elsaonline.com

Voice of the voiceless

Terancam Simbol: Ringkasan Peristiwa Intoleransi di Jawa Tengah 2020

3 min read

[Semarang -elsaonline.com] Secara ringkas, tahun 2020 menggambarkan situasi dimana kasus terorisme melibatkan banyak penangkapan. Ada 23 terduga teroris ditangkap yang 2 diantaranya meninggal dunia. Data yang dikumpulkan juga mengidentifikasi ada keterlibatan satu orang perempuan yang kemudian ditangkap. Ada 12 lokasi latihan militer yang terbongkar melalui pantauan yang kami lakukan di tahun 2020. Dari rentang waktu, kasus-kasus penangkapan terduga terorisme terjadi pada bulan Maret, Mei, Juli dan Oktober.

Kasus-kasus intoleransi dan konflik horizontal juga terjadi di Jawa Tengah. Diantaranya adalah Dewan Syariah Kota Surakarta (DSKS) Solo mempermasalahkan logo HUT ke-75 RI, seorang siswi SMA Negeri 1 Gemolong, Sragen, diteror karena tidak mengenakan jilbab, penolakan perayaan Asyuro Syiah di Semarang, Penolakan renovasi dan pembangunan gereja di Mojolaban, Sukoharjo dan penyerangan acara Midodareni di Solo.

Ada dua kasus yang kontennya hilang di media yakni kasus penolakan calon guru karena agama di Magelang dan kasus persekusi seorang penulis bernama Ahmad Fauzi. Kedua peristiwa ini awalnya ada di internet namun belakangan sudah tidak dapat diakses lagi. Kasus yang kedua, yakni persekusi terhadap penulis buku Ahmad Fauzi, sesungguhnya bisa diverifikasi sebagai peristiwa yang memang betul-betul terjadi. Rumahnya didatangi oleh sekitar 20 orang yang merasa keberatan dengan ide dan pikiran yang disampaikannya melalui media sosial.

Di luar kasus-kasus baru pada 2020, ada juga kasus lama yang belum tuntas penanganannya hingga kini. Salah satu yang diangkat dalam laporan tahun 2020 ini adalah tentang kasus pendirian Gereja Injili di Tanah Jawa (GITJ) Dermolo, Jepara.

Selain ada kasus-kasus bernuansa intoleransi, beberapa kemajuan patut diapresiasi. ELSA setidaknya mencatat ada tiga peristiwa kemajuan kebebasan beragama yang begitu berarti bagi kelompok minoritas dalam menajalankan hak kebebasan beragama dan berkeyakinan. Ketiganya adalah tindakan Walikota Semarang yang menerbitkan IMB Gereja Baptis Indonesia (GBI) Tlogosari, Polda Jateng dan Polres Solo berhasil menangkap dan memproses hukum
pelaku penyerangan acara Midodareni di Solo, dan Polda Jateng dan Polres Semarang mengamankan acara peringatan asyuro Jemaat Syiah.

Baca Juga  eLSA Report on Religious Freedom LI

Jika dicermati dari sisi spasialnya, peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengan konflik keagamaan hanya terjadi di dua titik utama; Kota Semarang dan Kota Surakarta. Dan jika ditilik lebih dalam, kebanyakan terjadi di Kota Surakarta, plus wilayah yang beririsan dengannya, Kabupaten Sukoharjo dan Kabupaten Sragen. Ada juga kasus yang terjadi di Kabupaten Tegal, tetapi dalam jumlah yang relatif kecil.

Penolakan peringatan Hari Asyuro di Kota Semarang bukanlah yang pertama. Terhitung sejak 2016, penolakan tahun ini berarti yang ketiga dalam kurun lima tahun terakhir. Penolakan tidak terjadi pada 2018-2019. Kota Semarang dengan begitu, menyisakan problem pada persoalan ini. Sejauh sebab pokok yang ada di pelbagai level tidak teratasi, maka penolakan akan selalu ada.

Kota Semarang sejatinya bukan satu-satunya tempat dimana penolakan terhadap Kelompok Syiah itu ada, tetapi kejadian serupa ada di Kota Surakarta. Bahkan, disana, kekerasan fisik sampai menimbulkan korban. Dan sama seperti halnya di Semarang, kejadian di Surakarta juga bukan kali pertama.

Dari sisi kelompok korban, bisa disimpulkan, resistensi terhadap kelompok Syiah menjadi salah satu yang mengemuka pada 2020. Kota Surakarta dan Kota Semarang merupakan wilayah dimana penolakan terhadap kelompok Syiah terjadi. Khusus di Kota Semarang, pola yang muncul adalah gerak lama laiknya yang dilakukan pada tahun-tahun sebelumnya, penolakan pada peringatan Hari Asyuro.

Kota Surakarta menyimpan cerita lain. Dewan Syariah Kota Surakarta (DSKS) mempersoalkan logo Hari Ulang Tahun Republik Indonesia karena dianggap mirip salib. Jika kita membaca laporan-laporan tahun sebelumnya, narasi-narasi seperti ini sesungguhnya terjadi pada kasus lain; “motif salib” pada paving. Ketakutan akan simbol sepertinya menjadi pola berikutnya yang bisa kita cermati pada kasus-kasus yang berkaitan dengan kehidupan keagamaan di Jawa Tengah. [Ceprudin, Tedi Kholiludin]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *