Pilar-pilar Kebudayaan Arab Pra Islam

0
75

Oleh: Iman Fadhilah, M.SI

Sekretaris eLSA, Aktif di PW Lakpesdam NU Jawa Tengah

Sepintas, tidak ada hal yang menarik menyampaikan perihal budaya. asumsi yang ada, tidak jauh dari prilaku, karakteristik, tradisi dan kebiasaan dari suatu elemen masyarakat saja. meskipun begitu, sebagai bagian dari akademisi, tidak semestinya menyederhanakan persoalan tersebut.

Kalau di lihat di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kebudayaan disamakan dengan Peradaban, sementara istilah Kebudayaan dalam bahasa Inggris disebut sebagai Culture dan  Peradaban dikenal dengan Civilization. Ada istilah Tsaqafah dalam bahasa Arab yang berarti Kebudayaan, sementara Istilah peradaban lebih dikenal dengan tammaddun, ada juga istilah hadlarah yang berarti kemajuan.

Para Ilmuwan memakai berbagai logika bahasa untuk menyebutkan dua istilah tersebut, misal Nasr Hamid Abi Zayd yang menyebut al-Qur’an sebagai mantaj al Tsaqafi dalam bukunya, al Qur’an sebagai Produk budaya., atau Jhon Wansbrough yang menyebut al-Qur’an sebagai a la Tradition Juive, dengan arti yangg sama disampaikan oleh Nasr Hamid. Atau Samuel Huntington, Clash of Civilization, benturan peradaban, yang sempat menggegerkan jagat wacana kita.

Lepas dari perdebatan pemakaian bahasa antara kebudayaan dan peradaban penulis masih ingat saat kuliah Islam dan Peradaban Global bersama Prof. Masykuri Abdillah, pada sesi tersebut muncul dialog yang merujuk pada tiga aspek yang terkait dengan peradaban atau kebudayaan: Aspek Ideas (Ide-ide, ilmu pengetahuan), Activities (aktifitas manusia) dan Artefac (hasil karya).

Pilar Budaya

Pada aspek ideas, Activities Marshal G.S Hodsgon dalam the Venture of Islam menyebut,pengetahuan, keimanan dan sejarah adalah prasayarat mutlak dan integral untuk memahami sendi-sendinya.peradaban secara optimum. Marshal sebagai profesor sejarah di Chicago sangat menekankan tentang visi historis di universitas tersebut, laiknya Prof Fazlur Rachman yang juga sangat peduli dengan pendekatan dan metodologi historis dalam bukunya Islamic methodologi in History. Rahman diangkat menjadi guru besar dalam pemikiran Islam tahun sejak tahun 1970.

Mulyadi Kartanegara, sebagai penerjemah the Venture of Islam menuturkan bahwa Islamic Civilization merupakan matakuliah wajib di Universitas Chicago yang dirancang langsung oleh Marshal dan dijadikan buku daras untuk mahasiswa. buku tersebut berjumlah tiga jilid atau enam buku. Mulyadi mengaku, bahwa penerjemahan buku tersebut tidak terpikir sebelumnya kecuali karena pendalaman buku tersebut semasa kuliah di Chicago dan akhirnya berhasil diterjemahkan dalam edisi bahasa Indonesia.

Pra Islam

Bukan hal yang sederhana untuk menguak sejarah pra Islam dengan berbagai aksesorisnya. Dua peradaban besar yang nampak yakni Yunani dan Romawi; Yunani dengan tradisi filsafatnya yang menggejala keseluruh seantero, meskipun ada diskriminasi terhadap perempuan luar biasa termasuk belum ada persamaan dalam hak-haknya, sebut saja; perempuan masa itu di kurung dalam Istana, diperjualbelikan di pasar dan bertugas untuk memenuhi hasrat laki-laki, tradisi pesta kerajaan menyebutkan tentang itu.

Sementara dalam tradisi Romawi, penghargaan terhadap hak sesama juga belum menjadi hal yang penting, misal, hak perempuan sepenuhnya dalam kekuasaan ayahnya, kekuasaan yang dimaksud menjual, menganiaya, membunuh.

Tidak jauh berbeda dengan tradisi Cina kuno dan Hindu yang menanggap hak hidup seorang perempuan harus berakhir ketika suaminya mati, istri dibakar hidup-hidup saat pembakaran suaminya.

Tidak jauh berbeda saat kita membaca tarikh-dari Husain Haikal misalnya, atau Musthafa as-Siba’i yang diterjemahkan oleh Nabhan Husain menjadi Kebangkitan Peradaban Islam, Tradisi Arab yang Hedonis menjadikan masyarakat Arab begitu terpecah dengan status sosial, Agama. Belum lagi ashabiyyah, kesukuan, yang menjadi identitas tersendiri bagi mereka. gaya hidup nomaden untuk memperkaya kelompoknya/kafilahnya juga ciri khas karakteristik Arab saat itu.

Berbagai aktifitas sosial masyarakat Arab, bahkan kemudian menjelma menjadi aliran kepercayaan dan diyakini sebagai bagian dari tradisi agama, ritus-ritus yang dijalankan, merupakan tangan panjang kebudayaan lama yang di adopsi oleh beberapa kalangan saat ini. Penulis sudah paparkan hal itu saat mengungkap  “Islam Otentik” di majalan Justisia kala itu.

Peradaban Islam

Racikan pengetahuan antara masa lalu, periode Pra Arab, Yunani, Barat dan lain sebagainya tentu membutuhkan “alat sambung” agar tidak terjadi epistemological breaking (keterputusan epistemologi) dalam bahasanya al-Jabiri-antara al Masyriqiyyun dan al Maghribiyyun.  al Masyriqiyyun (Tradisi, pemikiran, filosuf, pemikir yang ada di wilayah timur meliputi Persia, Mesir, Syiria, Irak, Khurasan) diantara tokohnya al Ghazali, al-Asyari, as-Syafi’i dll.

al Maghribiyyun,yang ada di wilayah barat (Maroko, Andalusia/Spanyol, seperti Ibnu Hazm, Ibnu Rusyd, Ibnu Khaldun dll.

Disini maka pemikiran itu mengalami keterputusan. keterputusan antara barat dan timur itu ada dalam beberapa aspek, salah satunya Filosofis hukum dan Rasionalisme, sehingga terjadi Shift of paradigm

Tidak cukup sekilas untuk ngaji soal ini, kecuali baru kulit pojok saja yang terkupas, perlu berbagai forum dan referensi untuk membukakan pengetahuan tentang ini.

Dengan demikian karya pikir Hasan Hanafi dan Al Jabiri; al-Hiwar bainal masyriq wal maghrib merupakan catatan khusus untuk menemukan kembali peradaban yang kolot tapi  sekaligus mengagungkan tersebut. Harus ada dialog yang “ahsan” menuju kesatuan peradaban yang memberikan ‘ibrah bagi generasi selanjutnya. Semoga.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here