Tokoh Agama Diminta Tumbuhkan Kedewasaan Beragama

[Semarang – elsaonline.com] Kondisi keberagamaan di Jawa Tengah dinilai lebih aman ketimbang daerah lain di Indonesia. Meski begitu, tantangan serta konflik antar umat beragama bisa terjadi kapan waktu.

Prof. Mudjahirin Thohir
Prof. Mudjahirin Thohir

Untuk itu, butuh kesadaran para pihak untuk menciptakan kondisi yang aman, tentram dan damai. Permintaan itu disampaikan Wakil Gubernur Jawa Tengah, Heru Sudjatmoko di tengah Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Jawa Tengah di Semarang, Senin 3/2.

Pemenuhan rasa aman bisa dicontohkan melalui penganut agama dan kepercayaan yang bisa hidup berdampingan dengan saling tolong menolong.

“Budaya rembugan, tolong menolong harus terus ditradisikan. Kedewasaan beragama harus terus ditumbuhkan. Jangan sampai di atas baik, tapi di bawah masih ada permusuhan,” pesan mantan Bupati Purbalingga itu.

Wagub sempat menilai pendirian rumah ibadah antara satu agama dengan agama lain berjalan baik. Pelaksanaan perayaan hari raya agama berjalan aman. “Semua ormas bersatu padu menjaga. Kami berharap, bukan hanya pada hari besar saja, tapi pada kehidupan sehari-harinya,” tukasnya.

Untuk itu, Politisi PDI Perjuangan Jateng tersebut meminta agar semua agama harus bisa melebur dalam semangat kebangsaan dan penegakan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Hal itu penting agar NKRI dilandasi dengan nilai-nilai Pancasila.

Sementara ketua FKUB Jateng, Prof Mudjahirin Thohir mengatakan perbedaan agama di Indonesia adalah bentuk keindahan. Perbedaan itu bisa menjadi kahzanah berbagi pada sesama manusia.

“Soal keyakinan itu hubungan dengan tuhan. Soal sosial adalah soal hubungan antar manusia. Mari jaga perbedaan ini dengan pendekatan humanis,” ujar guru besar antropologi Universitas Diponegoro Semarang.

Dia berharap di Jawa Tengah mampu menghimpun semua agama dan aliran kepercayaan, sehingga bisa menjadi kondisi yang nyaman.

Baca Juga  Ahmadiyah Jateng Rayakan Maulid Nabi Muhammad

“Hakikat manusia adalah menolong, bukan memusuhi. Caranya, melihat orang lain sebagai saudara. Ini yang hendak kami tuju ke depannya,” sambungnya. [elsa-ol/Nazar]

spot_imgspot_img

Subscribe

Artikel Terkait

Tidak Ada Ruang Publik Gratis dan Demokratis

Oleh: Alfian Ihsan Dosen Sosiologi Universitas Jenderal Soedirman   Apakah Anda selalu...

Hukum Lingkungan Internasional

Angin tidak punya KTP, sehingga kalau pencemaran udara terjadi...

Onderdistrict Tjilimoes

Buku ini berangkat dari pertanyaan sederhana, bagaimana perubahan yang...

Yaumul Quds: Politik Simbol dan Emosi Kolektif dalam Solidaritas Palestina

Oleh: Tedi Kholiludin Jarum jam belum genap menunjuk pukul 14.00...

EN (?): Konsep Ikatan Tak Terlihat dalam Budaya Jepang

Oleh : Iwan Madari (Pemerhati Kebudayaan Jepang) elsaonline.com Dalam hidup,...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini