Selain dari kalangan aktivis yang selama ini bergiat dalam isu Kebebasan Beragama dan Berkyakinan (KBB) di Jawa Tengah seperti Lembaga Studi Sosial dan Agama (eLSA), hadir juga perwakilan dari Sedulur Sikep, Ahmadiyyah, Khonghucu dan Kelompok Kristen Unitarian.
Bonar Tigor Naipospos, Wakil Direktur SETARA Institute mengatakan bahwa diskusi ini bertujuan untuk memperoleh informasi faktual kondisi KBB di wilayah Jawa Tengah dan memetakan harapan baru perbaikan kondisi KBB pada era kepemimpinan Jokowi-Jusuf Kalla.
Ceprudin, Khoirul Anwar dan Tedi Kholiludin dari eLSA menyampaikan banyak data tentang konflik bernuansa agama yang terjadi di Jawa Tengah selama tahun 2011-2013. Secara khusus, Anwar menyoroti kasus-kasus yang berkaitan dengan diskriminasi yang menimpa penghayat kepercayaan di Jawa Tengah.
Sementara Ariyanto Nugroho dari Kristen Unitarian juga menyampaikan diskriminasi yang menimpanya, terutama yang didapati dari kelompok Kristen sendiri. “Cuma memang tidak ada tekanan dalam bentuk fisik,” ungkap Ari.
Pemetaan terhadap kondisi kebebasan beragama dan berkeyakinan di Jawa Tengah ini tentu sesuatu yang penting, selain bagi pemerintah daerah Propinsi Jawa Tengah sendiri juga untuk pemerintahan pusat. Kebijakan dalam bidang agama, kerapkali tidak mengindahkan potensi keragaman yang dimiliki. [elsa-ol/TKh-@tedikholiludin]