Melawan Terorisme dengan Kartun

0
151

(Semarang, elsaonline.com) Sebanyak kurang lebih 50 kartunis yang tergabung dalam Semarang Cartoon Club (Secac) menggelar ngartun masal Minggu, (2/10). Acara yang digelar di sepanjang Jalan Pemuda itu diinisiasi oleh Secac sebagai respon atas dua persoalan pokok yang mendera bangsa Indonesia saat ini, terorisme dan korupsi. Untuk itu, Secac memberikan tajuk kegiatan itu “Kartun Anti Terorisme dan Korupsi”. Selain kartunis yang tergabung dalam Secac, ngartun masal juga diikuti oleh kartunis dari Papilon Studio, Pakarti (Persatuan Kartunis Indonesia) Jakarta, dan sebagainya.

Salah satu karya Kartunis Secac

Slamet Widodo, salah satu penggagas ngartun masal menjelaskan dipilihnya tema tersebut karena memang dua hal itu yang sekarang menjadi persoalan pelik bangsa Indonesia. “Ini adalah refleksi atas keprihatinan kondisi bangsa” sambung Abdullah Ibnu Thalhah, salah satu partisipan. Ini merupakan aksi spontan para kartunis, untuk mengkampanyekan gerakan anti kekerasan serta perlawanan terhadap korupsi. “Tentu saja kami melawan dengan cara kami, melalui goresan kartun” terang Thalhah, yang juga redaktur di Tabloid Mingguan Cempaka.

Menurut Thalhah, karya yang dibuat ini nantinya akan menjadi dokumentasi Secac dan dipamerkan dalam beberapa acara. “Kita juga mengagendakan pameran di kampus yang diselingi dengan diskusi-diskusi seputar dua hal tersebut” lanjut alumnus IAIN Walisongo Semarang ini.

Pengantin Teroris

Dalam kesempatan tersebut, Thalhah membuat karya yang ia beri judul “Pengantin Teroris”. Gambar tersebut merupakan kritik terhadap prilaku sekaligus ideologi teroris. Menurut Thalhah, ekspektasi para teroris tentang insentif bidadari di surga sungguh tak beralasan. Ini tentu sangat terkait dengan pemahaman para teroris, bahwa ketika mereka melakukan aksi bunuh diri sekonyong-konyong dapat memperoleh surga yang didalamnya disediakan para bidadari cantik. Dalam gambarnya, Thalhah menyandingkan seorang teroris dengan hantu perempuan. “Alih-alih dapat bidadari, justru teroris itu dapat ha

Pengantin Teroris karya Abdullah Ibnu Thalhah

ntu” canda Thalhah.

Kartunis lain, Joko Susilo menggambarkan sebuah bom yang siap mengancam bangunan di sebuah perkotaan. Di sisi lain, dia menyisipkan sang penjaga keamanan yang sedang tertidur lelap. Ketika ditanya maksud dari gambarnya, Joko mengatakan ”itu adalah potret dari ketidaksiapan kita saat menghadapi teror”.

Joko menambahkan bahwa kita kurang waspada, padahal teror itu selalu ada setiap saat. Terorisme tidak hanya mengancam nyawa manusia, tetapi juga infrastruktur ekonomi, politik, budaya dan lainnya. ”Meski tentu saja ini bukan semata-mata kesalahan aparat keamanan yang tidak siap” tutur Joko. Kasus bom bunuh diri di Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS) Solo, kata Joko juga ada unsur ketidakwaspadaan pihak gereja dalam mengantisipasi jemaat yang tak dikenal.Kartun Karya Joko Susilo

Alfa Robbi dari Papilon Studio membuat gambar koruptor yang dibelit oleh rakitan bom. ”Ini merupakan gambar yang berisi pesan, bahwa koruptor itu seharusnya mengakui perbuatannya dan pantas dihukum dengan bom bunuh diri seperti para teroris” papar Alfa. Sementara Choir dari Pakarti menggambar sosok teroris dan koruptor. Sembari menunjuk pada koruptor, sang teroris dalam gambar itu berkata lantang, ”Dia lebih teroris Bro”. Choir, mahasiswa Universitas Paramadina Jurusan Desain Komunikasi Visual menuturkan kalau gambar berpesan bahwa sesungguhnya koruptor itu lebih jahat. ”Ia lebih menyengsarakan dan membunuh rakyat lebih banyak ketimbang teroris. Meski tindakan teroris juga tidak bisa dibenarkan” pungkasnya. (elsa-ol)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here