Pemuda Lintas Agama Belajar Khonghucu

0
51

(Semarang-elsaonline.com) Pemuda Agama Khonghucu Indonesia (PAKIN) Semarang menggelar acara talk show dalam peringatan hari lahir Nabi Khongzi ke -2562, Minggu (02/1011). Acara tersebut berlangsung di aula Klenteng Besar Tay Kak Sie Jalan Gang Lombok No. 62 Kawasan Pecinan, Semarang. Pada kesempatan itu hadir sejumlah pemuda-pemudi lintas agama.

Di antaranya yang hadir dalam acara tersebut komuntas muda Kristen, Katolik, Protestan, Muslim, Hindu dan Budha se Kota Semarang. Meski tema diskusi yang diangkat adalah tentang  ”Siapakah Nabi Agama Khonghucu”, tetapi pembicaraan lebih banyak berkutat pada pengenalan Agama Khonghucu secara umum. Ini bisa dimaklumi karena audiens lebih banyak adalah peserta non-Khonghucu.

Adji Chandra (kiri) Pembicara Talkshow

Diskusi yang dilangsungkan dalam suasana cukup hangat itu disambut antusiasme peserta dalam menyimak pemaparan narasumber. ”Baru kali ini saya ikut acara dengan komunitas Khonghucu,” ujar Cahyono salah satu peserta yang juga Aktifis Lembaga Penerbitan Mahasiswa Justisia Fakultas Syariah IAIN Walisongo Semarang.

Adjie Chandra, selaku narasumber memaparkan banyak hal dalam kehidupan. Tidak hanya dalam masalah pembahasan tema tersebut. Ia juga membahas tentang kedupan manusia. ”Pada hakikatnya semua manusia itu adalah baik, tapi yang menjadikan ia menjadi apa saja adalah linkungannya” ujar ketua Majelis Agama Khonghucu (MAKIN) Solo itu. Dalam talk show tersebut juga dibuka berbagai pertanyaan untuk para peserta.

Yayan M Royani, salah satu peserta, dalam bertanya seputar penyebaran agama Khonghucu. ”Apakah dalam agama Khonghucu diajarkan tentang misi dalam penyebaran agama?” tanya aktifis Lembaga Studi Sosial dan Agama (eLSA) tersebut. Narasumber memaparkan sejarah datangnya agama Khohucu secara detail. ”Tentang penyebaran agama, memang Khonghucu datang ke Indonesia tidak melalui misi, tetapi secara tidak sengaja melalui keluarga” lanjut Adjie Chandra.

Adjie dalam kesempatan itu juga menjelaskan lambang Agama Khohucu yang berupa ular berkepala naga. ”Ular berkepala naga itu bisa melakukan berbagai gerak, diantanya berenang di air, terbang, dan melata” ujar laki-laki yang mengaku berada dalam keluarga yang beragam agama itu.

Gerak yang dilakukan oleh naga itu harus mampu ditiru oleh semua warga Khonghucu dalam arti bukan secara tekstual. Melainkan hakikat dalam kehidupan kita hasus bisa beradaptasi dengan berbagai lingkungan. Misalnya dalam berbisnis. Seorang pembisnis harus mampu beradaptasi disemua lingkungan. Karena dalam berkehiduan kita harus seirama dengan budaya yang ada dalam lingkungan tersebut. (elsa-ol)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here