Tentang Si Pitung dan Arabisasi Pulau-pulau di Nusantara

0
51
Rumah Si Pitung di Marunda [Foto: T-Kh]

Oleh: Tedi Kholiludin

Dalam sebuah percakapan dengan petugas di Rumah Si Pitung, Marunda, sejarah alternatif tentang pahlawan masyarakat Betawi itu mengemuka. Ia menyitir satu buku yang baru saja terbit tahun 2018 bertajuk “Pitung: Pituan Pitulung”. Buku itu ditulis Iwan Mahmud Al-Fattah dan sempat didiskusikan sengit pada 2017, tak lama setelah karya ini diluncurkan. Saya kemudian menelusuri ihwal perdebatan buku tersebut.

Ketika didiskusikan pada 25 November 2017 bertempat di Balai Latihan Kesenian Jakarta Pusat, buku ini dikritik oleh para sejarawan serta filolog. Karena Iwan mengutip kitab Al-Fatawi sebagai rujukan untuk bukunya, pandangan filologis tentu dibutuhkan. Kitab tersebut bertajuk Al-Fatawi Al-Kitab Silsilah Syar’i yang ditulis oleh Ki Meong Tuntu. Naskahnya berjumlah 235 halaman dan dalam bukunya tertulis tahun 1317 Hijriyah.

Kritik terhadap buku “Pitung” dari Munawar Cholil, filolog dari Masyarakat Pernaskahan Nusantara, adalah karena ia tak bisa dijadikan satu-satunya sebagai sumber penulisan sejarah. Perlu ada pembanding. Malah, penelitian terhadap buku Al-Fatawi justru dibutuhkan dari pelbagai aspeknya; kodikologi, filologi maupun paleografinya. Apa jenis kertas dan tintanya, dan perkiraan kapan tulisan itu dibuat.

Dari sudut pandang kesejarahan, buku Iwan juga mendapatkan masukan kritis. Kesimpulan yang menyebutkan bahwa Pitung berjumlah 7 orang, bukan nama individu, digugat. Sejarawan GJ Nawi menelusuri surat kabar Belanda yang terbit pada masa dimana Pitung hidup. Disana dicatat bahwa Pitung bernama Salihun dan punya istri dan seorang anak. Keterangan ini sekaligus berpunggungan dengan Iwan tentang Pitung yang berjumlah 7 orang.

***

Pada setiap bidang keilmuan, ada standar yang mesti ditaati. Sejarah misalnya. Seseorang yang hendak meneliti objek dengan pendekatan sejarah, sudah barang pasti harus menaati rambu-rambu yang dipasang disana. Membedah naskah, menguliti isinya, membandingkan dengan naskah lain dan seterusnya. Memeriksa gedung-gedung peninggalan, mencermati material di dalamnya, dan tentu saja menggenapinya dengan telusuran terhadap pustaka yang mendukung.

Kesimpulan yang berbeda sangat dimungkinkan. Tapi selagi jalur yang ditempuh sudah sesuai “rute akademis”, perdebatan masih apple to apple. Menjadi masalah besar ketika kesimpulan ditarik dengan mengangkangi standar-standar itu.

Membaca perdebatan atas buku Iwan, saya menduga, bisa jadi saya salah, Iwan tak melewati prosedur itu. Makanya seorang filolog maupun sejarawan mempertanyakan konklusi yang diambil Iwan. Beda halnya jika ia tidak berbicara tentang sejarah. Tentang legenda misalnya atau cerita rakyat yang tidak historis tetapi memiliki nilai. Ia tak perlu menaati standar penulisan sejarah yang rumit tersebut.

Betapapun begitu, saya tentu harus memberikan apresiasi atas apa yang dilakukan Iwan. Ia telah berhasil memantik pembaca dan masyarakat akademis untuk membaca dan mengkritisi karyanya.

Kebahagiaan seorang penulis adalah ketika karyanya dikritik secara konstruktif oleh orang lain.

***

Saya menonton video yang lalulalang di pelbagai sosial media. “Jawa itu Bahasa Arab, al-Jaawu. Artinya tempat tinggi.. Kalimantan itu tanah darah yang berawa, Barrun Naw’un. Lalu disebut Borneo” kata penceramah. Ia sedang serius menjelaskan asal-usul nama pulau di nusantara yang menurutnya berasal dari Bahasa Arab. Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku hingga Papua semuanya dari Bahasa Arab lengkap serta penjelasannya.

Seorang kawan alumnus sejarah yang kini bekerja sebagai kuli tinta menggerutu via status di facebooknya, “sia-sialah kita sekolah di jurusan sejarah”.

Ia pantas gusar dengan isi ceramah sang ustadz. Hemat saya, ustadz itu “dzalim secara akademis”. Penamaan sebuah nama tempat, tentu memiliki asal-usul dan hadir tidak di ruang hampa. Barangkali bisa diterima sejauh ada pembuktian secara historis. Masalahnya, buku sejarah yang pernah saya baca, tidak menunjukkan atau bahkan tidak ada yang sama sekali menyangkut nama-nama Arab meski tentu pengaruh Arab juga ada di nusantara.

Satu contoh saja tentang nama Kalimantan misalnya. Menurut Slamet Muljana, Kalimantan atau Klemantan berasal dari Sanksekerta yakni Kalamanthana. Ia kurang lebih berarti pulau yang udaranya sangat panas atau membakar. Kalla itu musim dan manthan artinya membakar.

Celakanya, tak sedikit orang yang percaya “teori” ini. Saya menduganya, selama berkait dengan argumen atau alasan-alasan keagamaan (entah sebagai pendukung atau ancaman) selalu ada tarikan untuk segera mengamini simpulan tersebut. Kita ingat kasus Masjid Al-Safar dimana ada simbol segitiga yang dikatakan Illuminati. Saudara-saudara saya yang terdidik justeru banyak yang percaya “konspirasi” ini.

***

Saya merasa bahwa dalam kasus-kasus yang ditunjukkan di atas ada dua kecenderungan yang mirip-mirip meski agak sedikit berbeda pada polanya. Kasus “si Pitung” adalah tentang tidak dipatuhinya rambu-rambu lalu lintas pengetahuan. Ia tidak sepenuhnya melanggar, karena mungkin saja lalai karena tidak melihat rambu-rambu itu. Jelasnya, ada prosedur yang diabaikan atau belum ditempuhnya. Ini masih mending. Orang yang tidak setuju tentang teori “Pitung sebagai kelompok,” bisa mengkritiknya dengan buku akademis, meski beberapa tulisan atau data-data dari majalah yang terbit abad 19 akhir sebenarnya sudah mengupasnya.

Yang payah saya kira soal Arabisasi Nama-nama Pulau. Ini tak hanya sekadar mengabaikan tapi betul-betul melanggar. Argumen teologis diajukan, dan dampaknya, otak mampat, tidak bekerja. Ilmu pengetahuan tidak lagi dijadikan sebagai rujukan. Ia kalah atau dikalahkan oleh emosi keagamaan. Terhadap yang semacam ini, rasanya, sia-sia saja kalau mengajaknya bertabayun, karena sebelum menelaah objek, dia sesungguhnya sudah punya kesimpulan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here