Alisa Wahid: Gusdurian Harus Berjuang Seperti Gus Dur

Surabaya, elsaonline.com- Jaringan Gusdurian beberapa kali mendapatkan penghargaan sebagai komunitas penggerak yang jejaringnya tersebar di seluruh wilayah Indonesia, bahkan sampai mancanegara. Penghargaan yang diterima berkaitan dengan aspek Hak Asasi Manusia (HAM), Revolusi Mental, dan bidang literasi sosial media.

Informasi mengenari deretan apresiasi itu yang diterima Jaringan Gusdurian itu disampaikan oleh Hj Alisa Qotrunnada Wahid pada saat membuka Temu Nasional (Tunas) Penggerak Gusdurian di Asrama Haji Sukolilo Surabaya, Jumat (14/10).

“Gusdurian mendapat anugerah penghargaan, pada tahun 2018 sebagai penggerak human right, revolusi mental pada 2020, dan 2021 mendapat best sosial media movement masa pandemi,” beber Alisa.

Alisa Wahid, Koordinator Jaringan Gusdurian, mengucapkan terimakasih kepada pelbagai pihak yang hadir pada kegiatan tahunan tersebut. Diantara tamu undangan yang mengikuti pembukaan Tunas Gusdurian antara lain, Kapolres Surabaya Kombes Pol Akhmad Yusep Gunawan, Khofifah I Parawansa Gubernur Jawa Timur, dan Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kakanwil Kemenag) Provinsi Jawa Timur, Husnul Maram.

“Terima kasih atas kerawuhan para tamu undangan dan para Gusdurian dari seluruh penjuru daerah,” ucap Alisa.

Hal penting yang disampaikan Alissa Wahid bahwa Gusdurian sudah berjalan, bergerak, dan berjuang selama dua belas tahun. Gusdurian bergerak dan berjuang tidak menunggu uang datang, atau fasilitas tersedia. Ia mengaku bahwa tidak pernah memberi uang kepada komunitas dan begitu sebaliknya.

“Yang saya tahu SDM (Sumberdaya Manusia, red) kita banyak, tetapi masalah juga banyak, kita sudah bergerak selama 12 tahun, tidak bekerja tidak menunggu fasilitas, bekerja tidak pernah adanya uang, saya tidak pernah memberi uang dan teman-teman tidak pernah juga saya mintai uang,” terang Alisa.

Alisa menyampaikan, tanpa disadari, Gusdurian sudah seperti satpamnya Indonesia, yang dapat merawat kebinekaan, persaudaraan, dan perdamaian.

Baca Juga  Paceklik Kentang Irlandia dan The Fields of Athenry

“Kita harus bergerak meskipun kita tidak tahu apakah membuahkan hasil atau tidak. Seperti perjuangan Gus Dur, berjuang meskipun tidak menikmati kemenangan. Gus Dur memiliki banyak pengaruh di dunia dan perjuangan yang dilakukannya sangat luar biasa. Maju selangkah mundur dua langkah. Atas dorongan para pecinta Gus Dur, harus ada yang melanjutkan perjuangan beliau dan bisa menjadi perlindungan bagi mereka yang membutuhkan,” tegas Alisa.

“Gusdurian tidak terbatas usia, jika ada yang bawa bayi, maka anak tersebut sudah menjadi Gusdurian sudah sejak dini. Pada awalnya, di tahun 2012, Gusdurian hanya berjumlah 100-an orang pada tingkat nasional. Dan hari ini hadir 1300 orang dari berbagai daerah,” pungkasnya. (Jaedin)

spot_imgspot_img

Subscribe

Artikel Terkait

Perlindungan Pembela HAM di Era Digital: Catatan untuk Revisi UU HAM

Oleh: Tedi Kholiludin Kementerian Hak Asasi Manusia (Kemenham) telah meluncurkan...

Dekolonisasi HAM: Transformasi Kultural dan Mobilisasi Politik

Salah satu kritik terhadap penegakan hukum Hak Asasi Manusia...

Dinamika Dunia Sastra di Indonesia

Secara umum (terminologi), sastra dapat dimaknai sebagai bentuk karya...

Tidak Ada Ruang Publik Gratis dan Demokratis

Oleh: Alfian Ihsan Dosen Sosiologi Universitas Jenderal Soedirman   Apakah Anda selalu...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini