Belajar Keberagamaan, ‘Larilah’ ke Indonesia

10979322_10203932794622236_1276038523_n

[Salatiga -elsaonline.com,] Eksplorasi keberagamaan dan perdamaian bagi generasi muda, dapat dilakukan melalui forum-forum pemuda lintas agama. Ya, penilaian ini disampaikan Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Generasi Muda, Iman Fadhilah, dalam acara “Kemah Bagi Pemuda Lintas Agama”, di Kawasan Agrowisata Salib Putih Salatiga, Jumat (6/2) malam.

“Dalam hal ini, bagaimana kita mengeksplorasikan keberagamaan dan perdamaian bagi generasi muda,” terang Iman, sapaan akrabnya. Menurut Iman, acara kemah ini diikuti sebanyak 70 pemuda lintas agama se-Jawa Tengah dan dilaksanakan hingga Minggu (8/1). Berbagai kegiatan pun diperkenalkan dengan outbond, jelajah wisata religi, pentas seni drama dan masih banyak lagi.

Sementara Mudjahirin, ketua FKUB Jawa Tengah, menambahkan, memang sangat penting forum-forum pemuda lintas agama ini dilakukan.

“Saya ingin menyampaikan beberapa hal. Kenapa justru agama-agama yang bergejolak itu yang diimpor ke Indonesia, tidak sebaliknya bahwa agama di Indonesia yang damai ini mestinya diekspor ke negara yang bergejolak,” cetus Mudjahrin.

Kalau begitu, Mudjahirin menyampaikan, kiranya diupayakan untuk indah, lalu bagaimana nanti proses menuju ke sana. Mudjahirin juga menegaskan bahwa bagaimana respon masyarakat dalam kondisi naturalnya terhadap keberagaman di Indonesia.

“Di dunia ini hal yang paling mudah membacakan doa untuk FKUB, kita cukup diam. Melalui forum-forum seperti inilah kita dapat bergerak dalam menebar perdamaian. Diluar agama ada mitologi dan sejarah, kebenaran adat adalah kesepakatan sosial, kebenaran ekspresif dimana masyarakat merasakan estetik rasa baik dan buruk,” lanjutnya.

Meskipun demikian, Mudjahirin berharap, kaum muda mampu membendung upaya-upaya radikalisasi agama yang dilakukan oleh kelompok tidak bertanggung jawab. Misalnya, imbuh dia, kelompok yang impor agama bergejolak ke Indonesia, yang justru akan mengancam keberagamaan di Indonesia.

Baca Juga  Agama dan Ruang Keterasingan: Pengalaman Diri Menjadi Perempuan

“Makanya, manusia dalam beragama memiliki dua kepentingan antara kepentingan kepada Tuhan-nya dan kepentingan bagi umatnya sendiri. Kalau mau belajar keberagamaan ‘larilah’ ke Indonesia, bukan impor agama yang tidak aman ke indonesia,” pungkasnya. (elsa-ol/Cahyono)

spot_imgspot_img

Subscribe

Artikel Terkait

Perlindungan Pembela HAM di Era Digital: Catatan untuk Revisi UU HAM

Oleh: Tedi Kholiludin Kementerian Hak Asasi Manusia (Kemenham) telah meluncurkan...

Dekolonisasi HAM: Transformasi Kultural dan Mobilisasi Politik

Salah satu kritik terhadap penegakan hukum Hak Asasi Manusia...

Dinamika Dunia Sastra di Indonesia

Secara umum (terminologi), sastra dapat dimaknai sebagai bentuk karya...

Tidak Ada Ruang Publik Gratis dan Demokratis

Oleh: Alfian Ihsan Dosen Sosiologi Universitas Jenderal Soedirman   Apakah Anda selalu...
Artikel sebelumnya
Artikel berikutnya

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini