elsaonline.com

Voice of the voiceless

Majalah “Support” dan Literasi HIV di Pertengahan 1990an

3 min read

Majalah SUPPORT Edisi Perdana. [Dok: YPI]

Oleh: Tedi Kholiludin

Ketika Yayasan Pelita Ilmu (YPI) didirikan pada tahun 1989, belum banyak kelompok masyarakat sipil yang merespon penyebaran HIV (Human Immunodeficiency Virus) di Indonesia pada akhir 1980-an tersebut. Jika tilikan sejarah saya tidak keliru, lembaga berikut yang didirikan untuk merespon epidemi ini adalah Yayasan Citra Usadha dan Yayasan Kerti Pradja. Keduanya dibentuk pada waktu dan tempat yang sama; tahun 1992 di Bali.

Diinisiasi oleh kalangan medis, YPI menjawab kebutuhan yang sangat penting. Mereka yang menjadi pendiri ini melihat bahwa perlu kerja bareng untuk menanganinya. Jika hanya berfokus di pengobatan, angka kasus akan tumbuh cepat, sementara kapasitas tenaga serta layanan kesehatan mungkin tidak sebanding.

Inisiatif mendirikan organisasi masyarakat yang merespon epidemi adalah sebagai wujud kolaborasi antara pengobatan di hilir dan pencegahan serta pengendalian di hulu. Kelompok masyarakat mengedukasi warganya untuk tetap berprilaku sehat, tenaga kesehatan bekerja mengobati yang sakit.

Bahan bacaan yang memadai menjadi kebutuhan yang sangat urgen. Belum ada tulisan, buletin, buku yang mendukung masyarakat bisa mengenali dan memahami virus ini. 6 tahun setelah berdiri, YPI meluncurkan SUPPORT. Bahan bacaan bulanan yang terbit pertama pada Januari 1995 itu adalah kanal pertama yang mengambil peran dalam penguatan literasi tentang HIV pada masa-masa awal. Dengan tagline “Mengupayakan Dukungan Masyarakat untuk Orang yang Hidup dengan HIV/AIDS,” SUPPORT mengisi ruang kosong disini.

***

Dua orang tenaga kesehatan terlihat memapah seorang pasien. Dari belakang ekspresi sang pasien terlihat lunglai tak bertenaga. Wajahnya tertunduk seperti nyaris tak bertenaga. Bahkan untuk mengayunkan langkah sekalipun. Tenaga kesehatan yang memapahnya, tampak tegak menuntun pasien yang mungkin menuju ruang perawatan.

Baca Juga  Sejarah Gereja Katolik St Yusuf Gedangan, Semarang (5)

Itulah kira-kira deskripsi mengenai tampilan muka di edisi perdana SUPPORT. Dalam 8 halaman, SUPPORT menginformasikan kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh YPI. Ketika itu mereka mengelola program dukungan masyarakat bertajuk Community Support Center for People with AIDS yang disingkat CSC-PWA sebentuk aktivitas yang bertujuan untuk memberi dukungan kepada mereka yang terinfeksi HIV dan keluarganya (saat itu mereka masih menggunakan istilah penderita HIV/AIDS).

SUPPORT juga menginformasikan tentang kegiatan-kegiatan pelatihan bagi para relawan yang memiliki kepedulian terhadap mereka yang terinfeksi. Kegiatan untuk Angkatan I berlangsung pada 4 September 1994 yang diikuti oleh 33 orang peserta. Latar belakang mereka beragam; pelajar, guru, mahasiswa, dokter, perawat, wartawan, ibu rumah, tangga, seniman dan lainnya.Angkatan berikutnya dilaksanakan pada 15 dan 16 Januari 1995 yang diikuti oleh 29 peserta.

Dalam pelatihan itu, para peserta dibekali materi dasar-dasar AIDS, pengalaman para dokter merawat pasien HIV, Etika Relawan dan Bagaimana merawat orang dengan AIDS di luar rumah sakit. Setelah pemberian materi yang bersifat teoritik, peserta kemudian diajak berdialog dengan mereka yang terinfeksi. Pada masa-masa itu, kegiatan seperti ini menjadi sangat penting untuk mengikis prasangka, stigma serta diskriminasi kepada mereka yang terinfeksi.

Majalah SUPPORT edisi perdana juga mengupdate kasus HIV di Indonesia hingga 31 Desember 1994. Data yang bersumber dari Subdirektorat P2 Kelamin dan Frambusia, Ditjen PPM dan LP, Departemen Kesehatan Republik Indonesia tersebut melaporkan kasus HIV berdasarkan jenis kelamin, kebangsaan, faktor risiko, golongan umur dan propinsi.

***

Bahan bacaan yang membantu menjelaskan informasi seputar HIV menjadi kebutuhan mendesak di dasawarsa pertama epidemi ini ada di Indonesia. Ketika Tempo memberitakan untuk kali pertama pada 29 Oktober 1983 tentang AIDS di Indonesia, saluran informasi mengenai virus serta bagaimana mencegahnya belum banyak tersedia. SUPPORT, berperan penting dalam upaya peningkatan literasi tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *