Yaumul Quds: Politik Simbol dan Emosi Kolektif dalam Solidaritas Palestina

Oleh: Tedi Kholiludin

Jarum jam belum genap menunjuk pukul 14.00 WIB, namun pelataran Masjid Baiturrahman di Simpang Lima, Semarang, telah berubah menjadi lautan hitam yang khidmat. Di bawah langit siang yang sangat terik, kibaran bendera Palestina dan Merah Putih menyatu, mendominasi pandangan. Di antara kerumunan, poster wajah Ayatullah Ali Khamenei dan Syekh Hasan Nasrullah diangkat tinggi, bersanding dengan seruan ‘Free Palestine’ yang membara. Jumat itu (14/03/2026) Mereka sedang menyatakan dukungannya untuk untuk kemerdekaan Palestina.

Pelataran Masjid Baiturrahman benar-benar tampak seperti hamparan solidaritas yang bergerak. Ribuan orang berdiri berdesakan, sebagian mengenakan pakaian serba hitam, sebagian lain membawa syal dan penutup kepala bermotif Palestina. Bendera Palestina, Merah Putih, dan berbagai panji organisasi berkibar tinggi di atas kepala massa, menjadi lanskap warna yang kuat di bawah matahari siang. Para peserta, laki-laki, perempuan, dewasa hingga anak-anak, berdiri dengan wajah serius namun penuh semangat. Sembari mendengarkan para orator yang membakar semangat, massa seperti bertemua di tempat dimana kemarahan, empati, dan harapan terhadap kemerdekaan Palestina bertemu dalam satu irama.

Tak lama kemudian, mereka berjalan tertib menyusuri lapangan Simpang Lima menuju halaman Kantor Gubernur Provinsi Jawa Tengah. Di sana para orator bergilir menyampaikan pesan. Di atas bak sebuah mobil pick-up yang dijadikan panggung sederhana, seorang perempuan muda berdiri menyampaikan orasinya dengan suara lantang, mengenakan syal bermotif Palestina yang melingkar di lehernya. Di belakangnya, massa yang memenuhi jalan mendengarkan dengan khidmat, sementara bendera Palestina terus berkibar di antara kerumunan yang memadati kawasan itu. Sound system yang menggema memekikkan suara perlawanan dan solidaritas itu ke seluruh penjuru kota.

Baca Juga  Di Sragen, FPI Berulah

Peristiwa di atas bukan aksi solidaritas spontan yang lahir dari ruang lokal Semarang. Ia merupakan bagian dari sebuah tradisi politik-keagamaan yang memiliki akar sejarah jauh di luar Indonesia. Setiap tahun, pada Jumat terakhir bulan Ramadan, peringatan serupa berlangsung di berbagai kota di dunia. Apa yang tampak di Simpang Lima hari itu sesungguhnya adalah gema dari sebuah seruan yang pertama kali muncul dari Iran lebih dari empat dekade yang lalu.

Tak lama setelah Revolusi Iran 1979, Ayatullah Khomeini mencetuskan Yaumul Quds atau Hari Quds sebagai momen untuk menunjukkan solidaritas pada masyarakat Palestina. Pada Hari Jumat terakhir Bulan Ramadlan, Imam Khomeini menyerukan kepada Rakyat Iran untuk turun ke jalan sebagai bentuk kebangkitan kesadaran mereka melawan ketidakadilan. Selain khusus dalam konteks Palestina, solidaritas juga ditunjukkan secara luas sebagai perlawanan atas ketidakadilan global. Bermula dari Iran, solidaritas itu menjalar ke seluruh dunia, meskipun porosnya memang digerakkan oleh kalangan Syiah.

Secara sosiologis, dukungan politik terhadap Palestina melalui Yaumul Quds ini kemudian berkembang menjadi semacam ritual solidaritas global. Apa yang pada awalnya adalah seruan politik dari sebuah negara, perlahan berubah menjadi peristiwa kolektif yang diperingati di berbagai kota di dunia. Ia tidak lagi hanya menjadi agenda domestik Iran, melainkan menjelma sebagai ritual yang mengandung pelbagai dimensi; politik, moral, keagamaan sekaligus peneguhan identitas. Dalam pengertian ini, Yaumul Quds dapat dipahami sebagai apa yang saya sebut sebagai a ritual of moral and political solidarity (ritual solidaritas moral dan politik) atau sebuah ritual solidaritas moral dan politik yang perayaannya dilakukan secara kolektif serta serempak.

Meski begitu, ada faktor yang membuat membuat proses transformasi ini relatif mudah dipahami. Seruan Yaumul Quds sejak awal dijangkarkan oleh Ayatullah Ruhullah Khomeini dalam konteks ideologi Revolusi Iran. Karena itu, akar aktivitas ini sangat kuat bertumpu pada tradisi politik dan keagamaan Syiah. Jaringan solidaritas yang berkembang kemudian banyak bergerak melalui simpul-simpul yang terhubung dengan poros tersebut, sehingga secara simbolik dan organisatoris ia sering kali tampak seperti gerakan yang berangkat dari satu pusat komando. Dalam praktiknya, simbol-simbol yang muncul, mulai dari tokoh-tokoh perlawanan hingga bendera tertentu, menunjukkan dengan sangat benderang kedekatan lanskap politik Syiah di Timur Tengah.

Baca Juga  Kampus dan Senjakala Kebebasan Akademik

Ketika mencermati perayaan Yaumul Quds dari dekat, ada satu fakta menarik; tidak ada kata “Syiah” yang keluar dari para orator melalui pengeras suara, atau jikapun ada, sangat-sangat jarang sekali. Yang dominan adalah seruan pembelaan terhadap rakyat Palestina, serta ajakan untuk melawan ketidakadilan global. Padahal simbol-simbol yang hadir di tengah kerumunan peserta, semuanya berporos pada lanskap politik Syiah. Jadi, secara simbolik menunjukan kedekatan dengan tradisi Syiah, tetapi identitas Syiah itu sendiri tidak diucapkan secara eksplisit. Syiah hadir melalui gambar, warna, dan tokoh-tokoh yang diangkat dalam aksi, namun tetap dibiarkan berada di ruang simbolik, bukan di ruang retorika.

Bisa jadi di sinilah letak keunikan sekaligus kekuatan Yaumul Quds sebagai sebuah ritual solidaritas moral dan politik. Ia memungkinkan simbol-simbol yang berasal dari satu tradisi keagamaan tertentu hadir dalam ruang publik yang lebih luas tanpa harus selalu disebutkan sebagai identitas mazhabnya. Narasi bersama tentang ketidakadilan global, perjuangan pembebasan Palestina, serta kemarahan atas tindakan represif Amerika dan agresi militer Israel menyatukan mereka dalam satu solidaritas yang sama.

Dalam Yaumul Quds, Palestina adalah “moral center of solidarity”. Ini juga lahir dari kenyataan yang sangat unik. Populasi Syiah di Palestina sangatlah kecil, untuk tidak dikatakan tidak ada sama sekali. Mayoritas muslim Palestina bermadzhab Sunni. Namun, dukungan yang paling konsisten justru datang dari Republik Islam Iran yang Syiah. Hal ini menjadikan solidaritas atas Palestina bisa ditarik dari perkara politik menjadi masalah keadilan, penjajahan dan pembelaan terhadap yang tertindas. Di Palestina sendiri perlawanan juga dilakukan oleh kelompok-kelompok Kristen seperti Gerakan Kairos Palestina juga tokoh-tokoh seperti George Habash (pendiri Front Rakyat untuk Pembebasan Palestina), Naim Stifan Ateek dan lainnya.

Baca Juga  Edisi II: Konteks Sosio-Historis Kitab Fashl al-Maqâl

Dalam kerumunan massa di Yaumul Quds yang memekikkan pembebasan, terasa ada energi yang bersama-sama bergerak. Mereka yang mulanya datang sebagai individu, larut dalam perasaan yang sama; marah atas ketidakadilan dan empati terhadap penderitaan. Pada semangat massa yang dibakar oleh para orator, pada simbol yang dikibarkan, pada slogan yang diteriakkan, emosi kolektif itu muncul. Solidaritas seperti ini berasal dari pengalaman bersama yang dirasakan langsung. Émile Durkheim menyebutnya sebagai collective effervescence sebuah luapan emosi kolektif yang muncul ketika orang-orang berkumpul dalam ritual bersama dan merasakan keterikatan moral yang sama.

Singkatnya, Yaumul Quds adalah ritual solidaritas global yang menempatkan Palestina sebagai moral center of solidarity. Solidaritas itu bergerak melalui politik simbol yang melampaui batas mazhab tetapi juga sekaligus meneguhkan identitas Syiah sebagai kelompok yang berpihak serta diperkuat oleh emosi kolektif yang muncul ketika orang-orang berkumpul dalam satu pengalaman moral bersama.

spot_imgspot_img

Subscribe

Artikel Terkait

Hukum Lingkungan Internasional

Angin tidak punya KTP, sehingga kalau pencemaran udara terjadi...

Onderdistrict Tjilimoes

Buku ini berangkat dari pertanyaan sederhana, bagaimana perubahan yang...

EN (?): Konsep Ikatan Tak Terlihat dalam Budaya Jepang

Oleh : Iwan Madari (Pemerhati Kebudayaan Jepang) elsaonline.com Dalam hidup,...

Malam di Darut Taqrib: Duka, Solidaritas dan Harapan Dialog

Kami duduk bersama di bagian depan luar sebuah...

Keluarga Besar ELSA Gelar Ziarah ke Dua Tokoh Besar Semarang

Yayasan Pemberdayaan Komunitas ELSA menggelar kegiatan ziarah ke...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini