insiden pembakaran Mushola di Tolikara Papua, Ganjar menyebutnya sudah selesai.

“Sehingga di pusatnya sudah dipadamkan dan saya senang juga di Tolikara (Papua) tokoh agamanya menyampaikan tidak ada yang membakar mushola. Yang ada adalah entah di sengaja atau tidak (kebakaran) dari ruko yang akhirnya merambat ke sana (mushola),” kata Ganjar.

Seperti diketahui, pintu depan dan samping barat GKJ Tlepok Wetan, Senin (20/7) pagi, terbakar. GKJ tersebut tepatnya berada di Desa Tlepok Wetan RT/RW 01/01 Kecamatan Grabag Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Menurut pendeta gereja Ibnu Prabowo (57), ketika hendak ke kamar mandi pukul 02.00 WIB, dia melihat lampu gereja tidak menyala.

Namun dirinya tidak menaruh curiga akan terjadi ada kebakaran. Dia kemudian tidur lagi dan melakukan kegiatan rutin olahraga pagi. Namun, saat melintas gereja pada pukul 05.30, dia mengaku mencium aroma bensin dan melihat kondisi pintu depan gereja sudah terbakar.

Selanjutnya, bersama-sama saksi lain Kustantia Prabaningtyas (22), Eni Tri Mulatsih (48), dan Wiyoto (45) melakukan pengecekan kondisi gereja. Mereka mendapati pintu depan gereja terbakar dan pintu sebelah barat gereja terbakar. Selain itu, mereka menemukan secarik kertas di pojok kiri depan gereja bertuliskan, “Pesan Mujahid atas Tragedi Papua, Papua Bakar Gereja Se-Jawa.”

Baca Juga  Imunisasi Itu Halal

Kejadian ini selanjutnya dilaporkan ke Kades setempat dan Polsek Grabag. Barang bukti yang ditemukan di TKP diantaranya, sebuah pesan di secarik kertas?, tujuh batang korek kayu terdiri dari lima ditemukan di depan pintu depan gereja, dan dua di depan pintu sebelah barat gereja. Selain itu, sisa arang dan abu bekas pintu terbakar.

“Khususnya untuk Jawa Tengah jangan terprovokasi oleh siapa pun. Surat kaleng yang muncul (di Gereja Tlepok, Grabag, Purworejo) tidak bisa dipertanggungjawabkan sama sekali. Jadi tenang saja, tidak ada apa-apa dan ini habis idul fitri silaturahmi harus kita gandeng dengan golongan apa pun, dengan agama apa pun dan percayalah di Jawa Tengah tidak ada yang begitu (kekerasan atas nama agama),” sambung Ganjar.

Ganjar mengimbau supaya kewaspadaan terus ditingkatkan. Meskipun demikian, masyarakat harus tetap tenang dan pemerintah akan serius menjaga ketenangan warga. “Intelijen kita jalan terus dan Insya Allah tidak ada yang berbuat onar dan anarkis,” pungkasnya.

Atas kejadian itu, Ganjar mengadakan koordinasi dengan Forkominda, DPRD, Ketua Ormas, Kesbangpolimnas dan seluruh jajaran instansi terkait, Rabu (22/7/15). Pada kesempatan itu semua jajaran hadir termasuk tokoh-tokoh agama di Jawa Tengah. Kapolda Jateng Brigjen Pol Noer Ali saat ditemui usai koordinasi tidak memberikan keterangan lebih jelas. Pihaknya mengakut masih terus melakukan penyelidikan dalam kasus ini.

Kepala Kanwil Kemenag Jateng Ahmadi yang usai rapat koordinasi menyampaikan, bahwa persoalan di Grabag Purworejo sudah ditangani dengan baik oleh pihak kepolisian. Ia bertekad untuk terus melakukan koordinasi dengan berbagai instansi dan masyarakat untuk meningkatkan keamanan.

“Sesungguhnya inilah yang ingin saya katakan, bahwa ini sudah ditangani dengan baik. Jadi begitu kejadian teman-teman saya ada yang tidak tahu, karena (di Jateng) keadaanya begitu tenang. Tapi sekarang sudah ditangani dengan dengan baik oleh pihak kepolisian,” ucapnya.

Baca Juga  KH. Ahmad Dasuki Siradj: “…saya belum pernah pergi dari Islam”

Ahmadi melanjutkan, dalam rangka untuk meningkatkan kewaspadaan tentu semua komponen yang ada disana selalu melakukan koordinasi. “Baik Kemenag, FKUB nya, Ormas-ormasnya, termasuk aparat-aparat yang berkaitan akan terus koordinasi supaya kejadian seperti itu tidak lagi terjadi. Kejadianya juga sangat mendadak dan setelah itu tidak ada lagi, jadi kami anggap ini adalah hasil kerja cepat kami,” tandasnya.

Antisipasi

Untuk mengantisipasi kejadian serupa, Ketua MUI Jateng KH Ahmad Darodji mengusulkan supaya koordinasi dilakukan secara intens. Koordinasi antar tokoh agama dilakukan secara berkala tidak hanya ketika ada persoalan yang muncul. Sementara Wakil Ketua PWNU Jateng KH Mujamil menyampaikan, PWNU menilai adanya informasi yang sangat terbuka turut mempengaruhi terganggunya kerukunan umat beragama. “Karena itu kami mengusulkan supaya pemerintah menyediakan informasi untuk menjernihkan berita-berita yang kurang baik,” ujarnya.

Ketua FKUB Jateng Mudjahirin Thohir mengatakan, pada skala nasional Jawa Tengah harus mengusulkan supaya melokalisasikan insiden ini. Pemerintah harus berpesan supaya media tidak memprovokasi. Pada skala lokal Jawa Tengah, dengan adanya kasus di Papua bisa menjadi pelajaran bagi warga Jawa Tengah.

“Yang bisa menjadi pelajaran adalah dalam beragama harus dewasa baik ucapan maupun tindakan. Kalau dewasa dalam beragama tentu tindakanya rasional dan objketif. Perbedaan yang ada harus dijadikan kompetisi untuk berlomba saling berbuat baik,” paparnya. [elsa-ol/Ceprudin-@Ceprudin/001]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *