Siswa SMA Bicara Agama

Pelaksanaan “Training Pengembangan Pendidikan Agama Islam (PAI) Berbasis Kearifan Lokal Untuk Siswa SMA/SMK” menyisakan beberapa pekerjaan rumah untuk banyak pihak. Kegiatan yang dihelat pada pada tanggal 7-10 Januari 2014 di Semarang, dengan segala antusiasme yang ditunjukan oleh peserta, akan lebih bermakna jika disertai dengan kesinambungan dalam mengawal proses yang berjalan setelah kegiatan berlangsung.

Tentu, ini bukan merupakan kerja satu pihak. Setiap ada persoalan tentu akan menjadi ringan jika diselesaikan secara bersama-sama. Baik pihak sekolah, Kementerian Agama, maupun lembaga-lembaga sosial seperti halnya Lembaga Studi Sosial dan Agama (eLSA).

Kegiatan yang dilaksanakan memang tidak bisa menyulap peserta untuk dapat menerima secara komprehensif semua materi. Waktu empat hari sangatlah singkat untuk melakukan transformasi pengetahuan. Karena itu, kegiatan pengembangan PAI hanyalah pintu masuk untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan lanjutan. Karena kapasitas eLSA hanya sebagai pelaksana, maka proses itu tentu saja harus secara simultan dikerjakan oleh pihak sekolah.

Dengan mengambil isu kearifan lokal, eLSA berupaya menanamkan nilai-nilai luhur dalam tradisi masyarakat Jawa dalam mengembangkan nilai-nilai keislaman. Tentu saja, pilihan ini bukan tanpa latar belakang. Setidaknya ada dua gugus masalah yang melatari ini.

Pertama, dari aspek praktis kita melihat betapa nilai-nilai budaya dan tradisi sudah mulai tergerus oleh arus mo¬dernitas dan globalisasi. Tekhnologi lebih banyak menggiring anak-anak ini pada arus individualisme. Gotong royong, tepa selira, guyub rukun atau empan papan mungkin tak lagi banyak yang mengenalnya.

Kedua, PAI diajarkan hanya dua jam dalam satu min¬ggu. Tentu, waktu yang sangat singkat. Sementara, kebutuhan akan pengembangan PAI yang ramah terhadap budaya sangatlah signifikan. Kondisi inilah yang membuat eLSA melaksanakan kegiatan dengan tema demikian.

Buku ini berisi kumpulan cerita atau narasi yang terjadi selama kegiatan training PAI. Ada banyak sudut yang dibidik sebagai tema tulisan. Ada tulisan yang merupakan refleksi terhadap hasil survey ringan yang dilakukan selama kegiatan. Tema survey tersebut antara lain soal Islam dan Kebangsaan, Islam dan Hubungan Agama-agama serta Relasi Islam dalam Konteks Hubungan Sosial. Tulisan lain menyoroti masalah gerakan salafisme di kalangan anak SMA, jurnalisme di kalangan siswa, pemahaman mereka terhadap budaya lokal dan lainnya.

Karena sifatnya sebagai refleksi dari masing-masing penulisnya, maka buku ini tentu saja memiliki keterbatasan-keterbatasan. Buku ini bukan karya akademis. Tetapi, fakta yang dihadirkan tentu saja merupakan sesuatu yang empiris. Maka dari itu, jikapun ada yang bermanfaat dari buku ini, mungkin itu ada pada faktualitas data yang dihadirkan, meski sebagian besar dalam bentuk narasi.

Download

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *