Negara Harus Hadir Dalam Persoalan Warga, Termasuk Penghayat

Sujana Rojat. [Foto: Nazar]
Sujana Rojat. [Foto: Nazar]
[Kudus –elsaonline.com] Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) kembali dimulai, namun dengan konsep berbeda. Jika dulu PNPM terfokus pada pembagunan infrastuktur pedesaan, kini pola PNPM difokuskan pada pembangunan mentalitas manusia. Program Peduli (tanpa PNPM) pun diluncurkan sebagai pengganti dari program pembangunan PNPM Mandiri.

Konsultan PNPM Peduli, Sujana Royat mengatakan, program PNPM Peduli sepenuhnya dibiayai oleh hibah dari Pemerintah Australia yang dikelola oleh Kementeriaan Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan. Program itu menjangkau yang tidak terjangkau oleh pemerintah.

Dalam kunjungannya di Komunitas Sedulur Sikep di Desa Larikrejo dan Karangrowo, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, tengah pekan lalu (2/3/2015), dia meminta kepada warga Sikep untuk berani melaporkan perlakuan yang tidak adil kepada pihaknya.

Dicontohkannya, dalam hal pendidikan, Negara telah menjamin anak untuk mendapatkan pendidikannya. Ketika anak penghayat Sikep yang hendak sekolah dihalang-halangi oleh pihak sekolah, atau pihak lain, warga Sikep didorong untuk melaporkan sekolah. Pelaporan itu agar penyiapan terhadap warga Sikep menjadi lebih adil.

“Ibu-ibu yang dagang ketiga dagang di pasar itu dikucilkan atau tidak. Misalnya juga eks tahanan politik ketika berdagang itu mereka diusir atau tidak, dihalang—halangi atau tidak karena mereka eks tapol,” seru dia.

Mantan Deputi di Kemenko PMK itu menegaskan bahwa program PNPM Peduli pembangunan difokuskan pada mentalitas manusia sesuai implemenetasi visi misi Presiden Joko Widodo tentang konsep revolusi mental. “Pesan presiden, jangan sampai ada satu orang pun di Bumi Indonesia didiskriminasi,” tambahnya.

Diskriminasi terhadap masyarakat minoritas juga tidak boleh dilakukan dalam hak apapun. Penghayat yang hendak mengajukan akta tanah misalnya, tidak boleh ditolak hanya karena dia seorang penghayat. Negara harus menjamin hak-hak warga negaranya dalam hal apapun sesuai perlindungan yang diberikan konstitusi.

Baca Juga  Trijaya Miliki Pemakaman Khusus Penghayat

Kata Ferry Mursyidan Baldan, Menteri Agraria dan Tata Ruang sekaligus Kepala Badan Pertanahan Nasional, negara harus selalu hadir dalam permasalahan-permasalahan di masyarakat. Kapanpun dan dimanapun. “Negara tidak boleh tidur, dan harus siap ketika masyarakat memanggil,” seru Ferry. [elsa-ol/Nazar-@nazaristik/001]

spot_imgspot_img

Subscribe

Artikel Terkait

Sosiologi Agama Metamodern

Oleh: Tedi Kholiludin Bagaimana arah studi (sosiologi) agama dalam kerangka...

Masa Depan Teori Setelah Kritik: Tentang Ontologi Sosial Proses

Oleh: Tedi Kholiludin Saya sedang membaca buku yang terbit tahun...

Hadir Tanpa Menetap: Tentang Absence

Belakangan ini saya sedang tertarik menelaah gagasan filsuf asal...

Dari Administrasi hingga Transformasi Organisasi

Memasuki dasawarsa kedua sejak kelahirannya, Yayasan Pemberdayaan Komunitas (YPK)...

GPIB DAN RELASI GEREJA-NEGARA DI INDONESIA

Kajian mengenai relasi gereja dan negara merupakan tema yang...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini