Buku ini berangkat dari pertanyaan sederhana, bagaimana perubahan yang dibawa oleh kebijakan kolonial memengaruhi kehidupan masyarakat di wilayah lokal seperti Cilimus. Ada tiga dimensi utama yang ditelusuri; perkembangan ekonomi, dinamika sosial masyarakat, serta pembangunan fasilitas publik pada awal abad ke-20. Ketiganya menunjukkan bahwa desa-desa di lereng timur Gunung Ciremai tidak berada dalam ruang yang terpisah dari wilayah lain, melainkan terhubung dengan jaringan ekonomi, mobilitas penduduk, serta arus gagasan yang lebih luas.
Di bidang ekonomi, aktivitas pertanian berkelindan dengan perdagangan dan mobilitas yang menghubungkan Cilimus dengan Kuningan maupun Cirebon. Kehadiran pabrik tenun di Bojong menjadi penanda penting munculnya aktivitas industri skala lokal yang bersanding dengan perekonomian agraris. Sementara itu, keberadaan fasilitas ekonomi kolonial seperti pegadaian memperlihatkan bagaimana negara kolonial berupaya menata kehidupan ekonomi masyarakat sekaligus memperkenalkan sistem ekonomi uang ke dalam kehidupan desa.
Perubahan ekonomi tersebut berjalan beriringan dengan dinamika sosial yang semakin kompleks. Akses terhadap pendidikan, informasi, dan jaringan ekonomi melahirkan diferensiasi sosial baru di tengah masyarakat desa. Dalam konteks inilah berbagai gerakan keagamaan, khususnya yang berakar pada Islam seperti Sarekat Islam dan Persarikatan Oelama, menemukan basis sosialnya di wilayah Cilimus dan desa-desa sekitarnya. Gerakan-gerakan ini tidak hanya hadir sebagai ekspresi keagamaan, tetapi juga sebagai medium solidaritas sosial dan respons terhadap ketimpangan yang dirasakan masyarakat.
Penulis: Tedi Kholiludin
Tebal Buku: x + 90 halaman
Tahun Terbit: April 2026
Penerbit: eLSA
Harga: –
![]()

