[Jepara -elsaonline.com] Kami duduk bersama di bagian depan luar sebuah ruangan Pondok Pesantren Darut Taqrib, Jepara. Sebagian kalangan mafhum, kalau pesantren ini dikenal berafiliasi dengan Muslim Syiah. Obrolan yang kami helat ada dalam sebuah momen silaturahmi yang hangat dan sederhana, berlangsung pada malam hari. Ketika itu, teras pesantren diterangi lampu-lampu gantung persis di malam tanggal 15 Ramadlan (04.03/2026). Laiknya silaturahmi, suasana terbangun akrab dan sangat cair, serupa percakapan ruang keluarga ketimbang forum diskusi.
Di sisi kiri, Ustadz Miqdad Turkan tampak mengenakan pakaian hitam dengan peci senada. Tangannya terangkat, seolah sedang menegaskan sebuah poin penting dalam percakapan. Sepanjang obrolan ekspresinya menunjukkan antusiasisme serta optimisme. Jemarinya tak lepas dari rokok. Sesekali rokok itu dihisapnya dan lambat laun cerita berhamburan; mulai dari kondisi Iran terkini, mimpi-mimpinya dalam membangun dialog Syiah dan Sunni serta pengalamannya ketika menimba ilmu di Negeri Para Mullah.
Saya duduk di sampingnya, dekat sekali. Terkadang kaki saya angkat untuk duduk bersila. Tanpa ragu atau kikuk, saya berusaha senyaman mungkin mengatur posisi duduk untuk mendengar kisah yang dibagikan oleh Ustadz Miqdad. Kami di pisa oleh meja kayu yang di atasnya tersaji cangkir kopi, piring berisi camilan dan lain sebagainya. Sejatinya kami berbicara tentang hal yang lumayan besar, tapi tersaji dari sebuah meja sederhana dengan sisa kopi dan remah kripik singkong.
Sudah kali yang ke sekian saya datang ke Darut Taqrib. Malam sebelumnya, saya juga mampir ke sana, bersua Ustadz Muhammad Ali. Bersama Ustadz Muhammad Ali serta Ustadz Miqdad, situasi terkini yang terjadi di Timur Tengah menjadi topik utama; termasuk meninggalnya Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, keluarga serta masyarakat Iran. Tentang bagaimana masa depan Iran, dampaknya ke Muslim Syiah di Indonesia serta bahasan-bahasan lain, juga jadi bahan pembicaraan dalam ruang yang santai tersebut.
Di antara berbagai tema besar yang mengemuka malam itu, saya justru tertarik pada satu penekanan yang disampaikan Ustadz Muhammad Ali; bahwa keinginan pihak luar untuk menggulingkan dan mengganti rezim di Iran tidaklah berjalan semudah yang dibayangkan. Selain tentu saja karena karena kekuatan militer atau strategi politik negara, ada faktor lain yang turut memperkuat barikade; soliditas rakyatnya. Dalam pandangan Ustadz Ali, ancaman dari luar justru kerap memproduksi konsolidasi ke dalam. Mereka menyatu ketika kedaulatan dan harga diri kolektif merasa diganggu. Betapapun mungkin ada sebagian kecil masyarakat Iran yang kontra terhadap pemerintahan sekarang, namun kenyataannya adalah perkara sulit bagi Amerika untuk mengintervensi kedaulatan Iran.
Dalam kajian politik, dikenal istilah rally round the flag effect yang diperkenalkan oleh John Mueller pada tahun 1970. Secara harfiah, istilah ini berarti āberkumpul atau merapat di sekeliling benderaā. Secara konseptual, ia merujuk pada kecenderungan masyarakat untuk meningkatkan dukungan kepada pemimpin atau pemerintahnya ketika menghadapi ancaman eksternal, krisis internasional, atau serangan dari luar negeri. Dalam situasi semacam itu, kritik internal sering kali mereda untuk sementara, dan identitas nasional menjadi titik temu yang mempersatukan.
Mueller menunjukkan bahwa peristiwa internasional yang bersifat spesifik, dramatis, dan langsung melibatkan negara serta kepala pemerintahan dapat memicu lonjakan dukungan publik. Bukan semata-mata karena kebijakan pemerintah dianggap benar, melainkan karena muncul dorongan psikologis dan sosiologis untuk mempertahankan solidaritas kolektif ketika simbol kedaulatan terasa terancam. Dengan kata lain, dalam kondisi krisis eksternal, hubungan antara rakyat dan negara dapat mengalami semacam konsolidasi emosional: konflik internal ditangguhkan, sementara rasa kebersamaan diperkuat oleh persepsi tentang āancaman bersamaā.
Yang terjadi di Iran bisa dibaca sebagai efek dari ārally round the flag.ā Tekanan eksternal dalam bentuk embargo, serangan terbuka dan sebagainya, tidak serta melemahkan legitimasi negara. Dalam kasus Iran, kejadian itu justru melipatgandakan perlawanan rakyat serta pasukan perangnya. Ketegangan sosial, friksi politik dan mungkin krisis ekonomi yang sedang terjadi, mereda untuk sementara, ketika ada ancaman atas kedaulatan.
Ustadz Miqdad, melihat apa yang terjadi ini sebagai momentum untuk memperkuat narasi kesenyawaan antara Syiah dan Sunni. Ia merasakan hal tersebut setelah mendapatkan pesan singkat dari ulama-ulama Sunni di Indonesia yang menyatakan belasungkawa atas meninggalnya Ayatullah Ali Khamenei. Baginya, ini tidak sekadar ungkapan dukacita tapi juga mengapungkan solidaritas yang pada gilirannya memperkuat soliditas. Dalam konteks Indonesia, modal ini sangat penting untuk diperkuat.
Alumnus Al-Mustafa International University di Qum itu membaca bahwa peristiwa berkabung atas wafatnya Ali Khamenei tidak hanya dimaknai sebagai kehilangan seorang pemimpin spiritual dan politik, tetapi juga sebagai momen yang dapat memperkuat persaudaraan lintas mazhab. Baginya, ungkapan belasungkawa dari sejumlah ulama Sunni di Indonesia menunjukkan bahwa empati kemanusiaan dapat melampaui sekat-sekat teologis. Duka bersama menjadi ruang jumpa yang sebelumnya agak berjarak karena asumsi atau beban sejarah. Ia membaca momen itu sebagai peluang untuk menegaskan kembali persaudaraan antara Syiah dan Sunni. Perbedaan fikih dan sejarah tidak harus berujung pada kecurigaan permanen. Justru dalam suasana berkabung, solidaritas menemukan bentuknya yang paling tulus sebagai pengakuan atas kehilangan.
Situasi ini mengingatkan pada apa yang oleh William H. Sewell Jr., sebut dengan āevenemential temporalityā atau temporalitas yang berporos pada peristiwa. Menurutnya, sebuah peristiwa mampu membawa perubahan historis dengan mentransformasi kategori-kategori kultural yang membentuk dan membatasi tindakan manusia. Karena kausalitas dalam relasi sosial sebagian bergantung pada isi dan relasi kategori-kategori kultural tersebut, peristiwa memiliki kekuatan untuk mentransformasi kausalitas sosial itu sendiri. Sebuah peristiwa, tidak bisa dipahami hanya sebagai episode rutin dalam sejarah politik, namun kejadian yang berpotensi āmenggangguā struktur relasi yang telah mapan.
Secara kategoris, Sewell membedakan tiga jenis temporalitas; telologis, eksperimental dan evenemential (atau eventful temporality). Jika teleologis membayangkan sejarah bergerak pada satu titik tertentu, eksperimental memperlakukan masa lalu sebagai deretan data, maka temporalitas eventful memandang sejarah sebagai rangkaian peristiwa kontingen (tidak sepenuhnya niscaya tetapi tergangun pada bagaimana para aktor meresponsnya) yang dapat mengubah struktur sosial.
Pada jenis temporalitas yang terakhir itulah respons dari masyarakat berbagai latar belakang bisa dibaca. Ucapan belasungkawa dari ulama Sunni bisa menggambarkan dua hal (i) empati personal (ii) membuka kemungkinan pergeseran dalam pola interaksi SunniāSyiah di Indonesia; dari relasi yang kaku menuju hubungan yang lebih dialogis. Jika momen ini kemudian ditransformasikan melalui pelbagai mode dialog yang berkelanjutan, maka ia tidak berhenti sebagai ekspresi emosional semata tapi langkah baru untuk memodifikasi struktur hubungan lintas madzhab secara lebih fundamental.
Di sisi lain, Ustadz Miqdad juga menekankan pentingnya regenerasi internal di kalangan Syiah Indonesia. Menurutnya, kesinambungan kader, penguatan literasi keagamaan, serta keterbuukaan dalam berinteraksi dengan kelompok lain adalah aset penting untuk membangun dialog yang sehat. Komunitas yang kuat secara internal, baik secara keilmuan atau keorganisasian, akan lebih siap membuka diri secara eksternal. Regenerasi, dalam hal ini, bukan hanya tentang bagaimana menjaga kelanjutan tradisi, tapi sumberdaya manusia yang bisa menjadi jembatan percakapan lintas mazhab. [Tedi Kholiludin]

