Mengurangi Tradisi Keagamaan untuk Kemanusiaan

Oleh: Alhilyatuz Zakiyah Fillaily (Peneliti di eLSA)

Kita tidak dapat berbuat baik, selama masih mementingkan diri sendiri (Biarawati Karmelit dan Pujangga Gereja, ST. Theresia Lisieux)

Beberapa hari yang lalu, saat himbauan pemerintah kepada masyarakat untuk #dirumahaja karena wabah corona, group whatsapp keluarga saya sedang ramai. Rupanya keluarga besar saya telah mempersiapkan acara haul kakek yang akan dilaksanakan pada bulan Sya’ban (awal April), menjelang Ramadhan tiba. Acara itu memang setiap tahun dilaksanakan. Rangakaiannya yaitu berziarah ke makam kakek, dan puncaknya adalah pengajian akbar yang dibarengkan dengan wisuda Taman Pendidikan al-Quran (TPQ). Saya langsung teringat berita penyebaran virus Covid-19 di acara Tabaligh Akbar di Malaysia beberapa pekan lalu. Dari ribuan jamaah yang hadir, setelah dilakukan test sekitar ratusan orang terpapar positif virus pandemi itu. Mengerikan.

Pada pekan lalu hampir setiap hari saya mengirim informasi tentang corona di grup whatsapp keluarga, tak lupa juga kepada kedua orangtua saya. Baik berita, gambar atau pun infografis terkait perkembangan kasus corona di instagram yang saya screenshot. Respon beberapa saudara beragam, ada yang menganggap situasi ini sebagai angin lalu, ada juga ang mengajak tetap ikhtiar, berdoa dan waspada.

Saya masih ingat ada saudara saya yang menulis chat begini di grup; “Corona tidak bisa naik gunung, kesangkut di pohon jati.” Maksud dari chat ini adalah karena melihat lokasi acara memang di pelosok desa di Kabupaten Blora. Menurut cerita, kakek dulu dagang sambil dakwah di daerah Todanan, Blora. Kemudian saudara yang lain menanggapi; “Kita tidak boleh terlalu percaya diri terbebas dari virus yang sangat berbahaya. Tawakkal artinya tidak sekedar pasrah kepada Allah tapi disertai ikhtiar langit dan bumi.” Lalu, Rabu, 25 Maret lalu, salah satu dari saudara-saudara yang tadinya tetap mendukung terselenggaranya acara tersebut tiba-tiba mengirim video Ganjar Pranowo yang mengabarkan bahwa wabah itu meningkat cepat di Jawa Tengah. Perasaan saya lumayan plong, akhirnya (percaya).

Sebelumnya, tanggal 24 Maret 2020 cerita serupa terjadi pada teman lama saya. Dia mahasiswa salah satu perguruan tinggi di Solo. Dia menghubungi saya ingin mampir ke Semarang sebelum perjalanan ke Solo. Jika biasanya saya menemuinya, tapi kali ini tidak. Saya tak lupa juga mengirim informasi-informasi tentang corona kepadanya sebagai pengingat, karena saya heran mengapa dia masih leluasa bepergian. Kemudian dia bilang kepada saya begini; “Kesehatanku yang menanggung Allah, usahaku cukup menjaga wudhu dan tetap bersilaturrahmi.” Saya memutuskan merespon dengan meminta maaf karena tidak bisa bertemu dan menegaskan dengan mengingatkan dirinya pada kondisi ini. Pada situasi ini saya merasa dia sedang kecewa dan terkesan ingin menceritakan tentang apa yang diyakininya dalam merespon wabah corona itu. Saya berpikir kalau statement awalnya begitu, ya mungkin arahnya adalah membawa narasi agama yang bagi saya tidak masuk akal.

Satu lagi yang ingin saya bagikan untuk melengkapi dari dua cerita di atas adalah, tentang perasaan salah satu penyintas 1965 yang dulu aktivis Lekra dan ditahan di Pulau Buru. Hari itu Senin, 23 Maret 2020, penyintas itu tiba-tiba mengawali pesan begini kepada saya; “Kekhawatiran, ketidaktahuan, dan kegelisahan jiwa sama dengan situasi setelah 1 Oktober 1965. Lebih kurang begitu karena saya masuk kelompok berisiko tinggi, walau kondisi fisik dan mental saya baik,” ucap penulis novel berjudul Buruan kisah tentang kampung nelayan di Tambak Lorok Semarang itu. Seperti kakek dan cucu, lalu kita berdua saling menguatkan.

Kondisi Masyarakat yang Berubah

Virus Corona pertama terdeteksi singgah di Indonesia menular pada salah satu warga Depok, Jawa Barat yang melakukan kontak dengan warga negara Jepang positif corona yang datang ke Indonesia. Kontak tersebut terjadi tanggal 14 Februari 2020. Lalu sang ibu pun tertular anaknya. Keduanya dirawat dan dinyatakan positif pada tanggal 1 Maret 2020. Kejadian yang sama dialami beberapa warga yang pulang dari luar negeri juga positif. Pada tanggal 15 Maret 2020, muncul pemberitaan bahwa data positif sejumlah 96 orang (termasuk yang akhirnya sembuh). Pada waktu itu juga, Presiden Jokowi berpidato di Istana Bogor menjelaskan situasi terkini, dan pertama kalinya Indonesia mengambil tindakan.

Data dari Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes (@pkk_kemkes) mulai tanggal 18 Maret 2020 yang positif berjumlah 172 jiwa, dan tanggal 19 Maret 2020 bertambah menjadi 309 jiwa yang positif. Dalam kondisi khawatir dan waspada saya juga mengamati perkembangan isu melalui akun Instagram Kementerian Kesehatan RI @kemenkes_ri yang mengumumkan tanggal 20 Maret 2020, bahwa kasus positif sebanyak 369 jiwa. Singkat saya tanggal 26 Maret 2020 yang positif berjumlah 893 jiwa yang sembuh 35 orang dan meninggal sebanyak 78 orang dari 27 provinsi. Sedangkan tanggal 27 Maret 2020, yang positif naik menjadi 1046 (Silakan selalu update terkait data ini di link ini https://www.covid19.go.id/situasi-virus-corona/ atau juga di https://www.worldometers.info/coronavirus/).

Dalam keadaan seperti itu masyarakat Indonesia mengalami banyak perubahan dengan cepat dan gagap. Juga terjadi ketimpangan informasi antara yang di kota dan di desa-desa. Sehingga cara menyikapinya pun berbeda antara yang di kota dan di desa. Berikut pengamatan saya terhadap kondisi di sekeliling saya;

Pertama, tentang pendidikan. Sejak himbauan Presiden Jokowi tanggal 15 Maret 2020, esok harinya proses belajar di sekolah dan perguruan tinggi dialihkan di rumah secara online. Awalnya proses semacam itu dijadwalkan sampai tanggal 27 Maret 2020. Berdasarkan informasi terbaru dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), kondisi darurat ini ditetapkan sampai tanggal 29 Mei 2020. Institusi pendidikan tingkat perguruan tinggi pun kembali mengumumkan kebijakan baru yang intinya kegiatan akademik dilakukan secara online sampai akhir semester. Sedangkan untuk tingkat SD, SMP dan SMA, Kemendikbud telah mengeluarkan Surat Edaran (SE) Mendikbud Nomor 4 Tahun 2020 tentang pelaksanaan kebijakan pendidikan dalam masa darurat penyebaran corona virus disease (Covid-19) yang inti dari isi SE itu adalah pembatalan UN untuk kesehatan dan keamanan para siswa.

Kedua, tentang pribadatan. Jika diingat beberapa hari yang lalu umat Hindu melakukan ibadah nyepi tanpa ada arak-arakan ogoh-ogoh. Ogoh-ogoh merepresentasikan Bhuta Kala dalam ajaran Hindu dirupakan sosok yang besar seperti naga, gajah, raksasa, dan lain-lain. Meskipun banyak masyarakat yang telah membuatnya dengan uang yang tak sedikit kemudian dibakar, dan tak jadi keliling desa untuk menghindari tersebarnya virus corona. Sedangkan umat muslim juga dihimbau untuk berhati-hati. Maka banyak pengajian-pengajian yang akhirnya dibatalkan. Misa di Gereja juga dialihkan di rumah masing-masing yang disiarkan secara online. Begitu juga aktivitas penganut agama atau keimanan lain telah mengurangi aktivitas ibadah yang dilakukan berjamaah.

Ketiga, tentang kondisi di kota dan desa. Suatu waktu saya menerima kabar dari 3 teman di kampung yang berbeda, mengabarkan bahwa di desanya masih ada tetangga yang mengadakan acara resepsi pernikahan. Saya prihatin. Begitu juga di beranda facebook, saya menemukan beberapa orang yang menggelar acara tersebut. Ini menunjukkan tidak siapnya kita semua menghadapi bencana global ini. Setiap hari semua orang terpusat pada data statistik, dan belum memiliki jeda waktu untuk memberikan edukasi secara maksimal. Pengendalian informasi terstruktur hanya melalui online, yang tidak setiap orang dapat mengaksesnya. Apalagi kebanyakan orang desa memiliki karakter lebih suka menonton televisi daripada mengikuti perkembangan corona melalui jendela informasi google. Selain itu orang desa (Jawa) lebih ramah jika menggunakan pemilihan kata “Pageblug”. Pikir saya corona belum dikenal dengan baik oleh beberapa kalangan petani, petani merasa tidak perlu mengetahui hal itu. Jika itu berhubungan dengan padi, atau sayur yang ditanamnya barulah merasa perlu tahu apa itu corona. Bukan karena kesehatannya. Pada konteks ini orang bawah merasa terancam saat ekonominya terdampak, sedangkan kalangan kelas atas merasa terancam saat ada yang membahayakan kesehatannya.

Corona Mengajak Beragama dengan Rasional

Diantara beberapa hal yang saya ceritakan di atas, rasanya saya perlu berkisah tentang sikap orang beragama dalam menyikapi corona. Ada narasi-narasi yang menyebutkan bahwa corona adalah ujian iman. Artinya, iman kita sedang diuji seberapa kuat bertahan melakukan kegiatan seperti biasanya meskipun kondisi tidak aman. Langkah yang diambil adalah mengandalkan Tuhan untuk menyelamatkan diri sebagai hamba-Nya, dan menolak dari usaha-usaha melindungi diri sendiri. Bayangkan jika tidak ada usaha melindungi diri sendiri dan mempasrahkannya pada Tuhan, apalagi berfikir untuk melindungi orang lain? Pasti akan berpikir, Tuhan yang melindungi. Ketika ada korban berjatuhan pun, pasti akan berpikir bahwa itu memang takdir.

Salah satu teman saya di Kupang membagikan postingan dosennya di Universitas Kristen Artha Wacana Kupang, Pdt. John Campbell Nelson di dinding facebooknya. Dalam postingan itu tertulis narasi Kristiani dalam menanggapi sikap jemaat;

“Kamu tidak akan menguji Tuhan Allahmu, kata Ulangan 6:16. Orang Israel dimarahi karena menyerukan Allah untuk menyelesaikan masalah mereka tanpa upaya mereka sendiri. Yesus mengutip ayat ini ketika ia dicobai oleh setan. Setan telah menyuruhnya untuk melemparkan dirinya dari puncak Bait Suci sehingga para malaikat datang dan menangkapnya, untuk membuktikan bahwa ia adalah Anak Allah. Yesus menjawab, … ada tertulis, janganlah kamu menempatkan Tuhan Allah dalam ujian (Mat. 4:7).”

Menurut Pdt. John Campbell Nelson, ujian iman itu justru saat orang Kristen menolak mengambil langkah untuk melindungi diri dan orang lain dari virus corona. Ya, pola pikir dengan mengandalkan Tuhan juga dimiliki oleh beberapa orang Islam. Saya mengawali tulisan ini dengan cerita orang-orang di sekeliling saya yang meletakkan corona bukan sebagai sesuatu yang berbahaya, karena punya Tuhan.

Dalam situasi ini saya melihat bahwa virus corona ini gejala global yang butuh pengamatan secara rasional. Beragama harus rasional. Wabah corona tidak hanya ada di Indonesia, tetapi di dunia. Asal usul virus ini pun jelas, berasal dari kota Wuhan di China karena masyarakat di sana punya kebiasaan memakan hewan yang tak lazim. Kondisi ini sangat rasional ada sebab dan akibat yang terjadi. Maka cara menyelesaikannya pun tidak bisa hanya dengan berdoa dan pasrah kepada Tuhan. Gunung Merapi meletus bukan karena Nyai Roro Kidul marah, tetapi ada gejala alam yang berjalan.

Hal yang rasional itu harus disikapi secara rasional, bukan irasional. Ketika ada realita yang terjadi di luar diri manusia, ilmu pengetahuan menelusuri dengan serangkaian proses. Virus baru corona adalah hal baru dalam dunia kedokteran yang tidak mudah dicarikan solusi. Ada proses mengurai gejala yang ditimbulkan, berupa fakta-fakta. Jika orang beragama melihat kondisi ini hal biasa dan hilang dengan sendirinya, ada yang harus dikoreksi dalam batin dan nalar berpikirnya. Nalar agama yang mampu menjawab situasi dan berdialektika dengan keadaan akan lebih dibutuhkan dalam bermasyarakat. Maka dalam beragama pun, berlatihlah bertindak masuk akal!

Agama mengatur tata keimanan, peribadatan kepada Tuhan dan bagaimana membangun hubungan dengan sesama. Agama mengatur semuanya, tapi dalam kondisi tertentu manusia juga tidak serta merta menerapkannya. Tradisi agama yang dijalankan manusia dalam rangka beribadah bukanlah satu-satunya cara dalam beragama. Saat merebaknya wabah corona seperti sekarang ini, difungsikannya agama dalam menghadapi wabah corona harus ikut serta membantu negara menciptakan situasi yang aman. Orang beragama yang keras hatinya menganggap wabah corona bukan sebagai masalah besar dan ingin senantiasa menciptakan kerumunan dalam wajah keagamaan, ibarat seperti ingin berbuat baik tapi mementingkan diri sendiri. Jika menilik nasihat biarawati ST. Theresia Lisieux seperti yang saya kutip di awal, Ia berkata bahwa kita tidak dapat berbuat baik, selama masih mementingkan diri sendiri. Tindakan tidak menyelenggarakan tradisi atau ibadah secara berjamaah merupakan langkah konkrit agama memanusiakan manusia. Bukan berarti membangkang Tuhan, dan tidak taat pada agama. Semoga hati kita semua terbuka untuk sama-sama mencegah penularan wabah ini. Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *