Bukan Hanya Pusat Ibadah, Gereja adalah Pusat Kehidupan Sosial

[Semarang-elsaonline.com] Yayasan Lembaga Studi Sosial dan Agama (ELSA) mencoba untuk terus konsisten memperkuat kerukunan serta toleransi antarumat beragama di Indonesia. Salah satu upaya kecil yang terus berusaha dijaga adalah berbagi pengalaman dengan berbagai kelompok agama. pada satu kesempatan, ELSA melakukan kunjungan dan silaturahmi ke Gereja Katolik St. Theresia Bongsari, Senin (28/10/2024). Pimpinnan ELSA, Tedi Kholiludin bersama dua volunteer, Adri Gunawan dan Dimas Hani Kusuma menyambangi gereja dan disambut hangat oleh Romo Eduardus Didik SJ, Pastor Kepala di Gereja Bongsari.

Dalam pertemuan tersebut, mereka membahas berbagai topik, mulai dari sejarah berdirinya Gereja Katolik St. Theresia Bongsari hingga perkembangan terkini kerukunan antarumat beragama di Indonesia. Percakapan yang dilakukan di ruang kerja Romo Eduardus Didik SJ menjadi sarana bagi kedua belah pihak untuk bertukar pikiran dan memperdalam pemahaman tentang pentingnya hidup berdampingan dalam keragaman keyakinan.

“Kami merasa senang bisa berkunjung ke Gereja Katolik St. Theresia Bongsari dan berdialog dengan Romo Eduardus Didik SJ,” ujar Tedi Kholiludin, Direktur Yayasan ELSA.

Romo Eduardus Didik SJ yang juga menjabat sebagai Ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang menyambut baik kehadiran tim ELSA dan menyampaikan harapannya akan terciptanya lebih banyak dialog lintas agama. “Kunjungan seperti ini sangat berarti. Selain mempererat hubungan antarumat beragama, kegiatan ini juga membuka peluang untuk memahami berbagai perspektif dalam upaya mewujudkan masyarakat yang harmonis,” ungkapnya.

Selain berdiskusi, tim ELSA juga berkesempatan mengelilingi Gereja Katolik St. Theresia Bongsari dan melihat langsung bagaimana kegiatan sosial di lingkungan sekitar. Gereja ini bukan hanya pusat ibadah, tetapi juga pusat sosial yang kerap terlibat dalam kegiatan masyarakat sekitar, sehingga memberikan contoh kerukunan yang dihidupi sehari-hari.

Baca Juga  Pengutamaan, Salah Satu Bentuk Diskriminasi

Volunteer ELSA, Dimas Hani Kusuma, menyampaikan kesannya terhadap kunjungan tersebut. “Dialog ini memberikan pengalaman yang berharga bagi kami. Belajar langsung dari para pemuka agama membantu kami memahami betapa pentingnya saling menghargai dan bekerja sama dalam menciptakan kedamaian di masyarakat yang beragam,” ujar Dimas.

Di akhir sesi tersebut Romo Eduardus Didik SJ berpesan tentang keberadaan umat beragama di seluruh Indonesia “Masyarakat Indonesia masih menghayati hidup keagamaan dengan baik, kami berharap, kita semua bisa, menghayati nilai-nilai keagamaan dan kemudian bisa mengaktualisasikan hidup keagamaanya” Ucapnya saat di wawancarai tim ELSA. (Adri Gunawan)

spot_imgspot_img

Subscribe

Artikel Terkait

Hukum Lingkungan Internasional

Angin tidak punya KTP, sehingga kalau pencemaran udara terjadi...

Onderdistrict Tjilimoes

Buku ini berangkat dari pertanyaan sederhana, bagaimana perubahan yang...

Yaumul Quds: Politik Simbol dan Emosi Kolektif dalam Solidaritas Palestina

Oleh: Tedi Kholiludin Jarum jam belum genap menunjuk pukul 14.00...

EN (?): Konsep Ikatan Tak Terlihat dalam Budaya Jepang

Oleh : Iwan Madari (Pemerhati Kebudayaan Jepang) elsaonline.com Dalam hidup,...

Malam di Darut Taqrib: Duka, Solidaritas dan Harapan Dialog

Kami duduk bersama di bagian depan luar sebuah...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini