Jum. Sep 25th, 2020

elsaonline.com

Voice of the voiceless

Ulang Tahun Ke 15, Yayasan ELSA Memiliki Harapan Besar

2 min read

Acara ulang tahun eLSA ke-15 di kantor YPK eLSA pada hari Minggu (16/8/020). [Foto: Bams]

[Semarang -elsaonline.com] Dalam rangka memperingati hari ulang tahun berdirinya Yayasan Pemberdayaan Komunitas ELSA, segenap jajaran pengurus bersama peneliti, santri serta pembina melaksanakan tahlil dan doa bersama di Kantor Yayasan, Perumahan Bukit Walisongo Permai Jalan Sunan Ampel nomor 11, Semarang.

Kegiatan tersebut diselenggarakan Minggu (16/8/2020) mulai pukul 20.00 hingga selesai. Beberapa anggota yang ikut acara tersebut menjadikan acara itu sebagai momen untuk berefleksi serta mengetahui kisah dan perjuangan panjang ELSA selama 15 tahun berdiri.

Tasyakuran tersebut dimulai dengan Pembukaan dan Pembacaan tahlil yang dipimpin oleh KH. Iman Fadhilah dan dilanjutkan oleh pembacaan doa oleh KH Abu Hapsin sebagai Pembina Yayasan ELSA sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Mahasiswa Ath-Taharuriyyah. Setelah doa selesai dipanjatkan, Tedi Kholiludin sebagai ketua Yayasan memberikan sambutan.

Harapan besar ELSA kedepan menjadi bagian penting dari apa yang disampaikan oleh KH. Abu Hapsin. Ia berpesan bahwa ELSA harus terus menyuarakan tentang semangat toleransi, pluralisme dan gagasan-gagasan keagamaan yang damai.

Ia menjelaskan bahwa citra ELSA yang dianggap liberal sebenarnya juga dilapisi oleh sisi spiritualismenya. Dalam beraktivitas, teman-teman ELSA bisa memadukan irfani dan burhani. Tentang hal ini, KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) telah memberikan contoh. Gus Dur bukan saja orang yang rasional tetapi juga sufistik. Dan pola seperti ini tidak ditemukan di Timur Tengah. “Memadukan dua nalar tersebut mungkin tidak mudah, seperti apa yang dikatakan Abed Al-Jabiri. Tapi Gus Dur di Indonesia berhasil memadukan keduanya,” kata KH. Abu Hapsin.

“Saya bangga sekali kepada ELSA. Anak-anak ELSA saya sudah anggap anak sendiri, dan saya tidak ragu-ragu lagi kalau kemana-kemana saya memperkenalkan diri dari ELSA. Sama halnya dengan orang tua yang punya anak, begitu juga saya terhadap ELSA. Dan ini juga mungkin yang dirasakan oleh Tedi dan Iman selaku orangtua. Dan harapan besar saya anak-anak ELSA tetap mengkaji kitab-kitab klasik disamping menyuarakan toleransi dan perdamaian agama,” papar KH. Abu Hapsin.

Baca Juga  "Dulu, eLSA Harus Babat Alas"

Tedi Kholiludin, Ketua Yayasan, menambahkan perkembangan eLSA dari segi sumberdaya manusia, bahwa sampai saat ini anak-anak ELSA kurang lebih sekitar 15 orang yang bergelar magister dan 6 orang berkandidat doktor dan bergelar doktor. eLSA Press, sebagai lini penerbitan Yayasan ELSA, sudah menerbitkan buku hampir 100an judul buku.

“Dan semoga ELSA kedepan menjadi lebih baik dan lebih sukses kedepannya,” tambahnya. [Jaedin]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *