“Justru mereka yang berpendidikan da nada di level ekonomi mapan, ada yang turut ambil bagian dalam gerakan terorisme. Jika ini yang terjadi, berarti faktor ideologi memiliki sumbangsih besar dalam membentuk sikap dan perilaku seseorang,” kata Tedi Kholiludin, Dosen Program Pascasarjana Universitas Wahid Hasyim (Unwahas), Semarang. Tedi menyampaikan hal tersebut dalam diskusi yang digelar Lembaga Studi Sosial dan Agama (eLSA) bekerjasama dengan Badan Kesatuan Bangsa, Politik dan Perlindungan Masyarakat (Kesbangpol dan Linmas )Propinsi Jawa Tengah, Senin (24/7) kemarin. Acara yang berlangsung di Rumah Makan Ulam Sari, Kudus tersebut diikuti oleh aktivis mahasiswa, jurnalis, pengurus karang taruna, kelompok lintas iman serta penghayat kepercayaan.
Meski begitu, Tedi mengingatkan, bahwa faktor ideologi bukanlah sebab tunggal. Karena ada juga mereka yang dijanjikan materi untuk turut dalam aksi-aksi teror. Doktor Sosiologi Agama tersebut menambahkan, bahwa radikalisme bukanlah fenomena yang jauh disana. “Setelah Irak dan Syria, sekarang kelompok yang berafiliasi dengan Islamic State ada di Filipina. Dan secara geografis, itu sangat dekat dengan negara kita. Jadi, apa yang terjadi sekarang itu, sesuatu yang nyata dan ada di depan mata,” tutur ayah satu anak ini.
Tedi mencermati, kehidupan bangsa Indonesia yang cenderung mengarah pada konservatisme pada beberapa kasus, bisa dijelaskan dengan dua cara pandang. Pertama, ini merupakan fenomena global dimana Indonesia terimbas oleh situasi tersebut. Kedua, apa yang terjadi adalah buah dari cara pandang eksklusif yang difasilitasi dalam kehidupan keseharian melalui berbagai medium.
Peran Perempuan
Sementara itu, Koordinator Bidang Kajian Lembaga Studi Sosial dan Agama (eLSA), Khoirul Anwar, menyampaikan bahwa dalam Islam, ada perintah untuk menjadi juru damai atau disebut al-mushlih. Baik dalam al-Quran maupun hadis ada banyak perintah yg intinya di antara umat Islam harus ada yg menjadi juru damai. Kalau tidak semuanya berdosa. Juru damai di sini tidak hanya menjadi kewajiban laki-laki, tapi juga perempuan.
“Merajut perdamaian juga harus melibatkan perempuan, bahkan peran perempuan sangat penting dalam kondisi konflik. Misalnya, di suatu daerah yang hubungan antara Kristen dan Islam atau Sedulur Sikep dan Islam saling curiga, maka perempuan bisa berperan menjalin kerjasama dgn perempuan lintas agama, baik melalui kegiatan-kegiatan sosial maupun ekonomi,” paparnya.
Menurut Pengurus Lembaga Bahtsul Masail (LBM) NU Jawa Tengah itu, perjumpaan perempuan lintas agama lebih banyak daripada laki-laki. Pasalnya, di dalam masyarakat kita, sektor ekonomi masih diperankan oleh perempuan. “Di pasar, isinya perempuan. Di situ dipastikan agama tidak menjadi sekat transaksi jual beli. Tidak ada orang mau beli atau menjual kemudian bertanya, agamamu apa. Nah, dalam ruang-ruang seperti ini perempuan bisa berperan lebih banyak untuk memperkenalkan diri supaya tidak saling curiga. Karena salah satu faktor permusuhan atau konflik yaitu saling salah paham,” jelasnya. [Yon/001]