Rab. Okt 21st, 2020

elsaonline.com

Voice of the voiceless

Menilik Religiusitas Masyarakat Muslim Urban Kota Semarang

3 min read

Keterangan Gambar: Dipotret oleh Alhilyatuz Zakiyah Fillaily

Judul: Silang Budaya Muslim Perkotaan
Penulis: Cahyono
Penerbit: eLSA Press
Tahun terbit: Juni 2020
Tebal halaman: 186 halaman
ISBN: 978-602-6418-63-0
Peresensi: Alvin

Arus modernisasi, semakin deras mengalir ke arah tradisi masyarakat muslim urban. Situasi seperti ini tentu menjadikan tantangan hebat. Muncul pertanyaan, bagaimana mereka mempertahankan tradisi keagamaannya, juga bagaimana aktivitas ekonomi berkembang. Seperti yang kita ketahui, Semarang adalah salah satu kota industri yang sejak dulu menjadi lalu-lalang perdagangan.

Buku ini merupakan hasil penelitian tesis di Dapartemen Sosiologi Agama Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga. Cahyono berhasil memunculkan ide-ide dalam menghadapi arus modernisasi menuju tradisi masyarakat urban, dengan cara pengenalan identitas muslim urban.

Pada bagian pertama, Cahyono mengenalkan identitas urban dengan teliti. Landasan teoritik dalam buku ini menyandarkan pada dirkursus mengenai wacana identitas masyarakat urban, seperti yang dielaborasi oleh Durkheim bahwa masyarakat urban cenderung memiliki karakter individualistik dalam hubungan bersosial. Selain Durkheim, Cahyono juga banyak menggunakan pendekatan Derya Oktay melalui karya-karyanya, ia banyak menggagas sebuah identitas urban dan hubungannya dengan sosio kultural masyarakat urban. Teori yang penting dalam kajian ini yakni teori identitas urban dan identitas muslim, yang barangkali belum banyak dipakai dalam kajian-kajian sebelumnya.

Berlanjut pada bagian II, Cahyono menguraikan identitas urban sebagai pintu masuk teori yang dapat membantu menjembatani kajiannya. Sehingga pada bagian ini, Cahyono mulai merumuskan karangka teori identitas urban dengan pendekatan teorinya Kevin Lynch tentang peneliti kota. Sheldon stryker dan Peter J sebagai teori identitas , juga teori Burke, Chris Barker sebagai teori-teori pendukung dalam merumuskan kerangka teori identitas urban dalam kajian ini.

Lalu pada bagian III, penulis menarik pembaca ke masa lampau, yaitu pada saat Islam masuk ke Semarang. Penulis memulainya dari masa ketika Kerajaan Islam Demak belum berdiri. Kegiatan penyebaran Islam di Jawa berjalan tanpa didukung oleh kekuatan-kekuatan politik. Penyebaran lebih banyak dilakukan melalui kegiatan perdagangan oleh para pedagang muslim juga para para wali yang melakukan dakwah. Begitu berdiri pada tahun 1481 M, Kerajaan Islam Demak berkembang menjadi pusat penyebaran Islam. Dukungan politik dari pemerintah daerah-daerah pesisir Jawa tengah, juga Jawa timur yang sebagian besar telah mengakui kedaulatan Demak mempermudah penyebaran Islam di wilayah lain, termasuk Semarang. Sejarah penyebaran Islam di Semarang mengantarkan kita bagaimana memahami karakteristik masyarakat kota Semarang yang tidak lepas dari sejarah lahirnya. Cahyono mengutip tulisan Liem dan Amen, bahwa lahirnya kota Semarang bermula dari penamaan suatu daerah (kota, dusun, kampung, sungai, gunung) berdasarkan pada ciri khas daerah itu, keadaan alam atau pemandangan mencolok di sekitarnya.

Baca Juga  Mozaik Peradaban Dua Agama

Bagian IV adalah bagian yang menurut saya sangat penting. Pada bagian ini cahyono menjelaskan transformasi religiositas muslim urban. Geneologis kelas menengah muslim dalam konteks Indonesia mengalami transformasi nilai maupun bentuk, mulai dari kelas borjuis, intelektualitas, lantas kemudian menjadi gaya hidup keseharian. Islam kemudian tidak lagi diterjemahkan dalam konteks kanonik, namun menjadi identitas kolektif yang mengikat elemen anggota kelas tersebut. Cahyono menjelaskan dengan detail bahwa identitas adalah aspek fundamental manusia yang telah banyak dibahas dalam lingkup studi psikologis, sosial dan politik. Menurut cahyono, aspek yang membentuk identitas muslim, yaitu aspek etnis dan aspek religiusitas. Penulis juga memberi gambaran karakteristik keberagamaan masyarakat perkotaan. Menurut penulis, karakter keberagamaan masyarakat perkotaan yang paling mencolok yaitu memiliki kecenderungan rasional dan praktis. Prinsip keagamaan yang dikembangkan tidak sekhusyuk masyarakat pedesaan dengan kolektifitasnya. Cahyono memberikan contoh mengenai sarana masyarakat urban untuk memenuhi kebutuhan religiositas, dengan mengamati majelis-majleis yang terindentifikasi sebagai bagian dari diri mereka (masyarakat urban) sebagai individu. Menurut penulis, adanya transformasi pemikiran transendental dalam iklim masyarakat perkotaan yang serba modernis hedonistik merupakan suatu anomali tersendiri.

Penulis berharap buku ini memiliki signifikansi baik secara praktis maupun akademis. Dari sisi praktisinya diharapkan dapat bermanfaat untuk mengetahui sejauh mana pengaruh reformasi terhadap perkembangan religiositas masyarakat muslim urban di Semarang dalam aktifitas keberagamaannya. Sedangkan dari segi akademis, buku ini diharapkan akan memberi sumbangsih secara teoritik. Pertama, fungsi struktur sosial terhadap religiositas masyarakat muslim urban di kota Semarang, sebagai sumbangsih pengembangan teori tentang identitas masyarakat muslim urban, serta hubungan religiositas masyarakat urban pasca reformasi. Ketiga, sumbangan terhadap pemahaman identitas muslim urban pasca reformasi di kota Semarang.

Baca Juga  Peta, Konflik dan Harmoni Ahmadiyyah di Indonesia

Penelitian dalam buku ini mungkin akan lebih sempurna, apabila penulis melakukan penelitian lanjut tentang kondisi ekonomi di kota Semarang pada era pasca reformasi. Karena sebelumnya, Cahyono menyinggung persoalan perekonomian di Semarang yang hanya pada bagian sejarah masuknya Islam di Semarang tapi tidak melanjutkan penelitiannya tentang kondisi ekonomi pada pasca reformasi dan kaitannya dengan religiusitas masyarakat muslim perkotaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *