Romo Budi: Gus Dur Hadir dan Berlipat Ganda

[Semarang, elsaonline.com-]

Dari kiri: Dosen UIN Walisongo Ubaidillah Ahmad, Ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang Romo Aloys Budi Purnomo Pr, dalam acara “Refleksi Aksi Damai Seribu Lilin” sebagai rangkaian peringatatan Haul Gus Dur Ke-7 di bundaran Tugumuda Semarang, Kamis (29/12/16).
Dari kiri: Dosen UIN Walisongo Ubaidillah Ahmad, Ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang Romo Aloys Budi Purnomo Pr, dalam acara “Refleksi Aksi Damai Seribu Lilin” sebagai rangkaian peringatatan Haul Gus Dur Ke-7 di bundaran Tugumuda Semarang, Kamis (29/12/16).
Para pegiat toleransi di Kota Semarang yang tergabung dalam komunitas Gusdurian Kota Semarang, Pemuda Lintas Agama (Pelita), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Walisongo Semarang, Lembaga Studi Sosial dan Agama (eLSA), dan Himpunan Mahasiswa Buddhis Indonesia Cabang Semarang menggelar acara “Refleksi Aksi Damai Seribu Lilin” sebagai rangkaian peringatatan Haul Gus Dur Ke-7 di bundaran Tugumuda Semarang, Kamis (29/12/16).

Ratusan anak muda lintas agama itu meminta kepada pemerintah dan masyarakat untuk bersama-sama menolak radikalisme di Kota Semarang sembari menyalakan lilin yang sudah tersedia sebagai bentuk ungkapan perdamaian.

“Refleksi ini merupakan momen yang penting untuk dipahami oleh semua elemen masyarakat. Di mana, sosok Gus Dur adalah bapak bangsa yang menjunjung tinggi kemanusiaan dan menolak keras segala bentuk diskriminasi dan radikalisme agama,” kata Koordinator Lapangan Refleksi Aksi Damai Seribu Lilin, Mohamad Sabiq.

Dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Ubaidillah Ahmad, menambahkan bahwa aksi peringatan Haul Gus Dur ke-7 ini sebagai upaya tawasul (meminta bantuan, red) kepadanya untuk meredam perpecahan antarumat beragama. Menurutnya, Gus Dur mengajarkan banyak kebaikan, keberagaman yang mampu menyatukan masyarakat Indonesia.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang Romo Aloys Budi Purnomo Pr menyatakan, bahwa hidup damai telah dijunjung tinggi oleh Gus Dur, sehingga harapannya sosok seperti Gus Dur hadir dan berlipat ganda. “Hidup yang damai ini telah dijunjung tinggi oleh Gus Dur, kita berharap sosok beliau hadir dan berlipat ganda,” katanya sembari memainkan saxophone di tangannya.

Bagi Romo Budi, demikian beliau akrab disapa, Gus Dur adalah pembela kemanusiaan. “Gus Dur hidup dalam diri kita bersama. Maka, haul ini telah mempersatukan semua elemen, dan ini bentuk harapan mulia akan pemimpin yang cinta kedamaian serta kemanusiaan,” tukasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Pendiri EIN Institute Pdt. Tjahjadi Nugroho menyampaikan, bahwa Gus Dur adalah tokoh yang mencintai agama, berbangsa, dan berbudaya dengan benar. “Saya bersahabat dengan Gus Dur selama 23 tahun, saya sangat bersyukur Gus Dur menjadi inspirasi bagi kita dalam beragama dan berbangsa,” tuturnya.

Pria yang akrab dengan Gus Dur itu menambahkan bahwa aksi seribu lilin yang diselenggarakan pegiat toleransi masyarakat Semarang itu menjadi bukti kecintaan anak-anak muda kepada bangsa dan kerbeagaman di Indonesia. “Dan Gus Dur merupakan sosok tokoh yang mencintai keberagaman ini. Kita semua rela menyalakan lilin sebagai bentuk kecintaan kepada bangsa dan keberagaman. Gus Dur merupakan tokoh yang mencintai Tuhan dengan benar, berbangsa dan berbudaya dengan benar,” paparnya. [elsa-ol/Cahyono-@cahyonoanantato]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *