Mistisisme dan Pembebasan Kyai Ibrahim Tunggul Wulung

0
287

Berbicara mengenai kekristenan di Jawa, khususnya di sekitar pantura, tidak dapat dipisahkan dari seseorang bernama Kyai Ibrahim Tunggul Wulung (± 1800-1885). Namun ada kesan nama Tunggul Wulung tidak begitu familiar di kalangan gereja-gereja masa kini. Di GITJ, Tunggul Wulung kalah populer dibandingkan dengan Pieter A. Janz, misionaris Mennonite dari badan misi DZV Belanda.

Catatan sejarah mengenai asal mula GITJ sebagian besar merujuk pada Janz sebagai tokoh utamanya. Bukti dari hal itu dapat dilihat dari Pokok-Pokok Ajaran yang selama ini digadang-gadang sebagai kristalisasi rumusan teologi GITJ ternyata sama sekali tidak memberikan perhatian sedikitpun terhadap Tunggul Wulung. Tidak hanya pribadinya yang terlupakan, pemikiran dan gerakannya pun ditinggalkan.

Masih banyak di kalangan pengajar GITJ yang menganggap ajaran Tunggul Wulung sebagai bentuk kekeliruan secara teologis, dangkal karena hanya dua bulan belajar agama Kristen, dan dianggap sinkretisasi kepercayaan Jawa. Sebuah ironi memang, di mana seorang tokoh besar, Rasul Jawa yang mencoba menghayati kekristenan secara otentik sesuai pergumulan komunitasnya, namun akhirnya terlupakan, terkhianati oleh keturunannya sendiri!

Pertanyaannya yang muncul adalah kenapa Tunggul Wulung tersisihkan di dalam sejarah GITJ? Tentu ada banyak hal yang bisa disampaikan di sini, tetapi saya melihat ketersisihan Tunggul yang Jawa, pribumi, dan awam, disebabkan karena kolonialisme yang telah meresap dalam alam kesadaran kita! Studi postkolonial telah menunjukkan bahwa kolonialisme dan imperialisme Barat di negara-negara dunia ketiga (Asia, Afrika) tidak hanya berada dalam tataran fisik saja berupa penguasaan sumber-sumber alam, tetapi juga dalam tataran pengetahuan.

Kolonialisme merupakan kekuatan dominan yang berpengaruh di banyak bidang kehidupan, baik itu bahasa, ideologi, cara berpikir, teologi, maupun kebudayaan. Kolonialisme bersifat hegemonik, di mana kultur kolonial (Barat) diresapkan sedemikian rupa di dalam wilayah koloninya hingga berpengaruh terhadap identitas kulturalnya. Bahkan ketika kolonialisme berakhir, dampak laten hegemoni kolonial masih tertanam begitu kuat. Contoh yang sederhana, kenapa ketika kita berbicara tentang perempuan cantik selalu menunjuk pada sosok yang putih, tinggi, rambut lurus, langsing. Kenapa yang hitam, rambut keriting, berotot dianggap tidak cantik? (karena itu banyak pemutih kulit laku di Indonesia). Bukankah sosok seperti itu adalah gambaran ideal orang Eropa?

Selengkapnya download e-Journal ELSA Nomor 1 Volume 1 Januari 2019

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here