[Semarang -elsaonline.com] Pengurus Yayasan Pemberdayaan Komunitas (YPK) ELSA menggelar rapat perdana di tahun 2026, Rabu (28/01). Bertempat di Tune In Coffee, Jalan Rinjani Gajahmungkur, Kota Semarang, 6 orang pengurus hadir pada rapat tersebut menyusun program serta aktivitas untuk satu tahun ke depan.
Meski dalam balutan santai, beberapa agenda berhasil dirumuskan. “Apa yang telah dilakukan pada 2025 direkomendasikan untuk dilanjutkan pada 2026. Salah satunya, meneruskan penulisan dan penerbitan book chapter seperti Politik Minoritas di Indonesia yang terbit pada 2025 kemarin,” Tedi Kholiludin, selaku ketua yayasan memberikan salah satu agenda.
Penerbitan book chapter secara berkala diagendakan menjadi kegiatan rutin akademik ELSA selain penerbitan laporan tahunan kehidupan keagamaan Jawa Tengah.
Laporan tahunan mengenai kehidupan keagamaan masyarakat Jawa Tengah tahun 2025, sudah selesai dikerjakan dan segera diluncurkan pada pertengahan Februari 2026. Ceprudin, penanggungjawab kegiatan launching laporan tahunan sedang memastikan tempat untuk diskusi. “Pilihan sementara, mungkin kampus. Tapi kami sementara sedang melakukan pembicaraan dengan salah satu dinas provinsi Jawa Tengah, yang juga tertarik menjadi tuan rumah,” terang pengajar di Program Doktor Ilmu Hukum Universitas 17 AGUSTUS 1945 Semarang tersebut.
Penulisan laporan tahunan pada 2025 dikerjakan oleh tenaga-tenaga baru ELSA. Proses demikian terus menerus dijaga agar sebaran pengetahuan bisa berjalan seluas mungkin.
Menjaga untuk tetap berkontribusi pada aspek data, menjadi salah satu konsen Iman Fadhilah. Wakil ketua yayasan yang juga Dekan Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) ini mengingatkan agar ELSA jangan pernah kendur mengumpulkan data. “Meski dalam bentuk yang belum terlalu matang kita analisis, data-data tersebut penting untuk dikumpulkan karena akan ada banyak pihak yang sangat berkepentingan atas data itu,” kata Iman.
Selain menjalankan program yang selama ini sudah berjalan seperti penanggulangan HIV/AIDS, memperluas dan menguatkan jejaring juga menjadi keniscayaan. Apalagi, kekuatan masyarakat sipil akhir-akhir ini sangat dibutuhkan untuk membangun keseimbangan peran negara. Pengurus ELSA lainnya, Siti Rofiah, menekankan hal ini. Rofi, yang juga pengajar di Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang melihat pentingnya membangun kemitraan terutama di level masyarakat sipil.
Rapat tersebut juga dihadiri oleh Ubbadul Adzkiya selaku Sekretaris Yayasan ELSA yang juga pendidik di Unwahas serta Putri Dwi Kirana yang bertanggungjawab mengelola keuangan ELSA.

