elsaonline.com

Voice of the voiceless

Jemaat Kristen Jawa Menuju Muaratua

3 min read

Pemandangan ke arah barat Muaratua, dilihat dari belakang Rumah Zending dan Gereja. [Foto: Lion, 1896]

Oleh: Tedi Kholiludin

Idealnya, para misionaris yang akan dikirim ke Jawa mampu menguasai Bahasa Jawa. Ada waktu yang diperuntukkan secara khusus untuk mempelajari bahasa pribumi ini yang pada gilirannya, akan memudahkan komunikasi. Satu tahun waktu yang cukup untuk membekali zendeling. Jika dalam rentang masa itu tidak ada perkembangan dalam soal bahasa, maka lembaga zending bisa mengambil keputusan, apakah pekerjaan mereka akan dilanjutkan atau tidak. [Lion, 1896]

Vermeer menghadapi kendala dalam persoalan penguasaan Bahasa Jawa. Ia sangat mengandalkan penerjemah untuk menjelaskan ajaran Kekristenan kepada masyarakat Tegal dan sekitarnya. Vermeer hanya menguasai sedikit kosakata dalam Bahasa Melayu yang membuat masyarakat setempat harus belajar Bahasa Melayu juga. Di lain sisi, Vermeer sendiri juga tidak terlalu memperlihatkan semangat untuk belajar bahasa dengan tekun.

Meski tidak berlatih giat untuk berbahasa, Vermeer berupaya fokus pada pelayanan. Ia menambah fungsi rumahnya tak hanya sebagai tempat tinggal, tetapi juga gereja. Sehingga, disitu, kegiatan-kegiatan laiknya sekolah bisa juga dilakukan disitu.

Buah pekerjaan Vermeer terlihat pada 25 Januari 1863. 37 orang Jawa yang terdiri dari 19 orang dewasa dan 18 orang anak-anak, dibaptis untuk kali pertamanya di Tegal. Tangan Laban ditumpangkan diatas kepala mereka setelah penginjil pribumi ini menanyakan tentang pengetahuan tentang Kekristenan terlebih dahulu seperti Dasatitah, Pengakuan Iman dan lain sebagainya. Sejak saat itu berdirilah “Inlandsche Christengemeente te Tegal” atau Jemaat Kristen Jawa di Tegal untuk yang pertama. Vermeer, dalam kesempatan baptisan tersebut menyampaikan khutbah dalam Bahasa Melayu untuk kali yang pertama juga.

Jemaat pribumi dibawah asuhan Vermeer yang dibantu Hebron Lelie dan Laban, terus bertumbuh. Disini, tantangan mulai muncul. Vermeer kesulitan melakukan pelayanan karena jarak tempat tinggal jemaatnya terpencar. Ia merasa tidak bisa mengawasi anggotanya dalam situasi demikian. Makanya, Vermeer berpikir untuk menyatukan jemaatnya tersebut dalam satu wilayah khusus. Belum lagi hadirnya potensi gangguan terhadap jemaat baru ini yang berasal, terutama, dari masyarakat yang tidak menyukai kehadiran umat Kristen ini.

Baca Juga  Perda Moral Kota Tegal

Atas niatannya itu, Vermeer mengajukan pada Residen Tegal untuk mendapatkan tanah di daerah pegunungan yang bisa ia tinggali bersama orang-orang Kristen Jawa. Tanah tersebut, jika digarap dengan baik maka akan menghasilkan buah yang sangat menguntungkan misi di masa-masa yang akan datang.

Vermeer tetap pada keyakinan bahwa tanah harus diolah orang Jawa dengan dibawah pengawasan orang Eropa yang dibayar sekitar 60-70 gulden per bulannya. Jika proses penggarapan tanah itu berhasil, tanah yang lain bisa diolah dengan cara yang sama. Inilah yang pada nantinya akan melahirkan banyak Desa Kristen yang mandiri dan berkembang secara berkelanjutan.

Namun rencana ini tidak disetujui Residen Keuchenius. Baginya, orang-orang Kristen harus tinggal dibawah atau di kota. Mereka mesti berada diantara orang-orang Islam. Karena dengan begitu, orang Kristen Jawa ini justru bisa mengajak yang lain untuk percaya pada Juru Selamat melalui perkataan dan perbuatan mereka sendiri, dan dengan begitu, mereka akan menjadi “garam” bagi perluasaan Kerajaan Allah.

Mendengar keputusan Keuchenius, Vermeer agak sedikit kecewa. Bukan hanya karena ia tak jadi pindah ke wilayah pegunungan, tetapi masalah-masalah lain yang melanda, membuatnya ada dalam keputusasaan. Perselisihan diantara Lelie dan Laban, Tindakan kriminal yang dilakukan oleh jemaatnya, dan hal lain menyebabkan Vermeer sempat jatuh sakit.

Sesungguhnya, tidak seluruh ide Vermeer ini ditolak Residen. Ketidaksetujuan Keuchenius hanyalah soal tempat, tetapi tentang bagaimana mereka ada di satu tempat yang tak berjauhan, itu tidak menjadi soal. Pilihan jatuh pada satu tempat di pinggir laut, bernama Muaratua (ejaan lama, ditulis dalam tiga versi Moearatoea, Moaratowa, Moearatoewa).

Tahun 1864 (kemungkinan awal tahun tersebut) Vermeer mengunjungi Muaratua untuk melihat tanah yang oleh Keuchenius dianggap cocok untuk membangun Kerajaan Allah. Di sebelah utara berbatasan dengan laut, di timur dan selatan ada kampung sementara di barat wilayah Muaratua, ada tanah kosong.

Baca Juga  Membendung Ideologi Radikal di Sekolah

Keuchenius punya alasan khusus mengapa memilih Muaratua yang dekat dengan laut sebagai tempat penyemaian benih-benih misi. Ia merasa dibimbing oleh sebuah pertimbangan bahwa Juru Selamat “telah memberitakan Injil terutama di sepanjang laut ini, dan bahwa murid-murid-Nya yang pertama adalah nelayan.” Sehingga ia ingin melakukan hal yang menurutnya penting, melakukan pekerjaan-Nya di pantai laut dan di antara para nelayan. [Bersambung]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *