LPM Menteng UNWAHAS Gelar Diskusi Publik Politik Minoritas, Tiga Akademisi Soroti Isu Agama dan Identitas

Semarang, LPM Menteng UNWAHAS Gelar Diskusi Publik Politik Minoritas, Tiga Akademisi Soroti Isu Agama dan Identitas

Semarang,  Suasana kampus Universitas Wahid Hasyim (UNWAHAS) Semarang terasa lebih hidup pada Kamis (23/10/2025) pagi. Diskusi Publik dan Bedah Buku “Politik Minoritas di Indonesia” digelar oleh Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Menteng UNWAHAS.

Dosen UNTAG Semarang, Ceprudin menyoroti pentingnya peran agama dalam administrasi kependudukan.

“Agama memasuki garis administratif penting bagi kependudukan di Indonesia,” katanya.

Menurutnya, hal ini menunjukkan bahwa identitas agama memiliki pengaruh besar dalam sistem kewarganegaraan di Indonesia.

Sekretaris II Komisi Hubungan Antar-Kepercayaan (HAK) Keuskupan Agung Semarang dan Ketua Komisi Keadilan, Perdamaian, dan Keutuhan Ciptaan (KKPKC) Keuskupan Agung Semarang, R. Antony Dedy Septiadi menjawab pertanyaan peserta soal konsep “ending of life” atau akhir kehidupan.

Ia menuturkan bahwa dalam kepercayaannya, ketika inti jiwa sudah menyatu dengan Tuhan, urusan duniawi diserahkan kepada yang masih hidup.

“Bukan menelantarkan kematian, tapi memahami bahwa inti jiwa telah bersatu dengan Gusti Allah,” ujarnya.

Hubungan antar agama disoroti oleh Dosen UIN Walisongo, Siti Rofiah.  Praktik beragama tidak berhenti pada ritual, tetapi juga harus tercermin dalam sikap sosial terhadap sesama, termasuk kelompok minoritas.

“Tingkat penerimaan terhadap minoritas bisa jadi ukuran kedewasaan masyarakat beragama,” jelasnya.

Ruang Akademik yang Hidup dan Reflektif

Mahasiswa aktif bertanya dan menanggapi pandangan para narasumber. Isu-isu seperti hak minoritas, pluralisme, dan politik identitas mencuat di tengah ruang diskusi yang penuh antusiasme. Banyak peserta mencatat poin-poin penting, menandakan keseriusan mereka dalam mengikuti jalannya acara.

“Buku ini membuka cara pandang baru tentang bagaimana minoritas diperlakukan dalam sistem sosial-politik kita,” ujar salah satu mahasiswa peserta diskusi.

Baca Juga  Aktivitas Pemuda Sedulur Sikep Kembali Bergairah

Di penghujung acara, para peserta dan narasumber berfoto bersama. Senyum dan tawa mewarnai sesi dokumentasi yang berlangsung santai namun penuh makna. Panitia berharap kegiatan ini menjadi ruang reflektif bagi mahasiswa untuk memahami isu keberagaman di Indonesia secara lebih mendalam.

“Kami ingin kegiatan seperti ini terus berlanjut. Mahasiswa perlu ruang untuk berpikir kritis dan berdialog, bukan hanya menerima teori di kelas,” kata salah satu panitia dari LPM Menteng.

Bedah buku “Politik Minoritas di Indonesia” dimoderatori Dosen UNWAHAS, Tedi Kholiludin ditutup dengan penuh apresiasi dari peserta. Bagi sebagian mahasiswa, acara ini bukan sekadar kegiatan literasi, tapi momentum untuk belajar menghargai perbedaan dan memperkuat nilai kemanusiaan di tengah masyarakat yang beragam.
(Reporter: Andhika Bagaskara, Ilhamsa Maulana, Dani Lalang Anggoro, Muhammad Kaunain Mirfaqullah, Muhammad Shidiq al-Farizhi, Aji Aryadi /Editor: Rais)

spot_imgspot_img

Subscribe

Artikel Terkait

Hukum Lingkungan Internasional

Angin tidak punya KTP, sehingga kalau pencemaran udara terjadi...

Onderdistrict Tjilimoes

Buku ini berangkat dari pertanyaan sederhana, bagaimana perubahan yang...

Yaumul Quds: Politik Simbol dan Emosi Kolektif dalam Solidaritas Palestina

Oleh: Tedi Kholiludin Jarum jam belum genap menunjuk pukul 14.00...

EN (?): Konsep Ikatan Tak Terlihat dalam Budaya Jepang

Oleh : Iwan Madari (Pemerhati Kebudayaan Jepang) elsaonline.com Dalam hidup,...

Malam di Darut Taqrib: Duka, Solidaritas dan Harapan Dialog

Kami duduk bersama di bagian depan luar sebuah...

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini