elsaonline.com

Voice of the voiceless

Menanggulangi HIV/AIDS Sebagai Bagian Dari “Hifdzun Nafs”

2 min read

KH. Abu Hapsin, PhD (kanan) dan Dr. Tedi Kholiludin saat membuka rapat koordinasi ELSA dengan Mitranya. [Foto: Sunandar]

[Semarang -elsaonline.com] Pada 2021 Yayasan Pemberdayaan Komunitas (YPK) ELSA (Lembaga Studi Sosial dan Agama) ini mendapatkan amanat untuk menjalankan program penanggulangan HIV/AIDS sebagai mitra dari Yayasan Spiritia. Dalam implementasinya, ELSA bekerjasama dengan 10 mitra lembaga yang ada di Jawa Tengah, Sumatera Selatan dan Bengkulu.

Koordinator Sub Recipient YPK ELSA, Dr. Tedi Kholiludin mengucapkan terimakasih kepada seluruh mitra kerja yang sudah memberikan dukungan sehingga lembaga yang konsen pada isu advokasi kelompok minoritas ini bisa meneruskan program yang sudah berjalan kurang lebih 8 tahun sejak 2013.

“Dukungan itu menjadi salah satu bagian dari motivasi serta inspirasi yang sangat berharga untuk meneruskan apa yang sudah dikerjakan meski jauh dari kesempurnaan,” ujarnya dalam sambutan pada pertemuan koordinasi antara ELSA dengan mitranya yang diselenggarakan di Hotel Aston Inn, Selasa 23 Februari 2021.

Menurut Tedi, lembaga yang dipimpinnya didirikan tahun 2005, disaat ia dan kawan-kawannya menjadi jurnalis mahasiswa di Institut Agama Islam Negeri (sekarang, Universitas Islam Negeri) Walisongo Semarang.

“Karena waktu itu kami masih ingin mendiseminasikan kegiatan-kegiatan anti diskriminasi, nirkekerasan serta menyebarkan toleransi, akhirnya Pak Abu berinisiasi untuk membuat wadah atau lembaga,” ujar Tedi yang juga pengajar di Universitas Wahid Hasyim Semarang.

Sebagaimana diketahui awalnya eLSA ini berbentuk perkumpulan yang bekerja di isu-itu toleransi, penguatan hak minoritas dan kebebasan beragama. Tahun 2016, lembaga ini kemudian beralih menjadi yayasan yang fokusnya juga tidak jauh berbeda dengan LSM yaitu pada penguatan isu-isu kelompok marginal.

Sementara itu, Ketua Pembina Yayasan ELSA, Drs. KH. Abu Hapsin, PhD, menceritakan bagaimana program penanganan HIV/AIDS di Thailand ketika ia menjadi mahasiswa program doktor di Mahidol University.

Baca Juga  Waria dalam Islam; Sosok Bermartabat Yang Dimuliakan Tuhan

Baginya, Thailand adalah contoh bagaimana penanggulangan HIV/AIDS dijalanakan dengan baik. Salah satu faktor keberhasilannya adalah tidak adanya stigma. “Vihara-vihara di sana juga kompak untuk menanggulangi HIV/AIDS,” kata Abu Hapsin, membuka sambutannya. “Ada banyak faktor mengapa orang terkena virus. Jadi, tidak boleh ada stigmatisasi,” imbuhnya.

Abu Hapsin, yang juga pengajar di UIN Walisongo juga mengucapkan terimakasih kepada seluruh mitra kerja ELSA yang sudah melakukan kegiatan kemanusiaan yang sangat mulia, karena menyelamatkan manusia.

“Kemaslahatan manusia itu terwujud jika 5 hal terjamin, yaitu terjaga agama, jiwa, akal, keturunan dan menjaga hak milik,” jelasnya. Pekerjaan untuk menanggulangi HIV/AIDS itu adalah salah satu bentuk dari upaya untuk menjaga kemaslahatan jiwa.

“Usaha dan upaya yang dilakukan saudara-saudara ini adalah upaya mulia, yakni menjaga kemaslahatan jiwa manusia atau hifdzun nafs,” tambahnya.

Abu Hapsin juga berpesan kepada semua mitra untuk menjaga kebersamaan, karena kerja-kerja untuk hifdzun nafs ini merupakan panggilan universal. Hal tersebut tidak merupakan tugas satu orang, satu lembaga atau satu golongan saja, melainkan harus kerjasama yang tidak membedakan suku, ras dan agama. [Abdus Salam]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *