Berpuasa Tidak Boleh Minta Dihormati

Siti Rofiah
Siti Rofiah
[Semarang –elsaonline.com] Bulan ramadlan itu bulan untuk mengevaluasi diri. Allah berfirman bahwa puasa adalah milik-Nya, ini artinya orang yang berpuasa sedang berlatih meneladani sifat-sifat ketuhanan. Dengan tidak makan dan tidak minum pada siang hari berarti orang itu meneladani Tuhan yang tidak makan dan tidak minum. Dengan tidak melakukan hubungan suami istri pada siang ramadlan berarti as-shoim (orang yang berpuasa, red) sedang meneladani sifat Tuhan yang lam yalid wa lam yulad (tidak melahirkan dan tidak dilahirkan, red).

Hal itu disampaikan oleh Siti Rofiah (28), aktifis Pengurus Wilayah (PW) Fatayat Nahdlatul Ulama (NU) Jawa Tengah dalam acara pengajian rutin bulanan Jam’iyyah al-Munawaroh di Waroeng Steak Jl. Kelud Sampangan Semarang, baru-baru ini.

Menurut perempuan lulusan Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta itu, dengan berlatih meneladani sifat-sifat ketuhanan orang yang berpuasa diharapkan pada dirinya tercermin sifat-sifat ketuhanan lainnya yang berdampak pada nilai-nilai kemanusiaan, yakni tumbuh sifat ar-rahman dan ar-rahim (menyayangi terhadap semua makhluk di muka bumi), al-khaliq (produktif), dan al-ghafur (pemaaf).

Selain menyampaikan hikmah-hikmah berpuasa, perempuan pegiat penanggulangan HIV dan AIDS itu juga menjelaskan bahwa menghormati bulan ramadlan bukan berarti memaksa orang untuk menutup warung atau tidak makan pada siang bulan ramadlan. “Puasa itu ibadah vertikal, hubungan antara manusia dengan Tuhan. Jadi harus menggunakan kesadaran dan kemauan diri, bukan dengan paksaan. Memaksa orang lain untuk menutup warung atau tidak makan pada siang ramadlan dengan dalih menghormati ramadlan itu salah. Apalagi dengan alasan untuk menghormati orang yang berpuasa, itu sama sekali tidak benar. Orang yang minta dihormati saat berpuasa itu tanda puasanya tidak ikhlas,” jelasnya.

Baca Juga  Sekolah Warga Negara, Generasi Muda Ahlul Bait Diajak Fokus Manfaatkan Potensi

Bagi perempuan yang juga aktif di Lembaga Studi Sosial dan Agama (eLSA) itu, orang yang berpuasa tidak boleh minta dihormati karena puasa adalah ibadah personal yang pelakunya harus tahan menghadapi godaan. “Kalau kita berpuasa terus kita minta orang lain menghormati, tidak makan minum di hadapan kita, warung harus ditutup, itu berarti puasa kita seperti anak kecil, cengeng. Puasa itu ya untuk melawan hawa nafsu, artinya menahan diri dari godaan,” tuturnya dengan santun. [elsa-ol/KA-@khoirulanwar_88]

spot_imgspot_img

Subscribe

Artikel Terkait

Sosiologi Agama Metamodern

Oleh: Tedi Kholiludin Bagaimana arah studi (sosiologi) agama dalam kerangka...

Masa Depan Teori Setelah Kritik: Tentang Ontologi Sosial Proses

Oleh: Tedi Kholiludin Saya sedang membaca buku yang terbit tahun...

Hadir Tanpa Menetap: Tentang Absence

Belakangan ini saya sedang tertarik menelaah gagasan filsuf asal...

Dari Administrasi hingga Transformasi Organisasi

Memasuki dasawarsa kedua sejak kelahirannya, Yayasan Pemberdayaan Komunitas (YPK)...

GPIB DAN RELASI GEREJA-NEGARA DI INDONESIA

Kajian mengenai relasi gereja dan negara merupakan tema yang...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini